Perompak Somalia: Kisah kapten kapal dari Indonesia yang disandera mengenalkan diri sebagai Muslim

Tangan Santi Sanaya sedang menunjukkan foto suaminya, Ashari Samadikun dari ponselnya. Dalam foto itu Ashari sedang menggunakan seragam seorang nakhoda lengkap dengan topinya.

Genap sepekan, empat Anggota Indonesia menjadi sandera bajak laut Somalia yang memulai penyergapan pada Selasa (21/04). Negosiasi Duit tebusan sedang berlangsung, menurut keluarga.

Sejauh ini, Kementerian Luar Negeri mengklaim Maju melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait di Somalia.

Pemerintah negara bagian Federal Somalia, Puntland, menyatakan pembajakan masuk dalam kejahatan besar yang bertentangan hukum di negaranya, dan “operasi telah dimulai”.

Seorang peneliti Rekanan Dunia mendorong pendekatan organisasi Islam Kepada keselamatan dan pembebasan sandera.

Sejumlah kalangan menilai kemunculan bajak laut Somalia Kagak lepas dari pengaruh konflik Amerika Perkumpulan-Israel dengan Iran. Di Begitu dunia memusatkan perhatian pada konflik Timur Tengah, insiden serangan kapal di perairan Somalia kembali dimulai setelah beberapa tahun terakhir mereda.

Kasus penyanderaan WNI di Somalia bukan pertama kali terjadi. Dalam satu insiden pembebasan sandera menjadi penanda bersejarah bagi Indonesia dalam misi di luar negeri.

Detik-detik penyergapan dalam pesan Bunyi

Isi kepala Santi Sanaya Lagi Maju dibayang-bayangi nasib suaminya, Ashari Samadikun yang Begitu ini terombang-ambing di lautan dengan pengawasan ketat 30 bajak laut Somalia bersenjata.

Ashari sebagai kapten kapal tanker MT Honour 25 Berbarengan krunya dikabarkan disandera Begitu berlayar dari Oman menuju Somalia sejak Selasa malam (21/04).

Begitu detik-detik pengepungan, Ashari sempat menghubungi Santi kalau timnya dalam situasi bahaya.

Telepon genggam Santi berdering dan muncul notifikasi pesan Bunyi melalui WhatsApp dari Ashari pada Selasa (21/04) Sekeliling pukul 19.30 WITA. Pesan suaranya: kapal sedang diserang bajak laut.

Syamsuddin (kiri) menggunakan peci dan berkacamata, Sitti Aminah (tengah) berhijab dengan baju corak kotak-kotak dan Santi Sanaya (kanan) dengan busana burka tertutup, termasuk wajah sedang duduk bersama dengan sebuah foto besar Ashari Samadikun menggunakan pakaian khas pelatu di tengah mereka.

Tak pikir panjang, Santi segera menghubungi balik. Nada sela muncul. Tapi, tak Eksis respons.

“Maju selang beberapa jam, sudah Kagak aktif hpnya. Betul-betul putus komunikasiku sama dia [Ashari],” lirih Perempuan 26 tahun Begitu ditemui di rumahnya di Desa Pacellekang, Kecamatan Pattallassang, Gowa, Senin (27/04).

Kapal tanker MT Honour 25 berisi 17 pelaut. Mereka terdiri dari empat WNI Yakni, Ashari Samadikun selaku kapten kapal asal Kabupaten Gowa, Adi Faizal selaku 2nd Officer asal Kabupaten Bulukumba, Wahudinanto selaku Chief Officer asal Pemalang, dan Fiki Mutakin asal Bogor.

Sisanya, 11 Anggota Pakistan, satu Anggota Sri Langka dan satu Anggota India.

‘Assalamualaikum, jangan tembak saya’

Ponsel Ashari dan krunya disita perompak sejak hari pertama penyergapan. Tapi, pada Jumat (24/04), Ashari diberi kesempatan Grup perompak menggunakan telepon kapal Kepada menghubungi perusahaan dan keluarganya.

Dalam momen itu, Ashari bercerita banyak kepada Santi tentang hal-hal mengerikan yang terjadi selama penyergapan, termasuk “beberapa kali ditodong senjata”.

