Waktu membaca: 13 menit
Pemutaran Gambar hidup Pesta Babi yang bercerita tentang Pendayagunaan lingkungan, khususnya di Papua, dibubarkan paksa di sejumlah daerah. Di tengah situasi ini, permintaan pemutaran filmnya Bahkan makin meningkat hingga ribuan, kata sang Pengarah adegan Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale.
Dandhy Dwi Laksono menggambarkan situasi ini sebagai bentuk “menguji demokrasi kita”. “Makin ditekan akan makin kami perpanjang musim nobarnya (nonton bareng),” katanya.
Sementara, Cypri mengatakan, “Pesta Babi bukan Gambar hidup Demi ditonton saja dengan mata. Pesta Babi adalah Gambar hidup yang menuntut jawaban”.
Watchdoc melaporkan setidaknya 21 kali “intimidasi serius” selama pemutaran Gambar hidup Pesta Babi di berbagai daerah di Indonesia. Intimidasi ini berupa telepon pihak keamanan, dipantau langsung intelijen keamanan, permintaan identitas penyelenggara hingga tindakan pembubaran acara secara paksa.
Insiden intimidasi terhadap pemutaran Gambar hidup ini mendapat perhatian dari parlemen. Ketua DPR, Puan Maharani mengaku baru mendengar “isi dan judul Gambar hidup dari Gambar hidup tersebut tentu saja sensitif”.
Ia mengatakan, insiden pembubaran nobar Gambar hidup Pesta Babi akan dibahas. “Kami akan tindaklanjuti di DPR,” katanya.
Menteri HAM, Natalius Pigai juga menolak pembubaran dan pelarangan pemutaran Gambar hidup Pesta Babi. Kata dia, Pelarangan pemutaran Gambar hidup baru Pandai dilakukan melalui putusan pengadilan.
“Pelarangan itu hanya boleh melalui keputusan pengadilan. Apakah Terdapat keputusan pengadilan? Enggak. Berarti kan Enggak boleh (seperti itu),” katanya.
Terdapat apa di balik Gambar hidup Pesta Babi? Berikut hal-hal yang perlu diketahui.
Pesta Babi Gambar hidup tentang apa?
Gambar hidup Pesta Babi bercerita tentang perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan—terutama Etnis Malind, Yei, Awyu, dan Muyu—dalam melawan proyek besar pemerintah dan korporasi yang mengubah hutan serta tanah adat mereka menjadi kawasan industri sawit, tebu, dan proyek pangan skala besar.
Gambar hidup ini memperlihatkan masyarakat adat mempertahankan tanah leluhur mereka di tengah tekanan besar Pengembangan industri dan pengerahan aparat keamanan.
Gambar hidup ini juga diperkaya penelusuran data kepemilikan atau afiliasi bisnis perkebunan sawit dan tebu di Area tersebut. Sekaligus menunjukkan segelintir orang yang menerima manfaat utamanya.
Gambar hidup dokumenter Pesta Babi (2026) adalah Gambar hidup garapan bareng WatchDoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, Jubi.id, Greenpeace dan LBH Papua Merauke. Sutradaranya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Dale.
Gambar hidup ini pertama kali diputar dalam gala premiere di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 12 April. Demi pra-peluncuran digelar di Tanah Papua, Selandia Baru dan Australia pada Maret.
Penonton dari pemutaran perdana Gambar hidup Pesta Babi di Jakarta, Wini Angraeni memberi impresi pada Gambar hidup ini.
“Di Gambar hidup ini kita dipertunjukkan bagaimana pemerintah itu dengan PSN (Proyek Strategis Nasional), yang katanya Demi kepentingan rakyat, Rupanya sangat arogan,” katanya.
Wini menilai Gambar hidup ini mencerminkan banyak kasus konflik agraria di Indonesia yang berkaitan dengan proyek pemerintah apa yang ia sebut “kurang Terdapat dialog”. “Tapi memang lebih masif yang di Papua ini,” katanya.
Apakah Gambar hidup Pesta Babi provokatif?
“Berlebihan itu sih,” kata Wini. Ia menantang pihak yang menganggap Gambar hidup ini provokatif Demi menontonnya langsung.
“Ini kan karya dokumenter ya, karya seni juga. Ya sudah, kalau misalnya Terdapat yang merasa Enggak Betul, bukalah ruang-ruang dialog,” tandasnya.
