Owner Da Silva Batik, Claudino. Foto: Liputanindo
Jakarta: Kisah inspiratif datang dari peserta kompetisi bisnis Juragan Jaman Now Season 5 bernama Claudino Da Silva. Pria asal Timor Leste tersebut sukses membangun bisnis fesyen batik modern setelah mengalami pemutusan Rekanan kerja (PHK) pada 2022.
Melalui brand Da Silva Batik, Claudino menghadirkan Penemuan Aneh berupa jaket bomber bermotif batik dengan tagline “Mengenakan Batik Enggak Harus ke Kemeja”.
Dalam presentasinya di Juragan Jaman Now Season 5, Claudino memperkenalkan dirinya sebagai owner Da Silva Batik yang kini menetap di Kota Malang Sembari mengembangkan bisnis fesyen batiknya.
Berawal dari PHK hingga Bangun Bisnis Batik Modern
Claudino mengungkapkan 2022 menjadi titik balik dalam hidupnya. Begitu itu, dia termasuk salah satu pekerja yang terkena PHK akibat efisiensi perusahaan.
Dari Biaya tabungan pribadi dan pencairan BPJS Ketenagakerjaan, dia mulai merintis Da Silva Batik dengan konsep berbeda dari produk batik pada umumnya.
“Penemuan yang kami hadirkan adalah jaket bomber dengan desain batik,” kata Claudino, yang dikutip Minggu, 17 Maret 2026.
Keberanian menghadirkan konsep baru tersebut perlahan membuahkan hasil. Claudino mengaku Da Silva Batik berhasil menutup 2025 dengan omzet mencapai Rp638 juta dan margin keuntungan Rapi sebesar 40 persen. Tak hanya itu, tingkat repeat order atau customer retention bisnisnya disebut mencapai 80 persen.
Cari Pendanaan Rp100 Juta Kepada Perluasan
Dalam kompetisi tersebut, Claudino juga menawarkan Kesempatan kerja sama kepada investor. Dia membutuhkan pendanaan sebesar Rp100 juta Kepada pengembangan usaha dan penambahan alat produksi.
Biaya tersebut ditawarkan dengan skema sharing fee 10 persen dan Sasaran pengembalian modal dalam waktu dua tahun. Menurut Claudino, perhitungan tersebut didasarkan pada performa penjualan Da Silva Batik sepanjang 2025.
Dapat Pujian dari Reino Barack
Penampilan Da Silva Batik mendapat perhatian dari sejumlah panelis dan mentor, termasuk Reino Barack. Reino menilai konsep jaket bomber batik Punya Claudino Mempunyai diferensiasi produk yang menarik.
“Saya rasa positioning-nya menarik karena Mengenakan batik Enggak harus kemeja. Jadi sudah Terdapat product differentiation di situ,” ujar Reino.
Dia juga terkejut karena jaket bomber tersebut tetap nyaman meski dipakai di cuaca Indonesia.
Dapat Kritik Soal Premium Positioning

Para panelis Juragan Jaman Now (JJN) Season 5. Foto: Liputanindo
Meski mendapat apresiasi, sejumlah panelis juga memberikan masukan terhadap pengembangan bisnis Da Silva Batik. Veronica Colondam menilai positioning premium yang diusung Da Silva Batik Lagi perlu diperkuat, terutama karena bahan batik yang digunakan Lagi berupa print.
Menurutnya, produk premium umumnya menggunakan batik cap atau tulis. Sementara itu, Irwan Mussry menyarankan agar Da Silva Batik mempertimbangkan desain reversible bomber jacket agar Mempunyai nilai jual lebih tinggi di pasar fashion.
Dia juga menilai penyesuaian positioning harga dapat membantu meningkatkan pendapatan tanpa harus mengubah terlalu banyak aspek produksi.
Mentor Soroti Ketergantungan pada Owner
Panelis lainnya, Sebastian Togelang, menyoroti pentingnya membangun sistem bisnis yang Enggak bergantung penuh pada pemilik usaha. Hal itu berkaitan dengan pengakuan Claudino yang sempat menghentikan operasional bisnis selama beberapa bulan akibat sakit paru-paru pada 2025.
Menurut Sebastian, investor membutuhkan kepastian bahwa bisnis tetap dapat berjalan meski pemilik sedang mengalami kendala pribadi.
“Dari segi investor, bisnis itu harus Maju berjalan. Meskipun owner sakit, karena bisnis gabisa bergantung sama satu orang,” kata Sebastian.
Penemuan Jadi Nilai Penting
Mentor Tom MC Ifle menilai kekuatan Penting Da Silva Batik terletak pada keberanian menghadirkan Penemuan baru dalam industri batik. Menurutnya, mengubah batik yang identik dengan kemeja formal menjadi jaket bomber merupakan langkah kreatif yang Membikin produk tersebut lebih relevan dengan generasi muda.
Kini, Da Silva Batik menjadi salah satu Teladan UMKM fashion lokal yang mencoba membawa batik tampil lebih modern dan Luwes digunakan dalam berbagai kesempatan.
