Assoc.Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan Tak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta akan segera memasuki usia 500 tahun. Lima abad.
Tak banyak kota di dunia yang Mempunyai perjalanan sejarah sepanjang itu sekaligus Lagi menjadi pusat politik, ekonomi, budaya, dan kini transformasi digital sebuah negara.
Tetapi Malah di usia yang istimewa ini, saya Mau mengajukan sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menentukan masa depan Jakarta.
Apakah kita sedang membangun kota? Atau sedang membangun Insan?
Karena sejarah membuktikan, sebuah kota Bisa dipenuhi gedung pencakar langit, jalan tol bertingkat, jaringan internet tercepat, bahkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), tetapi pada Ketika yang sama Malah kehilangan sesuatu yang paling mendasar Yakni rasa saling percaya, rasa Mempunyai, dan Cita-cita.
Paradoks inilah yang sedang dihadapi Dekat Sekalian kota besar di dunia, Tak terkecuali Jakarta.
Kota Modern Sedang Mengalami Krisis yang Tak Terlihat
Selama puluhan tahun kita terbiasa mengukur keberhasilan kota melalui Nomor. Berapa kilometer jalan dibangun. Berapa investasi masuk. Berapa persen pertumbuhan ekonomi. Berapa banyak gedung bertingkat berdiri.
Sekalian itu memang Krusial. Tetapi penelitian Dunia menunjukkan bahwa indikator-indikator tersebut Tak Kembali cukup menjelaskan kualitas hidup masyarakat.
Semakin modern sebuah kota, belum tentu semakin Senang penduduknya.
Penelitian lintas lebih dari 70 negara menggunakan World Values Survey menemukan pola yang konsisten Yakni penduduk kota-kota besar sering kali Tak lebih Senang dibanding mereka yang tinggal di kota kecil atau Daerah pedesaan. Bahkan muncul fenomena yang disebut urban happiness paradox, ketika kemajuan ekonomi Tak Mekanis diikuti oleh peningkatan kesejahteraan psikologis.
Mengapa? Karena Insan Tak hanya membutuhkan pendapatan. Insan juga membutuhkan Rekanan, kepercayaan, Maksud, hingga komunitas.
Ancaman Jakarta Bukan Hanya Banjir
Apabila saya diminta menyebut ancaman terbesar Jakarta lima puluh tahun mendatang, jawaban saya mungkin berbeda dengan kebanyakan orang, bukan banjir, kemacetan, bahkan bukan soal perubahan iklim. Melainkan krisis keterhubungan Insan.
WHO telah menempatkan kesepian (loneliness) sebagai salah satu tantangan kesehatan masyarakat Mendunia. Ironisnya, fenomena ini Malah paling banyak muncul di kota-kota besar.
Orang tinggal berdampingan dalam apartemen yang sama, naik MRT yang sama, bekerja di gedung yang sama, tetapi sayangnya Tak saling mengenal.
Media sosial memperlihatkan ribuan Mitra. Tetapi ketika seseorang mengalami krisis, belum tentu Terdapat satu orang yang Akurat-Akurat datang mengetuk pintunya. Kota yang padat belum tentu menghadirkan kedekatan.
Jakarta Sedang Memasuki Era Baru
Lima ratus tahun pertama Jakarta dibentuk oleh pelabuhan, perdagangan, kolonialisme, kemerdekaan, industrialisasi, dan urbanisasi. Lima ratus tahun berikutnya akan dibentuk oleh sesuatu yang sama sekali berbeda.
Artificial Intelligence. Fenomena kecepatan teknologi yang pertama kalinya dalam sejarah Insan, dimana sebuah kota harus belajar hidup berdampingan dengan algoritma.
AI akan membantu memprediksi banjir, mengatur Lewat lintas, mengelola layanan kesehatan, menyusun kebijakan berbasis data. Tetapi AI juga membawa risiko baru Yakni disinformasi, polarisasi, bias algoritma, kesenjangan digital.
Karena itu, cita-cita Jakarta Tak boleh berhenti pada Smart City. Sekalian kota besar Mau menjadi Smart City, maka yang akan membedakan Jakarta adalah kemampuannya menjadi Wise City
Kota yang menggunakan teknologi Buat memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya.
Jangan hanya bangun Jalan, Bangun Kepercayaan
Robert Putnam, salah satu ilmuwan sosial paling berpengaruh di dunia, memperkenalkan konsep social capital. Kesimpulannya sederhana tetapi sangat kuat. Negara dan kota yang Mempunyai tingkat kepercayaan sosial tinggi cenderung lebih Terjamin, lebih sehat, lebih produktif, bahkan lebih sejahtera.
Artinya, modal terbesar sebuah kota bukan hanya APBD. Bukan investasi, bukan juga gedung, tetapi kepercayaan antarwarganya.