Di sisi lain, sang Pengarah adegan Cypri Dale menegaskan Gambar hidup Pesta Babi bukan sekadar tontonan semata. Kata dia, Gambar hidup ini “menuntut jawaban” atas persoalan yang Demi ini terjadi di Papua.
“Karena itu harus Gambar hidup ini Demi didiskusikan, dibicarakan dan Demi dicarikan solusinya. Karena itu Perhimpunan nobar kita ini sangat demokratis dari komunitas Demi komunitas kita menghubungkan titik-titik solidaritas ini termasuk orang membicarakan masalah dari tempatnya sendiri,” kata Cypri.
Apa tujuan yang Mau dicapai dari produksi Gambar hidup Pesta Babi?
“Biar orang Mengerti saja apa yang terjadi di Papua,” kata Dandhy Dwi Laksono.
Pria yang ikut menggarap Gambar hidup Dirty Vote I dan II, mencatat setidaknya tiga persoalan besar Demi ini terjadi di Papua, tapi jarang menjadi Informasi arus Penting: konflik bersenjata setiap Demi, arus pengungsi hingga seratus ribu orang, dan deforestasi besar-besaran.
“Tiga barang sebesar itu nggak Terdapat di algoritma medsos (media sosial) kita. Menurutku Terdapat sesuatu yang yang Darurat banget lah dengan Metode kita bermedia,” katanya.
Cypri Dale ikut menimpali. Dia bilang, sub-judul dari Pesta Babi Ialah “Kolonialisme di Era Kita” Mau menunjukkan cerita Gambar hidup ini merupakan kejadian kekinian, Terdapat di depan mata.
“Tujuannya adalah Demi menyampaikan cerita tentang kekejaman dengan Dampak genosida dan ekosida yang sistematis sedang terjadi di Papua ini, supaya orang yang menontonnya Mengerti bahwa ini terjadi di Era kita, di depan mata kita dan kita punya kesempatan Demi menghentikannya,” katanya.
Siapa di balik pembubaran Gambar hidup Pesta Babi, dan apa alasannya?
Terdapat 21 insiden intimidasi dalam kegiatan pemutaran Gambar hidup Pesta Babi yang diterima Watchdoc sejak dokumenter ini diluncurkan. Tapi Bilangan sebenarnya lebih dari itu.
“Banyak yang panitianya nggak bersedia [melaporkan]. Kami Lanjut terang kewalahan dan nggak punya kapasitas Demi merekam Segala data intimidasi, tapi setiap hari bertambah,” kata Dandhy.
Sejumlah video yang viral di media sosial menunjukkan pembubaran yang dilakukan oleh Member TNI dan sekuriti di Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Maluku Utara pada Selasa (12/05).
Insiden pembubaran lainnya terjadi di provinsi yang sama, tepatnya di Pendopo Benteng Oranje, Ternate Tengah pada Jumat (08/05). Pembubaran ini dihadiri langsung Dandim 1501 Ternate, Letkol Inf Jani Setiadi.
“Kami memonitor kegiatan ini. Kemudian keberadaan kegiatan ini, kami Menonton di media sosial, banyaknya penolakan akan kegiatan Gambar hidup ini, karena banyak yang menilai ini bersifat provokatif dari judulnya,” kata Jani Setiadi dikutip Detik, Jumat (08/05).
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum Terdapat yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Demi Menonton konten ini, pilihlah ‘terima dan lanjutkan’.
Peringatan: BBC Enggak bertanggung jawab atas konten situs eksternal
Lompati X pesan
Pada Kamis malam (07/05), nobar di Universitas Mataram (Unram) dibubarkan pihak rektorat. Wakil Rektor III Unram, Sujita Enggak menjelaskan secara rinci Dalih pembubaran tersebut. Tapi kata dia, “Demi menjaga kondusivitas sebaiknya Gambar hidup ini jangan ditonton”.
Di tempat terpisah, Rektor Unram, Sukardi berdalih, “pembubaran dilakukan murni karena Dalih ketertiban dan bukan Demi membungkam Aktualisasi diri”.
Bagaimanapun, kata Dandhy, sejak mendapat intimidasi, permintaan nobar Gambar hidup Pesta Babi dari komunitas-komunitas Bahkan mengalami lonjakan.
“Request itu Dekat lima ribuan ya, per kemarin (Selasa, 12/05),” katanya. Tapi Enggak Segala terealisasi karena keterbatasan tim Demi Validasi penyelenggara.
“Ketika nobar dihalangi, ya sama sekali nggak menghentikan orang Demi bikin nobar,” tambah Dandhy.
