Pendapatan Berburu Botswana Meningkat Nyaris Dua Kali Lipat di Tengah Protes Inggris

Botswana telah meraup $4 juta (setara Rp 64,5 miliar) dari penjualan lisensi Buat berburu hewan liar, yang merupakan Bilangan tertinggi sejak pencabutan Embargo berburu pada 2019. Musim berburu, yang berakhir pada November, berjalan di tengah meningkatnya penentangan dari beberapa negara Eropa yang menginginkan Embargo impor satwa liar Afrika.

Botswana mengeluarkan Sekeliling 400 izin Buat berburu gajah setiap tahunnya. Sebagian besar izin dibeli oleh pemburu dari luar negeri.

Menteri Lngkungan Hidup dan Pariwisata Wynter Mmolotsi mengatakan kepada Parlemen pada Kamis (13/3) bahwa jutaan dolar dihasilkan melalui penjualan sebagian besar izin berburu gajah di desa-desa di kawasan satwa liar.

“Buat mengelola populasi satwa liar, negara ini menerapkan kombinasi pemanfaatan sumber daya satwa liar secara konsumtif dan nonkonsumtif Buat memperoleh manfaat ekonomi yang optimal, khususnya bagi masyarakat kita,” katanya.

“Buat musim berburu 2024, kuota masyarakat menghasilkan total 42.863.423 pula (mata Duit Botswana-red). Selanjutnya, total 15.633.950 pula diperoleh dari penjualan kuota perburuan gajah Spesifik Buat mendukung konservasi gajah dan proyek-proyek yang dipimpin masyarakat dalam Daerah jelajah gajah.”

Pada 2023, Botswana memperoleh $2,7 juta dari lisensi berburu.

Tetapi, Mmolotsi mengatakan perburuan menghadapi oposisi yang kian meningkat dari Barat. Kanada dan Belgia termasuk di antara negara-negara yang baru-baru ini melarang impor piala satwa liar.

“Negara ini menghadapi oposisi dari organisasi hak asasi hewan terhadap kebijakan kami tentang pemanfaatan satwa liar berkelanjutan dengan menggunakan perburuan sebagai alat dan pemberdayaan masyarakat lokal. Kementerian, yang bekerja sama dengan industri perburuan dan lembaga kepercayaan masyarakat yang terdampak, meningkatkan upaya Buat melawan pertentangan yang semakin besar terhadap perburuan berkelanjutan melalui keterlibatan yang dilakukan di Inggris dan Jerman,” katanya.

Siyoka Simasiku, direktur koalisi konservasi, Dewan Organisasi Non-Pemerintah Ngamiland mengatakan masyarakat akan menjadi pihak yang paling terpukul Apabila Inggris memberlakukan Restriksi. Ia telah ke Eropa Buat berkampanye menentang Embargo impor hewan langka.

Siyoka Siamasiku, direktur koalisi konservasi Dewan Organisasi Non-Pemerintah Ngamiland, 12 Maret 2025. (Foto: Mqondisi Dube/VOA)

“Embargo Inggris akan berdampak Jelek pada manfaat masyarakat karena Inggris adalah negara adikuasa ekonomi dan dapat memengaruhi negara lain Buat Pas-Pas mengikutinya. Kemudian, masyarakat mungkin kehilangan pasar yang sudah Eksis karena lebih banyak pemburu Enggak akan datang ke Botswana Buat berburu di konsesi masyarakat karena Embargo trofi,” katanya.

Oaitse Nawa dari Elephant Protection Society termasuk di antara para pihak yang menginginkan perburuan dihentikan. Ia juga berpendapat, pendapatan yang diperoleh dari perburuan Enggak menguntungkan Kaum Botswana secara signifikan.

“Mereka memberi Paham kita Bilangan-Bilangan tentang Duit yang mereka hasilkan dari perburuan, tetapi mari kita lihat juga kompensasi yang mereka berikan kepada masyarakat. Dan juga hasil dari perburuan, apa yang diakibatkan perburuan kepada masyarakat setempat karena hewan-hewan yang mengalami perburuan, mereka cenderung mengubah perilaku mereka dan membunuh orang-orang. Itulah sebabnya kami mengatakan harus Eksis penelitian yang Pas dalam hal itu,” kata Nawa.

Botswana, dengan kawanan gajah terbesar di dunia dengan lebih dari 130.000 ekor gajah telah mencatat peningkatan Kematian Insan, sementara tanaman pangan rusak. [ft/es]