Begitu situasi sudah terkepung, Ashari mencoba menenangkan para perompak dengan mengatakan dirinya ‘seorang Muslim’.

“Suamiku sempat sambut [perompak] dengan ‘Assalamualaikum, jangan tembak saya. Saya Muslim’,” kata Santi menirukan perkataan Ashari.

“Maju itu perompak juga bilang ‘kau Muslim ya?'”

“Suami saya bilang ‘iya’. Maju itu perompak juga bilang ‘saya juga Muslim’,” tambah Santi yang meyakini status Keyakinan ini Krusial di situasi yang mencekam.

Kekasih suami-istri yang telah dikaruniai dua orang putri ini terakhir berkomunikasi pada Minggu malam (26/04).

Santi bilang, suaminya mengabarkan para perompak sedang bernegosiasi dengan pihak perusahaan Kepada meminta Duit tebusan.

“Setelah itu suami saya bilang jangan hubungi saya Kembali maupun di HP kapal karena takutnya nanti perompak yang pegang hpnya,” katanya.

Selama sepekan disandera, lanjut Santi, Ashari dan Sahabat-temannya dalam kondisi sehat. Mereka Lagi diberi makan dan diizinkan beribadah.

“Sekadar itu Ketika merasa perompaknya terancam akan diserang itu tiba-tiba semuanya [akan Kembali] mencekam. Karena suamiku sempat beberapa kali ditodong senjata sama perompak,” katanya.

Dalam satu kesempatan panggilan video, Ashari menunjukkan beberapa bagian kapal terdapat bekas peluru tembakan.

Bagaimana kronologi penyergapan perompak Somalia?

Menurut penuturan Santi, suaminya baru mengetahui serangan perompak setelah Sekeliling 15 orang bersenjata api sudah naik di atas kapal.

“Setelah itu disuruh Segala kumpul hpnya. Ditahan Segala,” terang Santi.

Santi menerangkan sebelum Ashari berangkat ke Somalia, dia sempat bertanya ke suaminya apakah di sana akan Eksis yang kawal.

“Karena kan saya juga Mengerti kalau Somalia biasanya beredar itu rawan pembajakan. Jadi saya bilang bagaimana apakah Eksis pengawalan dari office, perusahaan? Maju dia [Ashari] bilang Kagak Eksis,” Terang Santi.

Tetapi, Ashari dapat meyakinkan istrinya Apabila kapal tanker yang dikemudikannya itu mengangkut muatan minyak Punya pemerintah.

“Jadi InsyaAllah Kagak Eksis apa-apa.”

Santi Sanaya menunjukkan panggilan video dari suaminya yang sempat direkam.

Begitu ini, Ashari dan Sahabat-temannya dibawa ke dekat markas para perompak. Jaraknya Sekeliling tiga mil dari pantai. Mereka diawasi dengan ketat.

“Kurang lebih 30 orang sekarang perompaknya karena memang sudah dekat dengan markasnya,” katanya.

“Rekan suami saya, termasuk angkatannya sangat membantu dengan adanya masalah ini. Hari ini juga temannya di Jakarta mau ke Kemenlu Kepada mengadukan insiden ini.”

Santi Sanaya menunjukkan foto Ashari bersama keluarga.

Santi berharap pemerintah Kagak tinggal Hening dalam peristiwa ini.

“Semoga pemerintah Dapat membantu, terutama pak Presiden Prabowo. Semoga suami saya dan kru lain termasuk orang diantaranya Anggota Indonesia dibantu kepulangannya ke Indonesia Segala dalam keadaan selamat dan sehat, Kagak kurang satu apapun.”

Kemudian, kapal tiba di dekat pantai Uni Emirat Arab tak lelet setelah konflik Timur-Tengah dimulai.

Peta pelayaran kemudian menunjukkan kapal tersebut berputar-putar di perairan dekat pintu masuk Selat Hormuz sebelum berbalik arah pada Copot 2 April dan menuju ke Mogadishu, Somalia.