Streaming Gambar hidup Pesta Babi kenapa belum Terdapat?
Karena Ciri dari Gambar hidup yang sudah diunggah dalam platform digital bersifat individual, kata Cypri Dale.
“Ini Gambar hidup sangat berat… Cerita Jenis begini Enggak Pandai orang akan nonton sendiri, Lewat sedih sendiri, marah sendiri, menangis sendiri,” kata Cypri Dale.
“Cerita ini adalah cerita Demi dibagi, Demi didiskusikan, dan Demi dicarikan solusinya”.
Cypri mengakui, mungkin dengan streaming di platform berbagi video seperti YouTube akan memperoleh jutaan penonton.
“Tetapi kita kehilangan kesempatan Demi orang berkumpul dan berdiskusi tentang situasi di Papua dan juga berdiskusi tentang situasi mereka sendiri,” katanya.
Dengan nobar langsung, kata dia, dapat membangun nilai keguyuban dan “gotong royong”. “Jadi menurut saya ini semangat kekeluargaan yang kita Enggak Pandai dapat dengan streaming,” katanya.
Dandhy Laksono mengatakan, Gambar hidup ini Enggak akan masuk ke platform digital berbagi video selama Lagi Terdapat intimidasi pada kegiatan nobar.
“Supaya Bahkan kita sekaligus menguji demokrasi kita, membersihkan demokrasi kita tindakan-tindakan anti-demokrasi dan melanggar hak asasi Orang, juga hak publik Demi mendapatkan informasi dan berdiskusi,” katanya.
“Makin ditekan akan makin kami perpanjang musim nobarnya supaya orang tetap berkumpul”.
Kenapa Gambar hidup Pesta Babi mendapat intimidasi dan pembubaran paksa?
Pengkaji Gambar hidup, Eric Sasono Menonton tiga Unsur yang melatarbelakangi Gambar hidup Pesta Babi menjadi perhatian banyak orang.
Pertama, Gambar hidup ini menggambarkan apa yang terjadi di Papua adalah bentuk kolonialisme—merujuk dari subjudulnya.
Menurut Eric, Gambar hidup ini menunjukkan adanya kedaulatan Orang Papua terhadap tanahnya sendiri.
“Di Gambar hidup itu banyak sekali slogan Papua bukan tanah Hampa,” katanya. Dalam Gambar hidup ini digambarkan Pendayagunaan alam melalui proyek nasional yang direspons perlawanan masyarakat adat di Papua.
Kedua, fakta yang ditampilkan dalam Gambar hidup tentang mobilisasi militer selama puluhan tahun di Papua Rupanya berdampak terhadap “hajat hidup Orang Papua secara Lumrah”.
“Ilustrasinya digambarkan di sana dengan pengungsi Di Nduga yang Demi ini Lagi berada di pengungsian. Dan anak-anak yang dikasih nama ‘Pengungsi’… Ini kan juga sesuatu yang menggambarkan dapat Enggak baik militerisasi di Papua itu,” kata Eric.
Dan, sekarang TNI mulai mengurus Gambar hidup dokumenter.
“Itu kan sesuatu yang sejak bertahun-tahun sudah Terdapat. Kritik terhadap mereka lewat dokumenter, lewat media. Lanjut karena sedang berada dalam posisi dikritik dan Enggak Pandai menjawab dengan argumen balik, akhirnya ya melakukan tindakan semacam itu,” kata Eric.
Bagaimana pola intimidasi Gambar hidup dokumenter dari masa ke masa?
Praktik intimidasi terhadap Gambar hidup dokumenter sebenarnya telah berlangsung Pelan. Yang berubah hanya bentuk dan polanya, kata Eric Sasono.
Gambar hidup dokumenter sejak awal kerap berhadapan dengan kekuasaan karena Watak dasarnya yang kritis.
“Gambar hidup dokumenter itu biasanya Enggak menyasar penonton sebagai konsumen, tetapi sebagai Penduduk,” ujarnya. Artinya, dokumenter Enggak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga mendorong publik mengambil sikap terhadap isu tertentu—Berkualitas itu politik, sosial, maupun hak asasi Orang.
Pada era Orde Baru, posisi Gambar hidup dokumenter Bahkan dimanfaatkan sebagai alat propaganda. Gambar hidup-Gambar hidup pendamping di bioskop atau tayangan televisi digunakan menampilkan narasi tunggal tentang keberhasilan pembangunan. Dalam konteks ini, ruang kritik praktis Enggak Terdapat.
