Teknologi: Perang robot dalam konflik Ukraina-Rusia jadi gambaran pertempuran masa depan

Robot, drone, dan truk buatan Ukraina

Medan perang di Ukraina dalam waktu dekat Pandai menampilkan lebih banyak tentara robot dibanding Sosok. Itulah klaim mengejutkan yang dibuat oleh sebuah perusahaan rintisan militer Ukraina‑UK.

BBC mengunjungi perusahaan manufaktur Ukraina, UFORCE, di kantor mereka di London. Kagak Eksis nama perusahaan di luar gedung mereka dan kantor itu dirancang secara tertutup. Langkah ini, menurut perusahaan, dimaksudkan Buat melindungi mereka dari potensi sabotase Rusia.

Saya Mau mengetahui lebih jauh tentang UFORCE. Alasannya, keterlibatan mereka di Ukraina dalam operasi militer yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya. Militer Ukraina merebut Distrik yang dikuasai Rusia hanya dengan menggunakan robot dan drone yang diproduksi UFORCE.

Klaim itu disampaikan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, dalam sebuah video April Lampau. Video itu menyoroti senjata robotik terbaru yang dikembangkan Ukraina.

Ukraina dan Rusia telah menggunakan sistem udara dan darat tanpa awak secara luas sepanjang konflik mereka.

Para analis mengatakan, perang ini mempercepat pengembangan teknologi militer secara dramatis.

Situasi ini memunculkan perdebatan tentang masa depan konflik militer dan dampaknya bagi prajurit, Bagus robot maupun Sosok.

150.000 misi tempur

Zelensky secara aktif mempublikasikan apa yang dia klaim sebagai pertempuran robot pertama dalam sejarah peperangan. Tetapi, militer Ukraina menolak memberikan rincian operasi tersebut.

Seorang perwakilan UFORCE juga Kagak bersedia mengomentari pertempuran robot yang digambarkan dalam video Zelensky. Perusahaan itu hanya Pandai menegaskan bahwa drone udara, darat, dan laut Punya UFORCE Ketika ini digunakan dalam operasi tempur.

“Saya Kagak Pandai masuk ke detail tentang operasi itu atau bagaimana UFORCE terlibat, tapi kami telah melaksanakan lebih dari 150.000 misi tempur yang berhasil sejak invasi besar‑besaran Rusia pada 2022,” kata Rhiannon Padley, Direktur Kemitraan Strategis UFORCE di UK.

Yang Terang, sistem senjata robotik merupakan bisnis bernilai besar.

Perusahaan ini telah berkembang pesat dan baru‑baru ini mencapai status “unicorn”—yang bernilai lebih dari US$1 miliar (Sekeliling Rp17,5 triliun).

Padley Mengucapkan, fenomena robot melawan robot kemungkinan akan menjadi lebih Lumrah. Bahkan, menurutnya, persenjataan tanpa awak akan melampaui jumlah tentara Sosok.

Rusia juga mengerahkan robot yang dirancang Buat mengirimkan bahan peledak ke posisi Ukraina. Para analis mengatakan, kemajuan teknologi kemungkinan akan membentuk kembali Metode perang di masa depan.

“Saya Betul‑Betul menganggap Ukraina sebagai pengajar Istimewa bagi masa depan pertahanan nasional dan persenjataan,” kata Melanie Sisson, peneliti senior di Brookings Institution.

“Ini adalah studi kasus yang mengesankan tentang bagaimana kebutuhan mendorong penemuan,” ucapnya.

UFORCE merupakan bagian dari Golongan perusahaan pertahanan yang berkembang yang disebut Neo‑Prime. Mereka kini menantang perusahaan mapan seperti BAE Systems, Boeing, dan Lockheed Martin.

Perusahaan lain adalah Anduril, perusahaan teknologi pertahanan AS yang pada Februari mengungkapkan telah melakukan uji terbang pertama jet tempur tanpa pilot.

Drone darat UFORCE – kendaraan kecil mirip tank dengan senjata besar di atasnya

Meski sebagian besar drone Lagi dioperasikan dari jarak jauh oleh Sosok, perusahaan seperti Anduril semakin banyak mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam sistem persenjataan.

Drone darat UFORCE menggunakan perangkat lunak yang dirancang Buat membantu penargetan. Sementara itu, Anduril mengatakan beberapa sistemnya dapat menyelesaikan fase akhir sebuah serangan secara otonom.

Pemerintah Amerika Perkumpulan secara terbuka mendorong militernya Buat mengadopsi kecerdasan buatan secara agresif.

Pada Januari 2026, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyebut negaranya perlu menjadi “kekuatan tempur yang mengutamakan AI”.

China juga meningkatkan penggunaan sistem militer yang didukung AI, menurut penilaian Departemen Pertahanan AS yang diterbitkan pada 2025.

Menurut sejumlah analis, masa depan di mana robot secara langsung saling berhadapan di medan perang mungkin akan sulit dihindari.

Drone Ukraina dan Rusia sudah saling bertempur,” kata Jacob Parakilas dari RAND Europe, sebuah lembaga kajian militer.

“Menyantap hal itu meluas ke peperangan darat dan maritim tampaknya sangat mungkin,” ucapnya.

Joe Tidy dan Richard Drake di kantor pusat Anduril London berdiri di depan sebuah drone

Tetapi Golongan advokasi hak asasi Sosok memperingatkan bahwa otonomi yang lebih besar dalam sistem persenjataan menimbulkan kekhawatiran serius tentang akuntabilitas.

“Militer mengadopsi AI Buat mempercepat proses seperti identifikasi Sasaran. Tetapi mendelegasikan keputusan hidup dan Wafat kepada mesin menimbulkan risiko etika dan hak asasi Sosok yang mendalam,” kata Patrick Wilcken dari Amnesty International.

Golongan produsen senjata berpendapat, mempertahankan “Sosok dalam rantai keputusan” menjawab kekhawatiran tersebut. Mereka menegaskan, keputusan Buat menggunakan kekuatan tetap berada di tangan personel militer.

“Sosok membutuhkan istirahat dan makanan, dan dalam kondisi pertempuran kebutuhan itu Kagak selalu terpenuhi,” kata Rich Drake, pimpinan Anduril Industries di UK.

“Komputasi memungkinkan kami mengurangi kesalahan di sepanjang apa yang kami sebut rantai pembunuhan,” ujarnya.