PT Acset Indonusa dituntut denda Rp750 juta pada kasus korupsi Tol MBZ

PT Acset Indonusa dituntut denda Rp750 juta pada kasus korupsi Tol MBZ

Jakarta (ANTARA) – Terdakwa korporasi, PT Acset Indonusa dituntut pidana denda sebesar Rp750 juta terkait kasus dugaan korupsi pembangunan jalan tol layang Sheikh Mohammed bin Zayed (MBZ) Japek II Elevated Ruas Cikunir-Karawang Barat.

“Menuntut agar terdakwa PT Acset dinyatakan telah terbukti secara Absah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dakwaan Primer,” ucap jaksa penuntut Standar (JPU) dari Kejaksaan Mulia Widya Sihombing dalam sidang pembacaan surat tuntutan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakpus, Rabu.

JPU menuturkan apabila PT Acset Kagak membayar denda tersebut dalam jangka waktu satu bulan setelah putusan majelis hakim berkekuatan hukum tetap maka Mal Punya terdakwa korporasi dapat disita dan dilelang Buat menutupi pidana denda.

Dalam hal kekayaan atau pendapatan korporasi Kagak mencukupi Buat pelunasan pidana denda, sambung JPU, korporasi dikenai pidana pengganti berupa pembekuan sebagian atau seluruh kegiatan usaha korporasi.

Selain pidana denda, JPU juga menuntut agar PT Acset dihukum dengan pidana tambahan berupa pembayaran Dana pengganti atas kerugian keuangan negara yang dinikmati korporasi sejumlah Rp179,99 miliar.

Pembayaran tersebut dengan memperhitungkan Mal Punya PT Acset yang telah disita sejumlah kerugian negara, yang telah disetor dan dititipkan melalui rekening Biaya sitaan pemerintah.

Dengan demikian, JPU meyakini PT Acset telah bersalah melanggar Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sebelum melayangkan tuntutan, JPU mempertimbangkan beberapa keadaan memberatkan dan meringankan. Hal memberatkan, yakni PT Acset Kagak mendukung pemerintah dalam rangka penyelenggaraan negara yang Kudus dan bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).

“Sementara hal-hal yang meringankan yang dipertimbangkan, Adalah terdakwa korporasi bersikap kooperatif dan belum pernah dihukum,” ungkap JPU menambahkan.

Dalam kasus tersebut, PT Acset Indonusa didakwa memperkaya diri senilai Rp179,99 miliar melalui kerja sama operasi (KSO) Waskita Acset, Serempak-sama dengan para terpidana terkait kasus tersebut, yakni Dono Parwoto, Djoko Dwijono, Yudhi Mahyudin, Toni Sihite dan Sofiah Balfas.

Dugaan memperkaya korporasi PT Acset tersebut terjadi dalam pekerjaan pembangunan (design and build) jalan Tol Jakarta – Cikampek II Elevated Ruas Cikunir Tamat dengan Karawang Barat (Stationing/STA 9+500 Tamat STA 47+500).

Akibat tindakan memperkaya korporasi dengan nilai sebesar Rp179,99 miliar, PT Acset didakwa terlibat merugikan keuangan negara secara total sebesar Rp510,08 miliar dalam kasus itu.

Secara perinci, kerugian negara meliputi Rp347,79 miliar akibat kekurangan volume pada pekerjaan struktur beton, Rp19,54 miliar akibat kekurangan mutu slab beton, serta Rp142,75 miliar akibat kekurangan volume pada pekerjaan steel box girder atau balok kotak baja.

Kerugian itu sesuai dengan Laporan Hasil Audit Penghitungan Kerugian Keuangan Negara atas dugaan Tindak Pidana Korupsi pada Pekerjaan Pembangunan (Design and Build) Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Elevated Ruas Cikunir Tamat dengan Karawang Barat (STA 9+500 Tamat STA 47+500) Termasuk On/Off Ramp pada Simpang Susun Cikunir dan Karawang Barat.

Atas perbuatannya, PT Acset didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.