Demi muncul dokumenter kritis di luar arus Penting, rezim tetap punya mekanisme mengendalikannya, Berkualitas melalui sensor, pelarangan, hingga tekanan langsung terhadap pembuat Gambar hidup.
Eric mencontohkan, salah satunya terjadi Demi renovasi Borobudur (1973-1983). Demi itu seorang dosen dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) bernama Hadi Purnomo Membikin Gambar hidup dokumenter terkait Dampak renovasi terhadap penggusuran masyarakat Sekeliling.
“Dia diminta Demi berhenti bikin Gambar hidup… Sesudah itu beliau Enggak Kembali bikin Gambar hidup dan menekuni teater dan tari,” kata lulusan doktoral bidang kajian Gambar hidup di King’s Collage, London ini.
Memasuki era Reformasi, ruang Aktualisasi diri menjadi lebih terbuka. Dokumenter berkembang sebagai medium kritik sosial-politik, didukung tumbuhnya komunitas Gambar hidup independen dan produksi televisi yang lebih variatif.
Tetapi, Eric menjelaskan, tekanan terhadap dokumenter Enggak Betul-Betul hilang.
“Itu subjudulnya diminta dihilangkan The Army Forced Them to be Violent supaya Pandai diputar di bioskop. Lewat akhirnya setelah protes diputarlah Gambar hidup itu di bioskop dengan dihilangkan itu subjudul,” katanya.
Lewat, Gambar hidup dokumenter “Prison and Paradise (Penjara dan Nirwana) yang disutradarai Daniel Rudi Haryonto dinyatakan Enggak lolos oleh Lembaga Sensor Gambar hidup.
Dokumenter yang mengisahkan keluarga pelaku Bom Bali 2002 ini dituding menyesatkan, meskipun mendapat apresiasi dan diputar di pelbagai festival di negara-negara lain.
“Posisi Gambar hidup dokumenter yang memang punya kritik keras terutama yang kaitannya sama tentara, sama TNI atau dengan Golongan-Golongan radikal Islam, nah itu mendapatkan perhatian cukup serius,” tambah Eric.
Di era digital Demi ini, perubahan terbesar terjadi pada Metode distribusi Gambar hidup. Apabila dulu Gambar hidup hanya Pandai diputar di bioskop atau media arus Penting, kini dokumenter dapat ditayangkan di mana saja—kampus, kafe, ruang komunitas, bahkan ruang publik terbuka. Teknologi digital Membikin distribusi menjadi lebih murah dan Elastis.
Perubahan ini berdampak langsung pada pola intimidasi. Apabila sebelumnya tekanan ditujukan kepada pembuat Gambar hidup atau distributor Formal, kini sasaran bergeser ke komunitas penonton.
“Desentralisasi pemutaran itu juga berarti desentralisasi pelarangan,” ujar Erick. Bentuknya Pandai berupa pembubaran pemutaran, intimidasi terhadap panitia, hingga kehadiran aparat yang menciptakan rasa takut.
“Kalau Gambar hidup maker yang dilarang akan jadi persoalan besar, karena (itu) pelarangan kebebasan berekspresi Konkret”.
Apa saja motif rezim mengendalikan Gambar hidup?
Menurut pembuat Gambar hidup sekaligus antropolog, Veronika Kusumaryati, setiap rezim di Indonesia punya praktik mengendalikan Gambar hidup.
Era Presiden Soekarno, pemerintah pernah melarang impor dan peredaran Gambar hidup-Gambar hidup Hollywood. Kebijakan ini didorong oleh pandangan bahwa produk budaya Barat merupakan bagian dari imperialisme yang dapat memengaruhi identitas nasional.
Langkah tersebut juga mendapat dukungan dari Partai Komunis Indonesia (PKI), yang Demi itu turut Menyantap budaya Terkenal Barat sebagai ancaman ideologis.
“Karena Gambar hidup-Gambar hidup barat dianggap bagian dari imperialisme budaya,” katanya.
Di era Orde Pelan, PKI juga melarang penayangan Gambar hidup Pagar Kawat Berduri (1961) dengan Pengarah adegan Asrul Sani karena menampilkan keakraban pejuang revolusi dengan perwira Belanda.
Memasuki masa Orde Baru, kontrol terhadap Gambar hidup menjadi lebih sistematis dan terpusat, kata Veronika. Kementerian Penerangan memegang kendali penuh atas jenis Gambar hidup yang dapat diproduksi dan ditayangkan.
