Presiden Amerika Perkumpulan, Donald Trump, mengatakan AS akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran, atas permintaan Pakistan, dan akan melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Gedung Putih juga telah mengonfirmasi bahwa perjalanan Wakil Presiden JD Vance ke Pakistan Demi perundingan perdamaian telah dibatalkan. Vance sebelumnya dijadwalkan Demi kembali ke Islamabad Demi menghadiri perundingan damai putaran kedua dengan Iran mengingat gencatan senjata berakhir pada Rabu (22/04).
Berikut pernyataan Trump di media sosial:
Berdasarkan fakta bahwa pemerintah Iran Begitu ini terpecah secara serius—yang Bukan terduga—dan atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir serta Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, kami telah diminta Demi menunda serangan kami terhadap negara Iran Tiba para pemimpin dan perwakilan mereka dapat menghasilkan sebuah proposal yang bersatu. Oleh karena itu, saya telah mengarahkan militer kami Demi melanjutkan blokade dan, dalam Sekalian hal, tetap siaga dan Bisa, serta dengan demikian akan memperpanjang gencatan senjata Tiba proposal tersebut diajukan dan pembahasan disimpulkan, dengan satu atau lain Metode.
Trump Bukan secara rinci menyebutkan Tiba Ketika gencatan senjata berlaku. Dia hanya mengatakan bahwa ia memberikan Iran lebih banyak waktu Demi mengajukan sebuah “proposal yang bersatu” guna mengakhiri perang.
Ini menandai kedua kalinya dalam dua minggu Trump mundur dari ancaman Demi meningkatkan eskalasi perang.
Tetapi demikian, blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tetap diberlakukan.
Pemerintah dan militer Iran Menyantap hal ini sebagai tindakan perang, dan kemungkinan besar hal tersebut akan tetap menjadi penghambat bagi perundingan ke depan.
Iran dapat memilih Demi meningkatkan eskalasi, atau melanjutkan semacam “perang dingin” di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Sejak blokade dimulai, Laskar AS telah mengarahkan 27 kapal Demi berbalik arah atau kembali ke pelabuhan Iran, menurut Komando Pusat AS (Centcom).
AS juga mencegat dan menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran Demi pertama kalinya dalam konflik ini, setelah kapal tersebut mencoba menembus blokade pada Minggu (19/04).
Trump menulis di platform Truth Social miliknya bahwa kapal Touska disita oleh Angkatan Laut AS setelah gagal merespons peringatan Demi berhenti. Iran belum memberikan komentar mengenai insiden tersebut.
“Hari ini, sebuah kapal kargo berbendera Iran bernama TOUSKA, dengan panjang Dekat 900 kaki dan berat Dekat setara dengan kapal induk, mencoba menerobos blokade laut kami, dan hal itu Bukan berjalan Berkualitas bagi mereka,” tulis Trump.
Dia menambahkan bahwa AS telah memberikan peringatan yang adil agar kapal tersebut berhenti, Tetapi diabaikan, “sehingga kapal Angkatan Laut kami menghentikan mereka Akurat di tempat dengan menembakkan lubang ke ruang mesin”.
“TOUSKA berada di Rendah Hukuman Departemen Keuangan AS karena riwayat aktivitas ilegal sebelumnya. Kami sepenuhnya menguasai kapal tersebut dan sedang Menonton apa isi muatannya!”
Iran sendiri telah mempertahankan blokadenya di Selat Hormuz, jalur pelayaran Krusial, selama Dekat dua bulan — menyebabkan harga Daya Mendunia melonjak.
Pada Sabtu (18/04), militer Iran kembali menutup Selat Hourmuz hanya beberapa jam setelah sempat dibuka secara terbatas.
Iran mengatakan akan kembali membuka jalur strategis dunia tersebut Tiba AS mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Teheran, apa yang mereka sebut “pelanggaran gencatan senjata.
Begitu ini Iran mengatakan “sedang meninjau” usulan-usulan baru yang diajukan Washington.
Berikut kronologi negosiasi antara AS dan Iran yang diketahui sejauh ini:
28 Februari: Konflik meletus setelah AS dan Iran melancarkan serangan ke Iran seiring dengan gagalnya perundingan diplomatik.
6 Maret: Trump mengatakan Bukan akan Terdapat kesepakatan “kecuali penyerahan diri tanpa syarat” dari Iran.
21 Maret: Trump menetapkan batas waktu, mengancam akan menyerang infrastruktur Daya Iran kecuali negara itu bersedia membuka Selat Hormuz.