Kapten ‘yang bertanggung jawab’

Menurut Santi, Ashari merupakan sosok Pria yang bertanggung jawab. Hal ini diklaimnya dengan sikap Ashari Lagi sempat memikirkan nasib Sahabat-temannya yang lain Begitu peristiwa perompakan kapal tanker MT Honor 25 tersebut terjadi.

“Begitu Eksis insiden ini yang dia pikir itu Sahabat-temannya, yang sebagian besar Kagak Mengerti keluarganya soal [kejadian] ini.”

“Makanya itu yang bikin saya salut sama suamiku karena di tengah-tengah kondisinya juga yang terancam di atas kapal dia sempat memikirkan Personil-anggotanya dan keluarganya,” terang Santi.

Apa langkah pemerintah Indonesia?

Kementerian Luar Negeri RI membenarkan adanya empat WNI yang ditawan bajak laut Somalia.

Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah mengaku telah menindaklanjuti laporan dari kapal MT Honour 25 yang dibajak di perairan Sekeliling Hafun, Somalia pada Rabu kemarin (22/04).

“KBRI Nairobi Maju melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait di Somalia,” katanya seperti dikutip Antara, Senin (27/04).

Koordinasi ini, kata dia, melibatkan otoritas pemerintah setempat, tokoh masyarakat dan pelaku usaha terkait.

KBRI Nairobi memantau perkembangan situasi Kepada memastikan proses penanganan berjalan optimal dengan tetap mengedepankan keselamatan para ABK WNI, kata Heni.

Pemerintah negara bagian Puntland: ‘Operasi telah dimulai’

Menteri Kepresidenan Negara Bagian Federal Somalia, Puntland, Abdifatah Mohamed Abdinur, menjelaskan pembajakan masuk dalam kejahatan besar yang bertentangan hukum di negaranya.

“Siapa pun yang tertangkap melakukan tindakan kriminal ini layak ditindak sesuai hukum negara dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan yang telah mereka lakukan,” katanya.

Ia menambahkan, Puntland berkomitmen mengambil setiap langkah yang diperlukan guna mencegah para pelaku, serta membawa mereka yang Begitu ini menahan kapal-kapal ke hadapan hukum.

Seorang nelayan yang menjadi perompak menatap langsung ke kamera melalui syal bermotif biru yang melilit kepalanya.

“Kami sedang aktif bekerja dalam hal ini, dan operasi-operasi tersebut telah dimulai. Saya Ingin berbagi hal ini dengan rakyat Somalia dan Segala pihak yang berkepentingan,” kata Abdifatah.

“Saya Ingin menegaskan di sini bahwa Kagak akan terulang Kembali bahwa para perampok—yang Betul-Betul melanggar ajaran Islam dan nilai-nilai kemanusiaan dasar—menodai reputasi Puntland atau merugikan aktivitas perdagangan dan Lampau lintas maritim Dunia yang melintasi perairan di sepanjang pantai Puntland.”

Pendekatan baru lewat ormas Islam

Eksis sejumlah pendekatan yang Dapat dilakukan pemerintah Kepada menjamin keselamatan bahkan pembebasan empat WNI yang disandera, kata Peneliti Rekanan Dunia dari Badan Riset dan Penemuan Nasional (BRIN), Athiqah Nur Alami.

Pertama, diplomasi antara negara secara langsung Indonesia-Somalia.

Kedua, melakukan tekanan terhadap perusahaan pemilik kapal agar “Kagak lepas tangan” Begitu ABK mereka menjadi sandera.

Honour 25 merupakan kapal berbendera negara Palau—sebuah negara kepulauan di Samudera Pasifik Barat. Begitu berlayar, kapal ini membawa 18.500 barel minyak.

Penyitaan kapal tanker yang sedang menuju ibu kota Somalia, Mogadishu, kemungkinan akan meningkatkan kecemasan di kota tersebut, di mana harga bensin Begitu ini melonjak tiga kali lipat sejak dimulainya perang AS-Israel dengan Iran.

Peneliti BRIN, Athiqah Nur Alami menyerukan agar pendekatan informal melalui ormas Islam antar negara dilakukan.

Ketiga, “pendekatan baru” dapat dilakukan melalui apa yang disebut Athiqah sebagai “faith-based diplomacy” atau pendekatan diplomasi yang melibatkan aktor, nilai, dan jaringan keagamaan dalam upaya perdamaian, resolusi konflik, kemanusiaan, dan dialog lintas budaya.

