Jakarta – Angin segar dari kancah Dunia meniupkan optimisme ke pasar keuangan Indonesia. Nilai Salin rupiah menguat signifikan terhadap dolar Amerika Perkumpulan (AS) pada penutupan perdagangan Jumat sore, dipicu oleh kesepakatan gencatan perang tarif antara AS dan China yang meredakan ketegangan dagang dua ekonomi raksasa dunia tersebut.
Analis Bank Woori Kerabat, Rully Nova, menjelaskan bahwa penguatan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya minat investor terhadap aset di negara berkembang. “Rupiah hari ini ditutup menguat dipengaruhi oleh sentimen positif dari Dunia, Merukapan meningkatnya selera risk on investor pada aset-aset emerging market dikarenakan meredanya perang tarif AS dan China seiring kesepakatan gencatan tarif Kepada 90 hari ke depan,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat (16/5/2025).
Perjanjian penangguhan tarif yang tercapai di Jenewa, Swiss, menjadi pemicu Istimewa membaiknya persepsi risiko pasar. Dalam pertemuan tersebut, Amerika Perkumpulan sepakat menurunkan tarif terhadap China dari 145 persen menjadi 30 persen. Sementara itu, China juga memangkas tarif dari 125 persen menjadi 10 persen Kepada berbagai komoditas, termasuk produk bernilai rendah.
Penurunan tarif ini disambut Berkualitas oleh pasar, terbukti dari merosotnya VIX Index—pengukur volatilitas pasar—ke level terendah sejak pengumuman tarif besar-besaran oleh AS bulan Lewat.
“Sementara dari domestik, mulai membaliknya pasar saham juga ikut menopang penguatan rupiah,” tambah Rully. Optimisme di bursa saham nasional turut memberi kontribusi positif terhadap penguatan mata Dana Garuda.
Pada akhir perdagangan Jumat, rupiah tercatat menguat sebesar 84 poin atau 0,51 persen menjadi Rp16.445 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.529 per dolar AS. Data Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan serupa, dengan nilai Salin berada di level Rp16.424 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.535 per dolar AS.
Penguatan rupiah ini menandai respons positif pasar terhadap dinamika geopolitik Dunia yang lebih bersahabat. Investor kini berharap stabilitas ini Pandai berlanjut, membuka jalan bagi arus modal masuk yang lebih besar ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
