Sumber gambar, Marcos González Díaz
David Camacho kemungkinan besar Tak menyukai judul dalam artikel ini.
Pertama, karena ia Tak menyebut dirinya dengan julukan “anak jenius”, meskipun IQ-nya mencapai 162—jauh di atas Bilangan 130 yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai batas minimal Kepada mengategorikan seseorang dengan kemampuan tinggi atau kecerdasan luar Lazim.
“Para jenius itu sudah Terdapat di makam. Apabila mereka jenius, itu karena mereka melakukan hal-hal yang luar Lazim,” katanya dengan rendah hati kepada BBC Mundo.
Kedua, dia mengaku Tak terlalu suka dibandingkan dengan sosok-sosok brilian lain seperti fisikawan Stephen Hawking atau Albert Einstein, yang diperkirakan Mempunyai IQ Sekeliling 160.
“Saya berusia 10 tahun dan baru mulai. Mungkin saya akan menjadi jenius ketika berusia 70 tahun, tetapi Ketika sudah melakukan hal-hal luar Lazim dalam hidup, bukan?” katanya Sembari tersenyum lebar.
Sumber gambar, Arsip pribadi
David mengatakan Terdapat satu sosok yang Benar-Benar menginspirasinya. Dia bahkan meminjam nama belakang sosok itu Kepada media sosial: “David da Vinci”.
“Guru saya di taman kanak-kanak sering bercerita tentang Leonardo da Vinci dan bagaimana dia adalah seorang polimata: seseorang yang menggabungkan sains, teknologi, rekayasa, matematika, seni, humaniora… sedikit dari segalanya,” kenangnya.
“Saya sangat terkesan dengan kisahnya dan kemudian saya Berbicara: ‘Saya Ingin menjadi seperti dia’, Kepada melakukan hal-hal besar.”
Ketika ini, David tampaknya Tak salah arah menuju impian itu.
Selalu tersenyum, fasih berbicara, dan dengan perkataan yang tertata rapi, David dengan santai menuturkan pengalamannya menyampaikan ceramah di universitas dan kepada organisasi Global. Dia juga membeberkan rencananya Kepada menerbitkan sebuah Kitab.
Yang paling berkesan baginya adalah “kesempatan luar Lazim” Kepada mendatangi markas NASA di Houston dan mengikuti program pelatihan antariksa. Ke sanalah masa depannya mungkin mengarah.
“Saya Ingin melakukan operasi bedah pertama di luar angkasa. Membikin SpaceX berikutnya, menjadi Elon Musk berikutnya, kira-kira seperti itu. Menggabungkan semuanya dengan bisnis, dengan humaniora… kehidupan saya terbuka di depan!” katanya.
Sumber gambar, NASA
Ketika ini, David belajar di sebuah sekolah Global daring yang akan memberinya sertifikat Kepada Dapat masuk universitas. Dia berbicara dalam bahasa Spanyol, Inggris, Prancis, dan Jerman, dan baru mulai belajar bahasa Rusia, Portugis, serta Italia.
Ia mengatakan bahwa Mempunyai IQ setinggi itu adalah “sebuah kebanggaan” dan bahwa hal yang paling ia sukai dari menjadi anak dengan kemampuan tinggi adalah Dapat memahami sesuatu dengan Segera dan belajar lebih Segera.
“Tak banyak orang yang terlahir dengan ini, jadi saya Ingin menggunakannya Kepada kepentingan anak-anak dan kesejahteraan umat Insan, meninggalkan jejak saya,” ujarnya.
Tetapi, menurutnya, banyak orang punya ekspektasi tinggi terhadap anak jenius.
“Banyak orang berpikir bahwa kami harus Mengerti segalanya, tetapi kami bukan peramal, kami perlu diajari. Itu Tak berarti kami Mempunyai Sekalian jawaban atas alam semesta.”
Ia menambahkan Sembari tertawa: “Sering kali saya ditantang, dengan Berbicara: ‘Kalau Engkau anak jenius, sebutkan akar kuadrat dari entah apa, kalikan dengan sekian…’. Tunggu dulu, kalau saya belum mempelajarinya, saya Tak akan Mengerti.”
Bullying jadi Kesempatan wirausaha
Ibu David, Claudia Flores, mengingat petunjuk-petunjuk awal yang membuatnya berpikir bahwa Terdapat sesuatu yang istimewa pada diri David.
“Kami menempuh perjalanan darat yang panjang dan dia hafal Sekeliling 40 Musik anak-anak. Kami memasukkannya ke sekolah dan dia Senang selama 15 hari, tetapi setelah itu dia Berbicara kepada saya: ‘Pindahkan Diriku ke kelas anak-anak yang lebih besar, Diriku Ingin belajar lebih banyak’,” kata Claudia kepada BBC Mundo.