23 Maret: Trump menunda batas waktunya, dengan Argumen telah terjadi “percakapan yang produktif” — hal ini disusul oleh serangkaian penundaan ancaman lainnya.
7 April: Trump mengancam “sebuah peradaban akan punah” Apabila selat tersebut Bukan dibuka sebelum batas waktu berikutnya.
8 April: Pakistan, yang bertindak sebagai Penghubung, mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu antara AS dan Iran guna memungkinkan dilakukannya pembicaraan lebih lanjut.
11 April: Jajaran pejabat senior AS dan Iran, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Berjumpa di Pakistan. Setelah 21 jam perundingan yang alot, Washington dan Teheran belum mencapai kesepakatan mengenai sejumlah poin krusial.
12 April: Trump mengumumkan pemblokiran pelabuhan-pelabuhan Iran.
17 April: Menlu Iran, Abbas Araghchi mengatakan selat tersebut akan tetap terbuka selama sisa masa gencatan senjata. Tetapi, Trump mengatakan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan Lanjut berlanjut.
18 April: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan akan kembali memblokir selat tersebut. Trump mengatakan bahwa “pembicaraan yang sangat Berkualitas” sedang berlangsung, tetapi AS Bukan akan Dapat “diancam” terkait jalur pelayaran tersebut.
Sejumlah media pemerintah Teheran menyebutkan, militer Iran kembali mengambil alih kendali Selat Hormuz.
Kantor Informasi Fars, yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Serempak Iranian Students News Agency dan lembaga penyiaran negara IRIB, mengutip pernyataan IRGC yang menyebutkan bahwa selat tersebut akan kembali ke “kondisi sebelumnya”.
Dalam pernyataan itu, militer Iran menuduh Amerika Perkumpulan melakukan “pembajakan” dan “blokade” sama dengan perampokan maritim.
Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memimpin delegasi Iran dalam perundingan terbaru dengan AS di Islamabad, mengatakan di X bahwa dengan “berlanjutnya blokade [AS]”, selat tersebut “Bukan akan tetap terbuka”.
Seiring munculnya pengumuman tersebut, sebuah kapal tanker yang berada di Selat Hormuz dilaporkan diserang dua kapal Segera bersenjata yang dioperasikan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran, menurut lembaga UK Maritime Trade Operations (UKMTO).
Insiden itu terjadi Sekeliling 20 mil laut di timur laut Oman. UKMTO menambahkan bahwa kapal tanker dan awaknya dilaporkan dalam kondisi selamat.
Secara terpisah, setidaknya dua kapal dagang terkena tembakan Begitu mencoba melintasi Selat Hormuz, menurut tiga sumber yang dikutip kantor Informasi Reuters.
Beberapa kapal dagang menerima pesan radio dari Angkatan Laut Iran yang menyatakan bahwa Selat Hormuz kembali ditutup, menurut sumber-sumber pelayaran yang dikutip Reuters.
Sumber-sumber tersebut menambahkan bahwa Angkatan Laut Iran memberi Paham kapal-kapal tanker bahwa Bukan Terdapat kapal yang diizinkan melintas melalui Selat Hormuz.
Sejumlah kapal tampaknya telah mengubah rute sejak media pemerintah Iran menyebut bahwa militer Iran kembali menutup Selat Hormuz.
Pengumuman bahwa militer Iran kembali menutup Selat Hormuz mengemuka hanya sehari setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan Selat Hormuz “sepenuhnya terbuka” selama “sisa masa gencatan senjata”.
Dalam keterangannya yang diumumkan di X, pada Jumat (17/04), Araghchi menulis:
“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur pelayaran bagi Sekalian kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka selama sisa masa gencatan senjata, melalui rute terkoordinasi sebagaimana telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran.”
Presiden AS Donald Trump kemudian mengunggah pernyataan di Truth Social:
“IRAN BARU SAJA MENGUMUMKAN BAHWA SELAT IRAN SEPENUHNYA TERBUKA DAN SIAP Demi Lewat LINTAS PENUH. TERIMA KASIH!”
Dalam unggahan berikutnya, Trump menulis:
“Tetapi BLOKADE ANGKATAN LAUT AKAN TETAP DIBERLAKUKAN SEPENUHNYA DAN EFEKTIF TERHADAP IRAN SAJA, Tiba TRANSAKSI KAMI DENGAN IRAN SELESAI 100%.”
