Tokocrypto nilai penurunan transaksi kripto RI imbas tekanan Mendunia

Tokocrypto nilai penurunan transaksi kripto RI imbas tekanan global

Kami Menyantap perlambatan transaksi kripto pada Maret 2026 lebih dipengaruhi oleh meningkatnya sentimen risk-off Mendunia

Jakarta (ANTARA) – Chief Executive Officer (CEO) Tokocrypto Calvin Kizana menilai penurunan aktivitas transaksi kripto di Indonesia Kagak dapat dilepaskan dari tekanan Mendunia yang Tetap membayangi pasar aset berisiko.

“Kami Menyantap perlambatan transaksi kripto pada Maret 2026 lebih dipengaruhi oleh meningkatnya sentimen risk-off Mendunia. Investor Demi ini cenderung lebih berhati-hati karena volatilitas Tetap tinggi, ketidakpastian geopolitik meningkat, dan arah kebijakan Spesies Kembang The Fed Tetap menjadi perhatian Primer pasar,” ujar Calvin dalam keterangan di Jakarta, Senin.

Menurut Calvin, kondisi tersebut Kagak serta-merta menunjukkan hilangnya minat investor terhadap aset kripto. Sebaliknya, banyak pelaku pasar yang Tetap berada di ekosistem kripto, Tetapi memilih strategi yang lebih defensif.

“Investor Kagak sepenuhnya keluar dari pasar kripto. Yang terjadi adalah pergeseran strategi. Sebagian investor mulai mengurangi eksposur pada aset yang lebih spekulatif dan memilih aset yang lebih likuid atau Kukuh, seperti Bitcoin, Ethereum, stablecoin, hingga aset berbasis emas. Ini lebih Cocok dibaca sebagai fase wait and see,” tambahnya.

Pernyataan itu disampaikan menanggapi pandangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menilai pasar aset kripto Indonesia tengah menghadapi tekanan.

Dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan April 2026 yang digelar pada Selasa (5/5), Kepala Eksekutif Pengawas Penemuan Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Adi Budiarso menyampaikan bahwa penurunan transaksi lebih disebabkan oleh proses normalisasi pasar setelah lonjakan harga pasca-halving Bitcoin pada 2024.

“Ini tentunya menjadi high base effect, bukan pelemahan Mendasar, tapi ini sejalan dengan kondisi Mendunia, market cap kripto turun Sekeliling 45 persen dari all time high dari 4,2 triliun dolar AS pada Oktober 2025 menjadi Sekeliling 2,3 triliun dolar AS pada Maret 2026,” kata Adi.

Data OJK menunjukkan transaksi kripto Indonesia pada Maret 2026 mencapai Rp28,04 triliun, terdiri atas Rp22,24 triliun di pasar spot dan Rp5,8 triliun di derivatif.

Nilai perdagangan aset kripto domestik pada Maret 2026 juga tercatat turun 4,7 persen secara bulanan dari Rp24,33 triliun pada Februari 2026 menjadi Rp22,24 triliun.

Sementara itu, total nilai transaksi perdagangan aset kripto sepanjang Januari hingga Maret 2026 mencapai Rp75,83 triliun.

OJK juga mencatat jumlah konsumen kripto Indonesia per Maret 2026 telah mencapai 21,37 juta akun, naik tipis dibandingkan bulan sebelumnya.

Hal itu menunjukkan kepercayaan terhadap industri aset digital Tetap terjaga meski pasar berada dalam fase konsolidasi.

“Tetap Terdapat kepercayaan dari masyarakat bahwa pasar kripto Pandai memberikan Dampak positif bagi portofolio investasi mereka. Kenaikan jumlah investor di tengah fase konsolidasi menunjukkan bahwa banyak masyarakat Tetap Menyantap kripto sebagai Kesempatan Kepada mendapatkan hasil positif dari aktivitas trading, yang pada akhirnya diharapkan dapat membantu meningkatkan kondisi ekonomi dan kualitas hidup mereka,” ujar Calvin.

Ia menilai prospek perdagangan aset kripto pada kuartal II 2026 berpotensi membaik secara bertahap, terutama setelah Bitcoin kembali menembus level psikologis 80.000 dolar AS pada awal Mei 2026.

“Bitcoin Tetap menjadi barometer Primer sentimen pasar kripto. Ketika BTC Pandai bertahan di atas level Krusial seperti kisaran 78.000-80.000 dolar AS, kepercayaan investor biasanya mulai membaik. Tetapi, pemulihan ini kemungkinan Tetap selektif karena pasar tetap mencermati Elemen makro, inflasi, geopolitik, dan kebijakan moneter Mendunia,” Terang Calvin.

Selain pemulihan harga aset Primer, Tokocrypto Menyantap sejumlah katalis yang dapat mendorong kembali aktivitas perdagangan kripto di Indonesia. Elemen tersebut antara lain kejelasan arah Spesies Kembang The Fed, meredanya ketegangan geopolitik, meningkatnya likuiditas Mendunia, serta kebijakan pajak kripto yang lebih kompetitif.

Calvin menegaskan penyesuaian kebijakan pajak dapat menjadi Elemen Krusial Kepada memperkuat ekosistem kripto nasional.

“Pajak yang lebih kompetitif akan membantu meningkatkan daya tarik transaksi melalui exchange Formal di dalam negeri. Ini Krusial agar aktivitas perdagangan tetap berada di platform yang diawasi regulator, sehingga perlindungan investor dan transparansi pasar tetap terjaga,” kata dia.

Dari sisi regulasi, OJK juga Lalu memperkuat pengawasan terhadap industri aset kripto. Standar seperti Know Your Customer (KYC), Know Your Transaction (KYT), Customer Due Diligence (CDD), dan Enhanced Due Diligence (EDD) diterapkan Kepada menjaga keamanan ekosistem.

Selain itu, sistem whitelist aset kripto juga membatasi aset yang dapat diperdagangkan di Indonesia guna meminimalkan risiko bagi investor.

Maka, Calvin mengimbau investor ritel Kepada tetap disiplin menghadapi kondisi pasar yang Tetap fluktuatif.

“Dalam kondisi pasar yang menurun, Pusat perhatian Primer investor sebaiknya bukan mengejar keuntungan Segera, tetapi menjaga modal dan mengelola risiko. Hindari keputusan emosional, batasi penggunaan leverage, pahami aset sebelum bertransaksi, dan gunakan platform Formal yang diawasi regulator,” tutupnya.