Kagak mustahil, karena menurut Athiqah, Indonesia punya kedekatan dalam keyakinan di mana Nyaris 100% penduduk Somalia beragama Islam Sunni.

“Ini kan seringkali masalahnya tadi Kagak cukup hanya di tingkat negara… sehingga perlu Eksis jalur-jalur yang sifatnya informal. Lewat jalur tokoh Keyakinan atau tokoh masyarakat. Antara mungkin ormas kita di sini, ormas keagamaan,” katanya.

Ditengarai muncul karena konflik Dunia

Menurut Athiqah, kemunculan insiden bajak laut di perairan Somalia baru-baru ini Lagi disebabkan Elemen klasik: ekonomi-sosial-politik di Somalia yang “pelik”.

Kemunculan bajak laut Somalia disebabkan lemahnya tata kelola pemerintahan, kemiskinan pesisir dan ketiadaan pekerjaan alternatif, penangkapan ikan ilegal di perairan Somalia, perompakan menjadi sebuah model industri, serta ketergantungan patroli laut Dunia.

“Itu yang mendorong mereka memanfaatkan geografinya Kepada mengambil keuntungan dari bisnis kejahatan ini dengan perompak dan lain-lain,” katanya.

Kapal tanker India yang mengangkut gas petroleum cair melintasi Selat Hormuz.

Elemen lainnya, patroli laut Dunia sedang terpecah konsentrasinya.

“Karena kita Mengerti perhatian Kembali banyak di Selat Hormuz, Lampau di Ukraina atau bahkan di Daerah Timur Tengah lainnya, Lebanon, Palestina, dan yang lain, sehingga mungkin patrolinya tadi saya bilang mengendor,” katanya.

Senada disampaikan pengamat dunia maritim, Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa.

Dia bilang Begitu ini Grup bajak laut Somalia “sedang sedikit banyak menikmati situasi geopolitik”.

Segala mata pemimpin negara sedang mengerahkan fokusnya pada geopolitik yang Goyah akibat perang AS-Israel dengan Iran.

“Konsentrasi dunia Begitu ini ke arah sana sehingga memang terdapat potensi atau celah berkurangnya perhatian terkait dengan keamanan di perairan-perairan seperti Somalia,” kata Capt. Hakeng.

Modus lelet, Kesempatan baru

Menurut Capt. Hakeng, model pembajakan perompak Somalia tak banyak perubahan. Mereka banyak mengincar kapal tanker karena bagian dek kapal yang rendah sehingga mudah dipanjat.

Dalam operasinya, para perompak menggunakan kapal induk besar yang mengangkut kapal kecil. Tujuannya, agar area targetnya Dapat lebih luas bahkan di luar teritorial Somalia.

“Mereka akan memonitor kapal-kapal Sasaran. Ketika kapal Sasaran lewat dan mendekat dan Kagak menyadari memang hanya Eksis kapal yang besar, dan lokasinya juga agak jauh, baru dilakukan intercept (penangkapan) dengan kapal yang lebih kecil,” katanya.

Tentunya, sumber daya besar ini membutuhkan modal besar sehingga, Capt. Hakeng menyebut perompakan Somalia sebagai “model bisnis” yang dilakukan secara profesional.

Keberadaan perompak di sekitar pantai Somalia mengalami penurunan setelah 2011 setelah campur tangan internasional, tapi belakangan mereka muncul kembali.

Beda dengan bajak laut di Daerah lain seperti Selat Malaka yang bermodalkan kapal kecil dengan mengandalkan pulau-pulau kecil tak berpenghuni sebagai markas.

Selain itu, motif perompak juga tak berubah: meminta Duit tebusan dari penculikan.

Sebagaimana beberapa laporannya, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyebut motif perompakan Somalia sebagai industri berbasis penculikan Kepada mendapat tebusan, karena melibatkan jaringan terorganisasi dengan investor, negosiator, hingga penjaga sandera.

