Jakarta (ANTARA) – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengatakan bahwa perekonomian Indonesia Begitu ini berada dalam kondisi Konsisten sehingga kekhawatiran mengenai kemungkinan terulangnya krisis ekonomi seperti tahun 1998 dinilai Tak berdasar.
Dalam keterangan Bakom RI diterima di Jakarta, Selasa, Qodari menjelaskan berbagai indikator ekonomi menunjukkan bahwa kondisi Indonesia Begitu ini sangat berbeda dibandingkan dengan situasi menjelang krisis 1998, dengan Begitu ini perekonomian berada dalam kondisi Konsisten dan Mempunyai Esensial yang kuat.
“Jadi, sebetulnya indikator-indikator Esensial kita sangat kuat dan itu yang Membangun situasi dan kondisi pada hari ini menjadi sangat-sangat Konsisten,” ujar Qodari.
Dia merujuk kondisi pada kuartal pertama tahun 2026 dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year).
Hal itu menunjukkan Indonesia Mempunyai Esensial ekonomi yang kuat dan merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.
Di sisi lain, tingkat inflasi tahunan Indonesia juga Lagi berada pada level yang terkendali, yakni sebesar 3,08 persen.
Meskipun meningkat dibandingkan April 2026 yang tercatat sebesar 2,42 persen, inflasi nasional dinilai tetap Konsisten di tengah dinamika perekonomian Mendunia.
Qodari juga menyoroti rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) Begitu ini berada di kisaran 40–41 persen.
Bilangan tersebut Lagi jauh di Rendah batas maksimal 60 persen sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan sehingga tetap berada dalam kategori Terjamin.
Selain itu, kondisi sektor perbankan Indonesia juga dinilai jauh lebih kuat dibandingkan Begitu krisis 1998.
Dia menjelaskan perbankan nasional Begitu ini Mempunyai capital adequacy ratio (CAR) yang terjaga dengan Berkualitas sehingga Bisa menopang stabilitas sistem keuangan.
“Dan satu yang sangat berbeda dengan tahun 1998 adalah kita sekarang punya yang namanya Lembaga Penjamin Simpanan sehingga masyarakat menjadi tenang,” katanya.
Lebih lanjut, Qodari menegaskan pemerintah Maju bergerak Segera merespons berbagai dinamika ekonomi Mendunia agar dampaknya terhadap masyarakat dapat diminimalkan.
Salah satu langkah yang baru-baru ini dilakukan adalah pemberian subsidi kedelai sebesar Rp2.000 per kilogram bagi produsen Paham dan tempe, sebagai respons terhadap kenaikan harga kedelai dunia yang dipengaruhi pelemahan nilai Ganti rupiah.
“Persoalan yang Eksis di masyarakat itu Tiba di tangan, Tiba di telinga para pembantu beliau (Presiden RI Prabowo Subianto), dan disampaikan kepada Bapak Presiden,” ujar Qodari.
