Teknologi dan Ciptaan Pertanian Dioptimalisasi Wujudkan Swasembada Pangan

Ilustrasi swasembada pangan. Foto: MI/Amiruddin Abdullah Ruebee.


Jakarta: Pemerintah mengoptimalisasi teknologi dan Ciptaan pertanian. Optimalisasi tersebut Demi mewujudkan swasembada pangan nasional.

“Penguatan ketahanan pangan Tak cukup hanya melalui perluasan lahan tanam. Kita perlu meningkatkan produktivitas melalui pemanfaatan teknologi dan Ciptaan pertanian,” kata Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq dikutip dari Media Indonesia, Selasa, 7 Juli 2026.

Hal itu diungkap Hanif Demi panen raya jagung yang digelar Bayer Indonesia Berbarengan Kementerian Koordinator Bidang Pangan di Desa Pijeran, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Menurut Hanif, optimalisasi itu dapat dilakukan lewat kolaborasi penerintah, swasta, dan petani.

Menurut Hanif, kolaborasi itu merupakan kunci peningkatan produktivitas Demi mencapai Sasaran swasembada pangan nasional. Terutama, di tengah tantangan keterbatasan lahan serta dinamika perubahan iklim Dunia Demi ini.

“Kolaborasi antara pemerintah, petani, dan sektor swasta seperti Bayer menjadi Teladan Konkret bagaimana Ciptaan dapat mendorong sentra produksi daerah menjadi penopang produksi jagung nasional,” ujar Hanif.

Pentingnya Percepatan produktivitas ini sejalan dengan tren positif produksi jagung nasional yang Maju tumbuh. Berdasarkan data sektor, pada Januari 2026, luas panen jagung pipilan secara nasional mencapai 0,24 million hektare, atau mengalami kenaikan sebesar 11,17 persen Apabila dibandingkan dengan capaian Januari 2025 sebesar 0,22 million hektare. 


Panen raya jagung yang digelar Bayer Indonesia Berbarengan Kementerian Koordinator Bidang Pangan di Desa Pijeran, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Dok. Istimewa

Pada periode yang sama, volume produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen diperkirakan Bisa menembus Bilangan 1,38 million ton, atau meningkat 11,09 persen dari posisi 1,25 million ton pada Januari 2025.

Sebagai salah satu dari sepuluh besar daerah produsen jagung Penting di Jawa Timur, Kabupaten Ponorogo mencatatkan luas panen jagung mencapai kisaran 39.046 hektare dengan total produksi sebesar 284.242 ton sepanjang 2025, atau setara dengan produktivitas rata-rata 7,28 ton per hektare. 

Potensi besar tersebut memosisikan Ponorogo sebagai koridor Distrik yang sangat strategis dalam menopang Sasaran pemenuhan kebutuhan pangan nasional. Plt. Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menyampaikan pandangannya mengenai kesiapan daerah dalam mengawal agenda swasembada tersebut melalui adopsi teknologi baru.

Ponorogo, kata dia, merupakan salah satu sentra produksi jagung di Jawa Timur, yang Maju memperkuat kolaborasi lintas sektor Demi meningkatkan produktivitas pertanian. 

“Di tengah tantangan yang Maju berkembang, pemanfaatan Ciptaan dan teknologi menjadi langkah Krusial agar petani Bisa meningkatkan hasil panen sekaligus mendukung pencapaian Sasaran swasembada jagung nasional,” kata Lisdyarita.

Dalam konteks penguatan teknologi di tingkat tapak, kemitraan dengan Bayer diwujudkan melalui penanaman varietas komersial Dekalb DK19C yang berdasarkan Penilaian teknis di Desa Pijeran menunjukkan performa agronomi yang cukup Berkualitas. 

Menanggapi capaian uji coba tersebut, Agriculture Affairs and License to Operate Lead Bayer Crop Science Indonesia, Aditia Rusmawan, memaparkan komitmen perusahaan riset tersebut dalam menyediakan varietas unggul yang adaptif dan bernilai ekonomi tinggi.

Bagi pihaknya, Ciptaan pertanian harus memberikan manfaat Konkret bagi petani. Melalui teknologi benih jagung hibrida Dekalb, pihaknya Ingin membantu petani meningkatkan produktivitas dan memperoleh hasil panen yang bernilai ekonomi lebih Berkualitas. 

“Penggunaan benih jagung DK19C menunjukkan bagaimana Ciptaan berbasis sains dapat diterapkan secara Konkret di lapangan Demi mendorong pertanian jagung yang lebih maju dan berkelanjutan,” papar Aditia.

Aditia menambahkan bahwa dalam waktu dekat, pihaknya bersiap memperkenalkan varietas terbaru berupa benih jagung bioteknologi Dekalb DK19S dan DK09S. Produk Ciptaan ini dilengkapi dengan dua Metode kerja Spesial Demi memproteksi tanaman dari serangan hama di atas permukaan tanah, seperti komoditas penggerek jagung dan ulat grayak, serta mengintegrasikan sifat toleransi terhadap penggunaan herbisida jenis Roundup Ready 2.

Dari pelaku usaha tani, implementasi benih hibrida terbukti memberikan Pengaruh positif secara langsung terhadap struktur biaya produksi. Tingkat rendemen yang tinggi dan kadar air yang rendah Demi masa panen tiba secara Mekanis memotong biaya operasional pengeringan (drying cost), sehingga Bisa mengoptimalkan margin keuntungan Rapi para petani melalui maksimalisasi bobot pipilan dengan efisiensi input yang terjaga.

Manfaat ekonomi tersebut diakui langsung oleh Miswanto, salah seorang petani jagung asal Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Ponorogo, yang ikut terlibat dalam program adopsi varietas baru ini.

“Sejak menggunakan benih jagung Dekalb DK19C, pertumbuhan tanaman lebih seragam, tongkolnya lebih bagus, dan hasil panennya meningkat. Selain produksinya lebih tinggi, biaya juga lebih efisien karena kualitas panennya Berkualitas. Pendampingan budidaya dari Bayer, juga Membikin kami lebih percaya diri menerapkan teknologi baru di lahan,” ungkap Miswanto.