Capt. Hakeng mengusulkan sejumlah opsi pendekatan oleh pemerintah melalui diplomasi kepada negara asal kapal, tekanan lewat Organisasi Maritim Dunia (IMO), dan pelibatan asosiasi pelaut.

Kepada jangka panjang, pelaut Indonesia juga perlu diperkuat dengan Panduan standar keamanan Dunia di Rendah IMO.

Gunanya, mencegah kapal dari ancaman seperti terorisme, pembajakan, sabotase, dan kejahatan maritim lainnya melalui The International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code.

“Agar mereka Dapat melakukan precaution (langkah pencegahan) terkait dengan penanganan apabila melintasi perairan yang memang Eksis bajak laut,” katanya.

Bukan kasus pertama disandera bajak laut Somalia

Pada 2012, kapal FV Naham berbendera Taiwan yang mengakut 26 kru, termasuk lima WNI disandera perompak Somalia.

Empat tahun kemudian, lima dari empat WNI baru dibebaskan setelah perusahaan membayar Duit jaminan kepada perompak. Satu WNI meninggal karena sakit.

Selama penyanderaan, para penyintas menceritakan krisis kemanusiaan yang mereka alami, termasuk dalam menerima air Kudus.

“(Air minum yang diberikan) Kagak Tamat 500 ml sehari. Air mentah yang kadang-kadang kalau diterima Eksis kotoran untanya, kotoran kambingnya”.

“Saya sih daripada dimasak, mending Kagak usah dimasak, sama saja. Kalau dimasak airnya makin bau. Kalau kita tutup (gelasnya), kita Ingin menolak kembali, memuntahkan air itu kembali,” kata seorang penyintas.

Empat ABK Indonesia yang dibebaskan pada 2016 tiba di bandar udara di Kenya.

Mereka juga memberi kesaksian, para perompak Somalia sangat mudah tersinggung. Persoalan buang air besar, bahkan Dapat berujung pada penembakan.

Kasus penyanderaan lain terjadi pada 2011 Begitu kapal kargo MV Sinar Kudus disandera perompak Somalia. Bedanya, MV Sinar Kudus berbendera Indonesia dengan awak kapal sebanyak 20 WNI.

Dalam kasus ini, Laskar militer Indonesia dikerahkan dalam misi luar negeri pertama penyelamatan sandera. Operasi ini berhasil menyelamatkan seluruh awak kapal, tanpa korban jiwa setelah penyanderaan berlangsung selama 1,5 bulan.

Maritim Kerajaan Bersatu Meningkatkan level tingkat ancaman

Di tengah situasi ini, Badan Operasi Perdagangan Maritim Kerajaan Bersatu (UKMTO) Meningkatkan tingkat ancaman di perairan Somalia menjadi “substansial”.

Menurut catatan UKMTO, setidaknya empat kapal telah menjadi sasaran dalam insiden pembajakan yang diduga terjadi dalam seminggu terakhir, termasuk sebuah kapal ikan, dan tanker pengangkut minyak Honour 25.

“Karena meningkatnya ancaman kemungkinan aktivitas PAG (Pirate Action Group), kapal-kapal disarankan Kepada melintas dengan hati-hati,” kata UKMTO dalam sebuah pernyataan, seraya mencatat bahwa cuaca mendukung Kepada operasi kapal kecil.

Tamat tiga tahun Lampau, pembajakan Nyaris lenyap di Daerah Samudra Hindia yang dulunya terkenal dengan aksi pembajakan kapal, tetapi kini telah kembali marak.

Periode 2007 - 2012 disebut sebagai puncak serangan bajak laut dengan ratusan insiden.

Serangan bajak laut Somalia yang sempat mencapai puncak pada 2007–2012 kini kembali menjadi ancaman baru meskipun intensitasnya Lagi rendah.

Biro Maritim Dunia (IMB) mencatat periode tersebut, kejadian perompakan didominasi pembajakan kapal-kapal besar seperti tanker dan kapal curah (bulk carrier), yang kemudian dibawa ke pesisir Somalia Kepada negosiasi tebusan jangka panjang bernilai jutaan dolar.

Laporan IMB dan Dewan Keamanan PBB menilai penurunan drastis pasca-2012, lebih disebabkan masifnya patroli Dunia, bukan karena akar masalah di Somalia selesai ditangani: ekonomi-politik-sosial.

