Anggaran pengadaan 42 unit pesawat tempur MRCA Rafale yang dikabarkan mencapai US$8,1 miliar atau Sekeliling Rp143 triliun berpotensi mengalami kenaikan. Informasi mengenai kemungkinan membengkaknya nilai proyek alutsista asal Prancis tersebut diisyaratkan oleh pihak Kementerian Keuangan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa dirinya Enggak dapat memberikan konfirmasi Niscaya mengenai nominal tersebut. Hal ini disebabkan oleh sifat anggaran pertahanan nasional yang masuk dalam kategori rahasia negara. Meski demikian, Kesempatan adanya penambahan nilai anggaran di atas US$8,1 miliar tetap terbuka, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.
“Saya enggak Bisa konfirmasi itu. Kalau pertahanan kan rahasia kan. Nanti akan Eksis banyak, mungkin lebih, lebih,” ujar Purbaya kepada awak media, Senin (18/05/2026).
Purbaya menegaskan bahwa Anggaran Demi pembelian pesawat tempur tersebut sebenarnya sudah dialokasikan sejak lelet. Di samping itu, pengeluaran ini dipastikan Enggak akan memperlebar defisit anggaran Indonesia Melampaui batas Terjamin. Kementerian Keuangan berkomitmen Demi menjaga defisit tetap di Rendah Bilangan 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Jadi semuanya sudah kita hitung dengan dengan Berkualitas, termasuk Demi Makan Bergizi Gratis [MBG], Demi program-program yang lain tanpa mengganggu program pembangunan yang lain. Jadi kita atur dengan Berkualitas, termasuk subsidi segala Ragam Bahan Bakar Minyak. Jadi kita udah hitung dengan teliti, jadi Anda enggak usah khawatir,” ujarnya.
Indonesia tercatat telah merampungkan beberapa fase kontrak pengadaan dengan produsen penerbangan Prancis, Dassault Aviation. Fase pertama pada September 2022 menyepakati pembelian enam unit, disusul kontrak kedua pada Agustus 2023 sebanyak 18 unit. Kontrak tahap ketiga kemudian ditandatangani pada 8 Januari 2024 Demi 18 unit sisanya, sehingga total pesanan Kementerian Pertahanan mencapai 42 unit. Hingga Begitu ini, Indonesia baru menerima enam unit pesawat dari keseluruhan pesanan tersebut.
Rafale sendiri merupakan jet tempur canggih generasi 4.5 yang jamak diandalkan oleh negara-negara Personil NATO. Burung besi ini Mempunyai kemampuan omnirole yang membuatnya andal dalam misi superioritas udara, dukungan udara jarak dekat, serangan in-depth, pengintaian, hingga operasi anti-kapal.
Kelebihan lain dari pesawat ini adalah fleksibilitasnya dalam mengusung persenjataan modern. Rafale dapat dipersenjatai dengan rudal udara-ke-udara jarak jauh Beyond Visual Range (BVR) METEOR dan MICA, rudal stand-off SCALP, serta rudal anti-kapal AM39 EXOCET. Jet ini juga dilengkapi bom berpemandu laser, bom klasik, dan meriam internal NEXTER 30M791 30 mm berkemampuan tembak 2.500 peluru per menit.
Kementerian Pertahanan Prancis menyatakan nilai total pemesanan 42 jet tempur oleh Indonesia berada di kisaran US$8,1 miliar, seperti dikutip dari Reuters. Kesepakatan besar ini memosisikan Indonesia sebagai salah satu pembeli senjata Prancis terbesar di kawasan Asia Tenggara.