“PROSES INI Sepatutnya BERJALAN SANGAT Segera KARENA SEBAGIAN BESAR POIN SUDAH DINEGOSIASIKAN. TERIMA KASIH ATAS PERHATIAN ANDA TERHADAP MASALAH INI! PRESIDEN DONALD J. TRUMP.”
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan bahwa “apakah selat itu terbuka atau tertutup serta regulasi yang mengaturnya akan ditentukan di lapangan, bukan di media sosial.”
Stasiun televisi pemerintah Iran mengutip seorang “pejabat militer senior” yang mengatakan bahwa pelayaran kapal-kapal komersial akan melalui “rute yang telah ditetapkan” dan bahwa pelintasan kapal militer melalui selat itu tetap “dilarang”.
Pernyataan ini kemungkinan merujuk pada sebuah peta dan dua rute yang ditetapkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Peta tersebut disebarluaskan oleh media Iran pada pekan Lewat.
Sejumlah perusahaan pelayaran mengaku Lagi memverifikasi apakah kapal-kapal komersial dapat melintasi selat tersebut secara Terjamin.
“Saya memerlukan Penerangan lebih lanjut bahwa Bukan akan Terdapat risiko bagi kapal-kapal Demi bernavigasi dan bahwa semuanya akan sesuai dengan hukum Dunia,” kata Arsenio Dominguez, kepala Organisasi Maritim Dunia (IMO), kepada BBC World Business Report.
IMO mendapat informasi beberapa kapal mulai berlayar melintasi Selat Hormuz, Tetapi Lagi perlu memverifikasinya karena “beberapa kapal mematikan sistem identifikasi mereka agar Bukan menjadi sasaran,” katanya.
Cormac McGarry, direktur keamanan maritim di firma konsultan Control Risks, mengatakan bahwa ia “Bukan lebih optimistis dibandingkan kemarin” mengenai dibukanya kembali selat tersebut, meskipun Terdapat pengumuman dari Menlu Iran.
Cormac mengatakan kepada program BBC 5 Live Drive bahwa pernyataan tersebut “pada dasarnya Bukan mengubah apa pun” karena ancaman implisit berupa ranjau Lagi Terdapat.
“Begitu ini, berbagai skenario terlihat cukup suram bagi pelayaran dalam beberapa pekan ke depan,” tambah McGarry.
Pada Senin (13/04), militer Amerika Perkumpulan mulai memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran guna membuka Selat Hormuz.
Komando Pusat Amerika Perkumpulan (US Central Command/CENTCOM) menyatakan bahwa blokade tersebut dilaksanakan atas perintah Presiden Donald Trump. Operasi ini bertujuan mencegah kapal-kapal berlayar menuju atau keluar dari pelabuhan Iran di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman—di sebelah timur Selat Hormuz.
Sementara itu, Iran telah memperingatkan bahwa Bukan Terdapat pelabuhan di kawasan tersebut yang akan Terjamin apabila keamanan Iran terancam.
Berdasarkan pemberitahuan yang dikeluarkan CENTCOM kepada para pelaut dan dilaporkan oleh kantor Informasi Reuters, kapal yang masuk atau meninggalkan Kawasan yang diblokade tanpa izin akan dicegat, dialihkan, hingga ditahan.
Meski demikian, kapal pengangkut makanan dan obat-obatan tetap diizinkan melintas, dengan catatan harus melalui proses pemeriksaan.
Imej satelit memperlihatkan, kapal induk USS Abraham Lincoln telah bersiaga di bagian timur Teluk Oman, Sekeliling 200km sebelah selatan perairan Iran, sejak Sabtu (11/04).
Selain menempatkan kapal induk, militer AS mengerahkan dua kapal perusak yang mengangkut rudal kendali.
Sebelumnya, Presiden Amerika Perkumpulan, Donald Trump, mengancam pemberlakuan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran setelah para perunding dari kedua pihak gagal mencapai kesepakatan di Islamabad Demi mengakhiri perang.
“Bukan seorang pun yang membayar pungutan ilegal akan mendapat jalur Terjamin di laut lepas,” tulis Trump di Truth Social.
Dia juga menyatakan bahwa AS akan Lanjut membersihkan ranjau di Selat Hormuz guna menjamin keamanan pelayaran kapal-kapal sekutu.
Militer AS, tambahnya, berada dalam posisi “siap tempur” dan siap melanjutkan serangan terhadap Iran pada “waktu yang Akurat”.
Apa reaksi China atas langkah AS?
Pemerintah China menyebut blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai tindakan “Bukan bertanggung jawab dan berbahaya”.