Kelompok perompak Somalia sedang berada di tepi pantai.

Lebih dari satu Dasa warsa, PBB mengambil langkah kerjasama Dunia Kepada menekan Bilangan kejahatan bajak laut, misalnya penguatan pemerintahan. Tetapi, badan ini Lagi Menonton kerapuhan dan potensi kejahatan yang kembali muncul.

“Perserikatan Bangsa-Bangsa Maju memberikan dukungan politik bagi proses perdamaian di Somalia dan mendorong fase baru kerja sama dengan komunitas Dunia. Meskipun banyak yang telah dicapai, kemajuan yang telah diraih dapat berbalik arah,” tulis pernyataan PBB.

Bagaimanapun, berdasarkan laporan terbaru IMB insiden bajak laut kembali mencuat dalam dua tahun terakhir, meskipun intensitasnya Kagak setinggi pada periode puncak 2007–2012.

Data insiden serangan bajak laut di Somalia

IMB mencatat, insiden terakhir terjadi pada 25 Maret 2026, sebuah kapal layar berbendera Iran, Al Waseemi 786, diserbu dan dibajak perompak Begitu sedang berlayar Sekeliling 400 mil laut di sebelah timur Mogadishu, Somalia.

“Para perompak tersebut kemungkinan akan menggunakan kapal yang dibajak tersebut sebagai kapal induk,” tulis IMB.

Lampau pada 26 Februari 2026, upaya pembajakan terjadi Begitu sebuah kapal berbendera Iran sedang berlayar Sekeliling 15,5 mil laut sebelah timur-tenggara Garmaal, Somalia. Kapal tersebut coba didekati dua Bahtera kecil yang diduga berisi perompak.

Tetapi, upaya Grup kriminal naik ke kapal digagalkan dengan langkah pertahanan. Dilaporkan satu orang yang diduga sebagai perompak tewas dan dua lainnya terluka selama insiden tersebut.

Dalam laporannya, IMB menekankan kehadiran angkatan laut multinasional dan penerapan Best Management Practices (BMP) Lagi menjadi Elemen Primer yang mencegah terjadinya kebangkitan besar pembajakan Somalia.

Antara tahun 2005 dan 2012, para perompak di lepas pantai bagian Afrika Timur ini meraup keuntungan antara $339 juta (Rp5,8 triliun) hingga $413 juta (Rp7,1 triliun) dengan menyandera Personil kru dan menuntut Duit tebusan, menurut perkiraan Bank Dunia.

Kembali ke keluarga Ashari di Sulawesi Selatan yang Lagi menanti kepulangan Personil keluarganya yang disekap bajak laut.

Dari kacamata keluarga besarnya, Ashari merupakan orang yang sangat Acuh dengan keluarga.

“Sering bertanya soal keadaan keluarganya kalau dia sudah pergi, tanya anak-anak, terutama pada ibunya. Selalu,” kata Syamsuddin Dg Ngawing.

Sebagaimana Personil keluarga lainnya, pria berusia 67 tahun sangat khawatir dengan keselamatan Ashari dan krunya.

“Yang sangat saya khawatirkan ketika Eksis diskomunikasi antara satu sama lain di negara sana. Jangan Tamat terjadi konflik,” katanya.

“Yang kami harapkan itu tentu kehadirannya Dapat kembali Kembali kumpul Berbarengan keluarga. Apalagi mengingat saya mau wisuda, Maju mau lebaran [haji]. Semoga Dapat kumpul Kembali seperti Segala,” kata Ulul Azmi yang selama ini biaya kuliahnya ditanggung kakaknya, Ashari.

Meski belum Mengerti nasib ke depannya, pihak keluarga sudah punya nazar menyambut kepulangan Ashari dengan selamat. “Insyaallah saya akan kumpul bareng dengan keluarga Kepada menyambut kedatangannya dengan suka cita,” kata Syamsuddin.

Jurnalis Muhammad Aidil di Sulawesi Selatan berkontribusi dalam artikel ini.

Tambahan reportase oleh Fatuma Maalin dan Beletu Bullbula Sorsu, BBC Somali.