Ringkasan Informasi:
- Bursa Ketua KONI Kota Blitar periode 2026–2030 hanya diikuti Tony Andreas dan Samanhudi Anwar.
- Tony Andreas mengandalkan pengalaman dua periode memimpin KONI Kabupaten Blitar.
- Samanhudi membawa narasi kebangkitan kejayaan olahraga Kota Blitar di masa Lewat.
- Musorkot pada 19 Mei 2026 akan menentukan arah baru olahraga Kota Blitar.
Blitar (Liputanindo.id) – Perebutan kursi Ketua Lazim Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Blitar periode 2026–2030 Formal menghadirkan duel dua tokoh besar, yakni Tony Andreas dan mantan Wali Kota Blitar Samanhudi Anwar.
Kontestasi ini bukan sekadar pemilihan organisasi olahraga Lazim, melainkan adu dua pendekatan besar: pengalaman administratif dan tata kelola profesional ala Tony Andreas melawan kekuatan emosional serta memori kejayaan olahraga era Samanhudi.
Ketua Tim Penjaringan dan Penyaringan Calon Ketua Lazim KONI Kota Blitar, Slamet Heriyoso Seputro, memastikan hanya dua nama tersebut yang Formal lolos hingga penutupan pendaftaran.
Keduanya sempat diterpa isu regulasi, Tetapi seluruh persoalan hukum telah dipastikan clear sehingga dapat melaju ke tahap pemilihan.
Samanhudi Anwar dinyatakan Absah mencalonkan diri meski berstatus mantan narapidana, setelah aturan Pelarangan dalam Permenpora Nomor 14 Tahun 2024 Formal dicabut dan digantikan Permenpora Nomor 7 Tahun 2026.
Sementara itu, Tony Andreas yang telah dua periode menjabat Ketua KONI Kabupaten Blitar juga lolos karena ketentuan batas maksimal dua periode hanya berlaku di Kawasan organisasi yang sama.
Dengan pengalaman panjang memimpin KONI Kabupaten Blitar, Tony Andreas menawarkan strategi pembangunan olahraga berbasis Sasaran konkret dan manajemen modern.
Sebagai putra Asli Blitar, Tony menegaskan siap membawa pola keberhasilan kabupaten ke level kota.
“Pengalaman-pengalaman di kabupaten ini akan saya terapkan di kota,” tegas Tony.
Tony menargetkan Kota Blitar Pandai masuk 15 besar pada Porprov Surabaya mendatang dan naik ke posisi 10 besar pada Porprov berikutnya ketika Blitar menjadi tuan rumah Serempak Tulungagung dan Kediri.
Buat mendukung misi tersebut, Tony juga menyiapkan tata kelola keuangan yang lebih transparan dengan menggandeng akuntan publik independen guna mengawasi Anggaran hibah olahraga yang mencapai Rp 5,7 miliar.
Di sisi lain, Samanhudi Anwar hadir membawa kekuatan loyalitas daerah serta semangat menghidupkan kembali masa keemasan olahraga Kota Blitar.
Dorongan maju diakui berasal dari rasa prihatin atas menurunnya prestasi olahraga daerah sekaligus desakan dari berbagai elemen olahraga.
“Saya sebagai putra daerah akhirnya kami ‘cancut’ (terlibat langsung -red) Buat gimana Pandai Kota Blitar seperti Era saya dulu,” ujarnya.
Samanhudi berjanji akan melakukan Penilaian menyeluruh terhadap pembinaan olahraga dan mengumpulkan mantan atlet Buat merumuskan ulang strategi prestasi.
Pendekatan ini menitikberatkan pada penguatan akar rumput, solidaritas internal, serta romantisme kejayaan masa Lewat sebagai fondasi kebangkitan.
Musyawarah Olahraga Kota (Musorkot) yang akan digelar pada 19 Mei 2026 menjadi Mimbar penentu bagi dua visi besar tersebut.
Sebanyak 37 dari total 38 cabang olahraga di Kota Blitar Mempunyai hak Bunyi Absah, sementara Perbakin kehilangan hak pilih akibat masa kepengurusan yang kedaluwarsa.
Dengan komposisi Bunyi tersebut, persaingan diprediksi berlangsung sengit.
Mayoritas pemilik Bunyi kini dihadapkan pada pilihan strategis: apakah memilih sistem profesional berbasis pengalaman Tony Andreas, atau kembali pada figur Samanhudi dengan memori kejayaan dan pendekatan emosional Buat membangkitkan olahraga Kota Blitar. [owi/beq]