Kementerian Luar Negeri Beijing menilai langkah tersebut akan “melemahkan kesepakatan gencatan senjata yang sudah Ringkih” sekaligus semakin mengancam keselamatan kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Sejauh ini, kapal-kapal China termasuk di antara sedikit yang berhasil melewati selat tersebut.
Belum Terang apakah China harus membayar biaya tertentu kepada Iran Demi Dapat melintas.
Blokade AS berpotensi memutus pasokan bagi China dan menimbulkan Pengaruh luas terhadap perekonomiannya.
“China percaya bahwa hanya dengan mencapai gencatan senjata menyeluruh dan mengakhiri perang, kita dapat secara Esensial menciptakan kondisi Demi meredakan situasi di selat,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.
Dia menambahkan, “China mendesak Sekalian pihak Demi mematuhi pengaturan gencatan senjata, berfokus pada arah Lumrah dialog dan perundingan damai, mengambil langkah Konkret Demi mendorong peredaan ketegangan regional, serta memulihkan Lewat lintas normal di selat sesegera mungkin.”
Apa reaksi Iran?
Pernyataan terbaru datang dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang mengatakan bahwa AS dan Iran sebenarnya “tinggal selangkah Kembali” mencapai kesepakatan dalam perundingan damai di Pakistan.
Tetapi, menurutnya, Teheran kemudian Malah dihadapkan pada sikap “maksimalis, perubahan tuntutan yang Lanjut-menerus, serta ancaman blokade”.
Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran yang memimpin perundingan di Pakistan, menyindir keputusan AS tersebut.
Dalam unggahan di platform X, dia menulis:
“Nikmati Bilangan harga di pompa Begitu ini. Dengan apa yang disebut ‘blokade’ itu, tak lelet Kembali kalian akan bernostalgia dengan harga bensin 4–5 dolar AS.”
Dalam pernyataan sebelumnya yang dimuat media-media Iran, Ghalibaf juga menegaskan bahwa Iran Bukan akan “menyerah di Rendah ancaman”.
Menanggapi ancaman Presiden AS Donald Trump sebelumnya Demi memblokade “setiap dan Sekalian kapal” yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz, angkatan laut Iran menyatakan bahwa setiap kapal militer yang mendekati jalur perairan tersebut akan ditangani secara “keras”.
Apa yang dikatakan Trump tentang blokade pelabuhan Iran?
Dalam unggahan di Truth Social pada Minggu (12/04), Trump mengatakan bahwa AS akan mulai “MEMBLOKADE setiap dan Sekalian kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz”.
“Saya juga telah menginstruksikan Angkatan Laut kami Demi mencari dan mencegat setiap kapal di perairan Dunia yang telah membayar pungutan kepada Iran. Bukan seorang pun yang membayar pungutan ilegal akan Mempunyai jalur Terjamin di laut lepas,” kata Trump.
Ia menambahkan bahwa AS juga akan mulai menghancurkan ranjau yang menurutnya telah diletakkan Iran di selat tersebut.
“Setiap orang Iran yang menembaki kami, atau kapal-kapal damai, akan DILEDAKKAN KE NERAKA!” lanjutnya.
Trump mengatakan bahwa “pada suatu titik” kesepakatan tentang jalur lintas bebas akan tercapai, tetapi “Iran Bukan mengizinkan hal itu terjadi hanya dengan mengatakan, ‘Mungkin Terdapat ranjau di suatu tempat di luar sana,’ yang Bukan diketahui siapa pun selain mereka”.
Ia menambahkan dalam unggahan lain bahwa “Iran berjanji membuka Selat Hormuz, dan mereka dengan sadar gagal melakukannya”.
“Seperti yang mereka janjikan, mereka sebaiknya mulai proses MEMBUKA JALAN AIR Dunia INI DAN Segera!” katanya.
Dalam sebuah unggahan di X, Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan pasukannya akan mulai menerapkan blokade pada Senin (13/04) pukul 10.00 EDT (21.00 WIB).
“Blokade akan ditegakkan secara Bukan memihak terhadap kapal dari Sekalian negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan dan Kawasan pesisir Iran, termasuk Sekalian pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman,” katanya.
Centcom menambahkan bahwa Laskar AS Bukan akan menghambat kebebasan kapal yang transit ke dan dari pelabuhan non-Iran, dan bahwa informasi tambahan akan diberikan kepada pelaut komersial melalui pemberitahuan Formal sebelum blokade dimulai.
Trump mengatakan bahwa negara-negara lain akan terlibat dalam pemblokadean selat tersebut, tetapi Bukan menyebutkan negara mana.
