Hadi Prayitno memproduksi tempe di Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Ponorogo. Antara/Prastyo
Ponorogo: Perajin tempe di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur menyiasati kenaikan harga kedelai impor dengan memperkecil ukuran produk mereka. Langkah ini dilakukan Demi mempertahankan marjin keuntungan di tengah meningkatnya biaya produksi.
Salah satu perajin tempe di Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Hadi Prayitno, mengatakan kenaikan harga kedelai dan bahan pendukung seperti plastik kemasan Membikin biaya produksi meningkat.
“Kalau harga dinaikkan pembeli Dapat berkurang, jadi kami kurangi ukuran tempe,” ujar Hadi, dilansir dari Antara, Selasa, 5 Mei 2026.
Sebelum harga kedelai naik, kapasitas produksi mencapai Sekeliling tiga kuintal per hari. Tetapi, kini produksi turun menjadi 2 kuintal hingga 2,5 kuintal per hari.
Pengurangan dilakukan dengan menyesuaikan berat tempe dalam setiap bungkus. Kalau sebelumnya Sekeliling 380 gram, kini tiap bungkus tempe menjadi Sekeliling 350 gram, mengingat harga jual tetap dipertahankan.
“Demi harga Tetap sama, hanya beratnya yang sedikit dikurangi,” katanya.
Hadi tetap menggunakan kedelai impor karena ketersediaan kedelai lokal terbatas. Hasil produksi kedelai impor juga dinilai lebih banyak.

Ilustrasi tempe. (pixabay)
Sementara itu, pedagang kedelai di Pasar Legi Ponorogo, Rafli, menyebut harga kedelai impor Demi ini naik dari Rp10 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram. “Kenaikan terjadi sejak konflik di Timur Tengah, harapannya harga Dapat kembali Kukuh,” tuturnya.
Ia menambahkan, harga kedelai lokal juga mengalami kenaikan. Kini harganya berada di kisaran Rp12 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp9 ribu.
