Perry Warjiyo Bongkar Strategi BI Tahan Gejolak Rupiah

Konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Foto: Liputanindo/Richard Alkhalik.


Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan konsisten menerapkan bauran kebijakan yang terukur. Salah satunya dengan menahan Bangsa Kembang acuan atau BI-rate di level 4,75 persen selama rentang Januari hingga April 2026.

Hal tersebut dipaparkan Perry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) II Tahun 2026 di Kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.

Ia menjelaskan, ketahanan nilai Salin rupiah Maju dijaga dan tingkat pelemahannya tergolong sepadan Kalau dikomparasikan dengan mata Duit negara lain. Sebelumnya Perry telah menginstruksikan tujuh langkah Buat mempertahankan stabilitas nilai Salin rupiah dan menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5±1 persen.



Konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Foto: Liputanindo/Richard Alkhalik.

 

 

BI pastikan ketersediaan likuiditas

Serangkaian langkah intervensi tersebut terukur, mulai dari operasi valas berlapis di pasar domestik maupun Dunia, penguatan Bangsa Kembang SRBI, hingga pembelian SBN senilai Rp123,1 triliun sebagai Figur sinergi fiskal-moneter.

Selain itu, Bank Indonesia juga memastikan ketersediaan likuiditas dengan mematok pertumbuhan Duit Primer di atas 10 persen dan memperdalam pasar Duit mengacu pada Blueprint Pendalaman Pasar Duit (BPPU) 2030.

Sementara dari sisi regulasi, Perry mengatakan BI juga akan Maju bersinergi dengan OJK Buat memperketat pengawasan terhadap terhadap bank dan korporasi pembelian dolar AS, serta memperkuat ambang batas pelaporan Lewat Lintas Devisa (LLD) ke luar negeri menjadi USD50 ribu yang efektif sejak April 2026.

“Bank Indonesia Maju memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran didukung oleh pendalaman pasar Duit Buat memastikan stabilitas dan eksternal ekonomi yang kuat dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang tinggi,” Jernih dia.