Jakarta (ANTARA) – Presiden Prabowo Subianto menerima hasil survei Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang secara Tertentu mengkaji Dampak program Makan Bergizi Gratis atau MBG terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam pertemuan di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Selasa sore.
Jajaran DEN yang menghadap Presiden Prabowo dipimpin Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan, kemudian Eksis Septian Hario Seto selaku Member sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN, Mochammad Firman Hidayat selaku Member DEN, dan Eksis pula ekonom senior sekaligus eks menteri keuangan Chatib Basri.
“Kami dipanggil oleh Presiden. Saya kira penjelasan pertama adalah hasil survei yang dilakukan oleh Dewan Ekonomi mengenai Penyelenggaraan makan bergizi (MBG, red.) yang telah dilakukan di 800 titik, (survei, red.) betul-betul dengan profesional,” kata Luhut Begitu jumpa pers selepas pertemuan DEN dengan Presiden Prabowo di pelataran Istana Merdeka, Jakarta, Selasa malam.
Luhut kemudian meminta anggotanya, Septian Hario Seto, Kepada menjelaskan hal-hal yang menjadi sorotan dari hasil survei DEN mengenai MBG.
Hasil survei DEN menyasar pada 800 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dipilih secara acak menggunakan perangkat komputer.
“Eksis 800 titik yang kami pilih secara Secara acak, sampling. Jadi, ini komputer yang memilih sampelnya ya. Jadi, Eksis yang di Nias Selatan, Eksis yang di Halmahera, Eksis yang di Papua segala Jenis. Jadi, ini Dapat digambarkan, merepresentasikan dari total keseluruhan populasi SPPG yang Eksis,” kata Seto dalam jumpa pers yang sama.
Seto kemudian mengungkap Dampak positif pertama dari MBG yang terlihat dari hasil survei, Yakni sebanyak 86,9 persen SPPG yang menjadi sasaran survei paling Tak melibatkan satu UMKM sebagai pemasok bahan baku (supplier).
“Ini adalah UMKM yang memang Eksis di dekat Posisi dari SPPG tersebut. Kalau dihitung secara rata-rata, Eksis tiga UMKM yang digandeng oleh SPPG ini. Jadi, ini membuktikan bahwa program SPPG MBG ini, selain tadi mencapai tujuan Bapak Presiden Kepada perbaikan gizi dari anak-anak Indonesia, ini juga menciptakan ekosistem supply chain yang baru,” ujarnya.
Seto melanjutkan Dampak positif kedua sebanyak 64–65 persen sektor UMKM yang masuk ekosistem supply chain MBG itu berada di Posisi yang sama dengan SPPG-nya.
Artinya, Jernih Seto, para pemasok bahan baku itu bukan perusahaan-perusahaan besar, melainkan UMKM lokal yang lokasinya sama dengan daerah SPPG-nya.
Dampak positif ketiga, Seto menyampaikan, hasil survei DEN menunjukkan 99 persen tenaga kerja yang diserap oleh SPPG merupakan Anggota Sekeliling Posisi berdirinya SPPG.
Walaupun demikian, Eksis beberapa saran yang diberikan oleh DEN setelah mengkaji hasil survei, Yakni perlunya Eksis Donasi permodalan Kepada UMKM yang nantinya berpotensi masuk rantai ekosistem supply chain SPPG.
“Jadi, mereka Dapat mempunyai modal kerja yang lebih bagus, akhirnya Dapat melayani SPPG-nya lebih banyak, komoditasnya juga lebih beraneka ragam,” ujar Seto.