LSF memainkan peran kunci dalam menyaring Segala materi audiovisual sebelum dapat diakses publik.
Pada periode ini, Enggak hanya Gambar hidup jadi yang diperiksa. Bahkan, naskah Gambar hidup harus diajukan terlebih dahulu Demi mendapat persetujuan sebelum produksi.
Hal ini menunjukkan kontrol negara Enggak hanya berada di tahap distribusi, tetapi juga sejak proses kreatif dimulai.
Meski demikian, bukan berarti Enggak Terdapat ruang alternatif. Sejumlah pembuat Gambar hidup independen tetap memproduksi karya di luar sistem bioskop arus Penting.
“Beberapa Gambar hidup eksperimental Pandai diprodukai dan ditonton orang, seperti Gambar hidup-Gambar hidup Gotot Prakosa,” Terang Veronika.
Setelah jatuhnya Orde Baru, banyak pihak berharap kontrol terhadap Gambar hidup akan berkurang drastis.
Tetapi, kata dia, LSF tetap dipertahankan, bahkan ketika Kementerian Penerangan dibubarkan di era Presiden Abdurrahman Wahid. Gambar hidup-Gambar hidup komersial hingga kini Lagi harus melalui proses sensor dan Penggolongan sebelum ditayangkan.
Veronika bilang, keberlanjutan lembaga ini menjadi salah satu kunci memahami pola sensor di Indonesia.
“Member LSF hanya sedikit yang mewakili filmmaker/industri. Kebanyakan anggotanya dari birokrat, perwakilan Religi, dan aparat keamanann. Ketika institusi Enggak berubah, maka pola sensor juga Enggak berubah,” katanya.
Di era reformasi Bahkan muncul fenomena yang berbeda: semakin banyak Gambar hidup yang bukan hanya disensor, tetapi dilarang beredar Berkualitas oleh rezim maupun Golongan radikal. Motifnya Variasi.
Terdapat pula Gambar hidup yang dikaitkan dengan masalah moral, dan sensitif dengan nilai Religi seperti “The Da Vinci Code” (2006).
Sensitif dengan Rekanan ras, misalnya Gambar hidup “Pocong” karya Rudi Sudjarwo tentang kerusuhan 1998, dan motif LGBTQI dengan Gambar hidup “Kucumbu Tubuh Indahku” karya Garin Nugroho.
“Jadi memang Terdapat semacam area-area tertentu yg dianggap sensitif dan negara mau kontrol,” katanya.
Lebih jauh, Veronika Menonton praktik sensor dan Pelarangan Gambar hidup di Indonesia tak lepas dari warisan sejarah yang panjang. “Itu berasal dari hukum dan moral kolonial,” katanya.
Kedua, tindakan ini diperkuat anggapan masyarakat Lagi kurang dewasa sehingga, tak Pandai membedakan Gambar hidup dan dunia Konkret, serta belum Pandai menonton secara kritis.
“[Padahal] masyarakat Gambar hidup indonesia sendiri Mau adanya Penggolongan usia penonton, bukan sensor,” katanya.
“Ketiga, banyak motivasi sensor Demi menjaga kepentingan aparat dan elit, dan Demi merepresi kritik kepada pemerintah,” Terang Veronika.
Bagaimana semestinya menempatkan Gambar hidup bermuatan kritik?
Gambar hidup dokumenter di banyak negara sudah menjadi bagian dari ruang demokrasi yang sehat. Dokumenter adalah bagian dari diskursus publik, kata Eric Sasono. Pandai jadi pro dan kontra bagi sebagian pihak. Itu Lumrah.
Apabila Terdapat pihak yang keberatan dengan Gambar hidup tersebut sebaiknya disanggah dengan “opini tandingan” atau “Gambar hidup tandingan”.
Ia sepakat dengan Menteri HAM, Natalius Pigai yang menyarankan agar tindakan pelarangan Gambar hidup harus melalui uji di pengadilan.
“Kalau memang keberatan ya ajukan dengan Formal standing yang Terang. Kalau Formal standingnya nggak Terang harus ditolak,” kata Eric.
Yang Membikin Eric geleng-geleng kepala, Pesta Babi bukan Kembali dipersoalkan pada isi filmnya, tapi Bahkan direspons secara intimidatif seperti pembubaran paksa nobarnya.
“Di sipil banyak sekali Metode pengambilan keputusan, mayoritas terbanyak, musyawarah mufakat, paritisipatoris, segala Jenis itu harus dilakukan, Enggak hanya ‘Siap Ndan!'” katanya.
