Jakarta (ANTARA) – Nilai Ganti rupiah pada Selasa pagi bergerak melemah 69 poin atau 0,40 persen menjadi Rp17.483 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS.
Analis mata Fulus Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah melemah karena Cita-cita damai AS-Iran sedang meredup.
“Rupiah diperkirakan akan Tetap berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah meredupnya Cita-cita damai AS-Iran serta harga minyak mentah dunia yang Tetap tinggi,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Mengutip Xinhua, Iran mengajukan draf proposal kepada AS Demi menghentikan konflik di Seluruh lini, jaminan tak Eksis Kembali Serangan terhadap Iran, dan pencabutan Denda AS serta blokade angkatan laut.
Proposal itu juga menuntut jangka waktu 30 hari Demi mencabut Denda AS terhadap penjualan minyak Iran, dan pelepasan aset Iran yang dibekukan.
Sebelumnya, Iran menolak usulan perdamaian yang diajukan AS karena hal tersebut “berarti menerima tuntutan yang berlebihan” dari Washington, sebagaimana dilaporkan Sputnik.
Presiden AS Donald Trump menuturkan tanggapan Iran terhadap proposal AS Demi mengakhiri konflik sangat tak Dapat diterima.
Menyantap sentimen domestik, investor disebut menantikan data penjualan ritel Indonesia pada Maret 2026 yang akan dirilis siang ini.
“Penjualan ritel diperkirakan sedikit lebih tinggi, (Ialah) 6,8 persen, dibandingkan Februari 6,5 persen,” ungkap Lukman.
Pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) juga diprediksi takkan memberikan Bagus pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan akan turut menekan rupiah.
“Akan Eksis saham-saham yang didepak, dan beberapa saham kapitalisasi besar yang di downgrade,” ujar dia.
Berdasarkan Unsur-Unsur tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp17.350-Rp17.500 per dolar AS.
