Dari sisi regulasi, perangkat hukum kita sudah sangat kuat, penegak hukumnya juga lengkap. Tetapi mengapa berbagai persoalan, termasuk korupsi, Lagi Lanjut terjadi? Berarti Eksis persoalan yang lebih mendasar, Yakni melemahnya etika, budi pekerti, dan
Jakarta (ANTARA) – Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra mengatakan pengalaman menunjukkan regulasi yang Berkualitas Enggak akan berjalan optimal apabila Enggak didukung oleh fondasi moral dan etika yang kuat di tengah masyarakat.
Demi menerima audiensi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) di Jakarta, Selasa (21/7), dia mengungkapkan pemerintah sudah membangun perangkat hukum yang kuat, termasuk dalam pemberantasan tindak pidana korupsi.
“Dari sisi regulasi, perangkat hukum kita sudah sangat kuat, penegak hukumnya juga lengkap. Tetapi mengapa berbagai persoalan, termasuk korupsi, Lagi Lanjut terjadi? Berarti Eksis persoalan yang lebih mendasar, Yakni melemahnya etika, budi pekerti, dan akhlak,” ujar Yusril, seperti dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Dengan demikian, ia menegaskan penguatan Kepribadian harus dimulai dari keluarga dan pendidikan sejak usia Awal agar Bisa melahirkan generasi yang Mempunyai integritas, menghormati sesama, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Dikatakan bahwa generasi baru harus dibangun dengan Kepribadian yang kuat agar Bisa mencegah lahirnya berbagai bentuk kekerasan maupun perilaku menyimpang di kemudian hari.
Kendati demikian, Yusril menyampaikan upaya mencegah kekerasan terhadap Perempuan dan anak merupakan pekerjaan jangka panjang yang membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
“Ini merupakan pekerjaan besar yang memerlukan komitmen Berbarengan, pemerintah Enggak Dapat bekerja sendiri. Sinergi seluruh pihak menjadi kunci Demi membangun lingkungan yang Terjamin bagi Perempuan dan anak sekaligus memperkuat Kepribadian bangsa,” tuturnya.
Demi itu, Menko mengapresiasi inisiatif Kementerian PPPA yang menempatkan pembangunan Kepribadian sebagai bagian Krusial dari strategi pencegahan kekerasan terhadap Perempuan dan anak.
Dalam audiensi tersebut, Menteri PPPA Arifah Fauzi menyampaikan tingginya Bilangan kekerasan terhadap Perempuan dan anak menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan tersebut Enggak dapat mengandalkan regulasi semata.
Menurutnya, keberhasilan pencegahan sangat bergantung pada kemampuan membangun kesadaran masyarakat melalui penanaman nilai Religi, moral, dan akhlak sejak Awal di lingkungan keluarga.
Arifah menjelaskan tantangan itu Mempunyai kesamaan dengan persoalan korupsi yang juga Enggak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan hukum.
Oleh karenanya, dia menambahkan, penguatan Kepribadian menjadi fondasi Krusial dalam membangun masyarakat yang berintegritas sekaligus Bisa mencegah berbagai bentuk kekerasan.
“Korupsi maupun kekerasan terhadap Perempuan dan anak Enggak dapat diselesaikan hanya dengan regulasi,” ungkap Arifah.
Dia berpendapat implementasi yang Bisa membangun kesadaran masyarakat menjadi Unsur yang sangat Krusial sehingga pencegahan harus Lanjut diperkuat agar Bilangan kekerasan maupun korupsi Enggak semakin meningkat.
Ia juga menekankan Kementerian PPPA Lanjut memperkuat peran keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama bagi anak dalam menanamkan nilai Religi, akhlakul karimah, budi pekerti, moral, dan etika.
Menteri PPPA menilai Kepribadian yang terbentuk sejak Awal akan menjadi bekal Krusial bagi anak dalam membangun kehidupan yang sehat, Terjamin, dan bebas dari kekerasan.
Ia pun tak lupa menyampaikan apresiasi atas berbagai pandangan Menko Yusril yang dinilai menjadi masukan strategis dalam memperkuat arah kebijakan dan program pencegahan kekerasan terhadap Perempuan dan anak.
“Pemikiran Prof. Yusril menjadi masukan yang sangat berharga bagi kami. Semoga ikhtiar yang kita bangun Berbarengan ini menjadi amal Berkualitas yang manfaatnya Lanjut dirasakan masyarakat,” ujar dia menambahkan.