“Saya sangat Jenuh,” timpal David.
Tetapi, momen yang menentukan muncul Ketika pandemi Covid-19.
Claudia duduk di samping David Ketika ia mengikuti kelas daring dan menyadari bahwa putranya belajar jauh lebih Segera dibandingkan anak-anak lain.
“Saya bertanya Tiba Bilangan berapa dia Dapat menghitung dan kami menghitung hingga jutaan. Jadi saya mulai menyelidiki apakah dia anak dengan kemampuan tinggi, dan para spesialis memberi Mengerti kami bagaimana menanganinya,” kata Claudia.
Sumber gambar, Marcos González Díaz
Tetapi, terlepas dari Sekalian pencapaiannya, perjalanan hingga ke titik ini tidaklah mudah bagi David.
David mengaku mengalami bullying atau perundungan yang “sangat berat” di sekolah yang ia anggap sebagai sekolah impiannya.
“Anak-anak lain Tak mengerti mengapa seseorang yang baru masuk sekolah Dapat Mengerti lebih banyak hal daripada mereka, atau bagaimana saya Dapat melakukan begitu banyak hal. Metode mereka mengekspresikannya adalah dengan melakukan perundungan terhadap saya,” jelasnya.
Baru-baru ini, David memutuskan Kepada memanfaatkan pengalaman Tak baik itu Kepada mengembangkan Macayos, sebuah aplikasi yang akan tersedia tahun ini.
David mendefinisikannya sebagai “platform digital pertama di Meksiko yang dibuat dengan kecerdasan buatan, yang secara menyenangkan mengajarkan anak-anak keterampilan Kepada mengelola emosi mereka”.
Sumber gambar, NASA
Kepada mereka yang merundung anak-anak seperti dirinya, David memohon agar mereka bersikap empati dan berteman dengan siapapun. “Kami bukan alien: kami Mempunyai kemampuan tinggi, tetapi kami tetap anak-anak.”
Faktanya, meskipun dia punya banyak Sahabat orang dewasa karena merasa “Tak cocok” dengan banyak anak, David memastikan bahwa dirinya juga melakukan hal-hal Lazim sesuai usianya, seperti bermain dengan balok-balok mainan atau pergi ke taman.
“Banyak yang berpikir saya adalah anak yang menyamar sebagai orang dewasa, tetapi saya adalah seorang anak yang melakukan hal-hal anak-anak… dan juga sebagian hal orang dewasa,” paparnya.
Analisa anak berbakat
Analisa bahwa David punya kemampuan tinggi datang relatif Segera dalam hidupnya. Tetapi, Terdapat banyak anak lain dianggap mengidap gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) karena Resah atau Jenuh di sekolah. Kondisi ini juga Dapat disalahartikan sebagai autisme.
“Yang terjadi adalah anak itu sudah memahami apa yang sedang dijelaskan dan menginginkan sesuatu yang lebih,” kata Claudia, ibu David.
Bahkan, menurut perkiraan yang ditangani oleh lembaga seperti Centro de Atención al Talento (CEDAT), di Meksiko diperkirakan Dapat jadi Terdapat satu juta anak berbakat. Tetapi, sebagian besar belum teridentifikasi dan 93% dari mereka salah didiagnosis.
“Saya Percaya bahwa di Meksiko Terdapat banyak anak seperti saya yang Tak mendapatkan dukungan maupun bimbingan. Saya sangat sedih Menonton bahwa Terdapat Bakat-Bakat besar yang harus pergi ke negara lain karena keluarganya Tak Mempunyai sumber daya atau karena di sini mereka Tak menemukan Kesempatan,” ucap David.
Sumber gambar, Marcos González Díaz
Sepanjang wawancara, David berbicara dengan sangat Segera. Ia meloncat dari satu topik ke topik lain dengan mudah dan kembali ke belakang Apabila merasa lupa menyebutkan sesuatu yang Krusial.
Claudia mengakui bahwa menjadi ibu dari anak seperti ini merupakan tantangan besar.
“Menjadi ibu dari Edgar David Camacho Flores itu sangat mudah, karena dia anak yang tenang, penuh kasih dan Bagus hati. Tetapi menjadi ibu dari David da Vinci itu tantangannya, karena dia bergerak Segera, berlari ke sana sini…,” ujarnya.
“Saya bilang kepadanya bahwa dia punya dua tupai kecil di kepalanya. Tetapi dia bilang Tak, bahwa dia punya sebuah komputer kuantum,” tutupnya Sembari bercanda.