Jalan raya menghubungkan tempat, Tetapi Kepercayaanlah yang menghubungkan Insan. Sehingga kota tanpa kepercayaan, akan selalu membayar biaya sosial yang jauh lebih mahal.
Perubahan Iklim Adalah Krisis Keadilan
Jakarta memang berbicara tentang banjir, rob, penurunan muka tanah, dan kenaikan permukaan laut. Tetapi sesungguhnya perubahan iklim bukan hanya persoalan lingkungan. Perubahan iklim adalah persoalan keadilan.
Berbagai kajian mengenai Jakarta menunjukkan bahwa masyarakat kampung dan Golongan berpenghasilan rendah sering kali menjadi pihak yang paling terdampak oleh banjir, penurunan tanah, dan kebijakan relokasi. Ironisnya, mereka bukanlah Golongan yang paling banyak berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan.
Pada Ketika yang sama, komunitas-komunitas tersebut Malah memperlihatkan solidaritas dan kemampuan beradaptasi yang luar Normal ketika menghadapi krisis.
Karena itu, ukuran kota yang berhasil bukan hanya berapa Segera banjir surut. Tetapi juga seberapa adil kota melindungi mereka yang paling rentan.
Belajar dari Kota-Kota Terbaik Dunia
Kota-kota yang hari ini menjadi rujukan dunia Rupanya Mempunyai satu kesamaan. Mereka Tak Kembali hanya membangun infrastruktur. Mereka membangun kehidupan.
Di kota seperti Kopenhagen, ruang publik dirancang agar orang lebih banyak berjalan kaki, bersepeda, dan berinteraksi.
Di Paris berkembang konsep 15-Minute City, Yakni kota di mana kebutuhan dasar Kaum dapat dijangkau dalam waktu lima belas menit.
Di Singapura, ruang hijau bukan sekadar pelengkap estetika, melainkan bagian dari strategi kesehatan masyarakat.
Di Seoul, pemerintah membuka kembali Sungai Cheonggyecheon yang sebelumnya tertutup jalan layang. Dampaknya bukan hanya lingkungan yang lebih Berkualitas, tetapi juga meningkatnya aktivitas ekonomi, kualitas udara, dan interaksi sosial.
Pelajaran besarnya sederhana. Kota terbaik di dunia Tak hanya memikirkan kendaraan. Mereka memikirkan Insan.
Jakarta Memerlukan Ukuran Keberhasilan Baru
Sudah saatnya Jakarta Mempunyai indikator yang lebih berani daripada sekadar pertumbuhan ekonomi. Saya membayangkan adanya Jakarta Flourishing Index
Indikator yang mengukur bukan hanya PDRB atau investasi, tetapi juga:
* dan optimisme terhadap masa depan.
Karena apa yang kita ukur akan menentukan apa yang kita prioritaskan.
Kota yang Layak Huni Belum Tentu Layak Dicintai
Selama ini kita sering menggunakan istilah livable city. Kota layak huni. Saya Mau mengusulkan satu langkah lebih jauh. Jakarta harus menjadi kota yang layak dicintai.
Kota yang Membangun anak muda memilih tetap berkarya. Kota yang Membangun lansia merasa dihargai. Kota yang Membangun Perempuan merasa Terjamin. Kota yang Membangun penyandang disabilitas merasa setara. Kota yang Membangun masyarakat Tak sekadar tinggal.
Tetapi merasa Mempunyai. Karena Insan akan menjaga sesuatu yang dicintainya. Bukan sesuatu yang sekadar ditempati.
Jakarta 500 Tahun Adalah Titik Awal
Perayaan lima abad Jakarta Semestinya Tak berhenti pada pesta kembang api, festival budaya, atau Upacara kenegaraan.
Momentum ini harus menjadi kesempatan Buat mengubah Langkah kita Memperhatikan kota, Dari kota sebagai kumpulan beton, Menjadi kota sebagai ekosistem kehidupan.
Dari mengejar pembangunan, menjadi membangun peradaban.
Dari mengejar kecerdasan buatan, menjadi memperkuat kecerdasan Insan.
Karena pada akhirnya, sejarah Tak akan mengingat berapa banyak gedung yang berhasil kita bangun.
Sejarah akan mengingat apakah Jakarta berhasil melahirkan Insan yang lebih berempati, lebih berdaya, lebih beradab, dan lebih Bisa hidup Berbarengan dalam keberagaman.
Apabila itu berhasil kita lakukan, maka ulang tahun ke-500 Jakarta bukan sekadar peringatan usia sebuah kota.
Tetapi, perayaan yang akan dikenang sebagai titik lahirnya sebuah peradaban urban baru, peradaban yang membuktikan bahwa kota masa depan Tak hanya harus cerdas, tetapi juga adil, Unggul, berkelanjutan, dan tetap manusiawi.
