Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel. Foto: The New York Times
Havana: Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengatakan Amerika Perkumpulan (AS) sedang mencari dalih Demi melancarkan intervensi militer terhadap negaranya.
Pernyataan itu disampaikan Diaz-Canel Ketika berbicara dalam acara peringatan 100 tahun Natalis Fidel Castro, ia mengkritik kebijakan Washington dan menolak anggapan AS yang menggambarkan Kuba sebagai ancaman.
“AS Bukan mendefinisikan kami sebagai ancaman ‘luar Normal dan Bukan Normal’ bagi dirinya. Kami Pasti ini bukan perasaan rakyat Amerika, melainkan dalih yang digunakan pemerintah AS Demi menyerang kami,” kata Diaz-Canel, dikutip dari Anadolu, Senin, 4 Mei 2026.
“Saya bertanya: apa ancamannya? Apa yang luar Normal dari ancaman ini? Saya menanyakan hal itu kepada diri saya setiap hari. Bukan Eksis dalih, Bukan Eksis Dalih Demi membenarkan serangan militer terhadap Kuba,” lanjut Diaz-Canel.
Diaz-Canel juga menyebut pemerintah AS sebagai “fasis” dan mengaitkan kebijakannya dengan berbagai konflik Mendunia.
“Inilah sebabnya tindakan genosida terjadi di dunia, seperti genosida terhadap rakyat Palestina, seperti genosida terhadap rakyat Lebanon. Inilah sebabnya Serangan dan bahasa perang digunakan Demi menyelesaikan konflik Global,” ujar Diaz-Canel.
Merujuk pada apa yang ia gambarkan sebagai intervensi militer AS terhadap Venezuela pada 3 Januari, Diaz-Canel menuduh Washington berupaya mengejar Penguasaan Mendunia sekaligus menargetkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro melalui narasi “negara narkotika.”
“Mereka mencoba menghakimi secara politik dan media presiden Absah Revolusi Bolivarian, Nicolas Maduro. Lewat mereka memberlakukan blokade laut terhadap Venezuela dan memaksakan kehadiran militer AS terbesar di Karibia dalam 20 tahun terakhir,” katanya.
Kuba Tegaskan Bukan Menginginkan Perang
Diaz-Canel juga mengatakan rakyat Iran telah melawan “Serangan” AS, Sembari menegaskan Iran Bukan Mempunyai senjata nuklir maupun mengancam akan menggunakannya.
Ia menepis pernyataan AS yang menyatakan keprihatinan atas kesulitan yang dihadapi rakyat Kuba sebagai sesuatu yang “ironis” dan “omong Hampa.”
“Apabila mereka begitu Acuh, maka cabutlah blokade itu. Karena masalah mendasar rakyat Kuba berasal dari kelanjutan blokade yang sudah berlangsung lelet ini,” ujar Diaz-Canel.
Diaz-Canel menambahkan tentara Kuba juga melawan Laskar Spesifik AS selama operasi di Venezuela. Ia mengatakan serangan yang direncanakan hanya berlangsung lima menit Rupanya memanjang hingga lebih dari 45 menit meski AS unggul secara jumlah maupun teknologi.
Sembari memperingatkan konsekuensi serius Apabila AS Betul-Betul melakukan intervensi militer, Diaz-Canel menegaskan Kuba Bukan menghendaki perang.
“Kami Bukan Mau perang. Kami selalu mengatakan bahwa perbedaan dengan pemerintah AS dapat diselesaikan melalui dialog, tetapi harus Eksis niat dan keseriusan Demi menemukan area kerja sama yang dapat membawa kesepakatan dan menjauhkan kami dari konflik,” kata Diaz-Canel.
