Waktu membaca: 7 menit
Seorang prajurit TNI bernama Rico Pramudia dengan pangkat prajurit kepala meninggal dunia setelah sempat berada di kondisi kritis akibat tembakan tank Israel di Lebanon pada 29 Maret Lewat. Dia merupakan prajurit TNI keempat yang meninggal dunia di tengah misi perdamaian TNI Berbarengan PBB di Lebanon selatan (UNIFIL).
Melansir pernyataan UNIFIL, Rico, yang berusia 31 tahun, mengalami luka di pangkalan UNIFIL di Adchit Al Qusayr. Dia meninggal dunia akibat luka-lukanya di sebuah rumah sakit di Beirut.
UNIFIL menyatakan belasungkawa atas Mortalitas Rico.
“Kami menuntut Seluruh pihak Demi mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum Global dan memastikan keselamatan serta keamanan personel dan aset PBB setiap Begitu,” tulis UNIFIL di akun X resminya.
“Serangan yang disengaja terhadap penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter Global dan Resolusi Dewan Keamanan 1701, serta dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang,” lanjut pernyataan itu.
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI juga telah memberikan pernyataan terkait Mortalitas Praka Rico di akun X resminya.
“Pemerintah menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan. Negara hadir Demi memberikan penghormatan terbaik bagi almarhum atas pengabdian dan pengorbanannya dalam menjaga perdamaian dunia,” tulis akun Kemenlu.
Kemenlu juga menyatakan bahwa Indonesia mengutuk keras serangan Israel yang menyebabkan Personil Laskar perdamaian dari Indonesia.
“Serangan terhadap personel pemelihara perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum Global dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Indonesia Maju mendesak PBB Demi melakukan Penyelidikan yang menyeluruh, transparan, dan akuntabel guna mengungkap fakta serta memastikan pertanggungjawaban atas insiden ini,” kata pernyataan Kemenlu.
Penyelidikan awal PBB menemukan Mortalitas prajurit TNI bernama Farizal Rhomadon dan Rico Pramudia disebabkan tembakan tank Israel di Lebanon, pada 29 Maret Lewat.
Insiden itu juga mencederai dua prajurit, yakni Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan.
Berdasarkan bukti yang ditemukan, termasuk analisis Letak Akibat dan pecahan proyektil yang ditemukan di posisi PBB 7-1, proyektil tersebut adalah amunisi 120 mm dari meriam tank.
Proyektil ini ditembakkan sebuah tank Merkava Punya Laskar Pertahanan Israel dari arah timur, ke arah Ett Taibe, tulis UNIFIL.
Adapun Mortalitas dua prajurit TNI bernama Zulmi Aditya Iskandar dan Muhammad Nur Ichwan di Lebanon pada 30 Maret Lewat disebabkan alat peledak rakitan yang kemungkinan dipasang Hizbullah.
Insiden itu juga melukai dua prajurit, yakni Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto.
“Ini adalah Intervensi awal, berdasarkan bukti fisik awal,” sebut PBB dalam surat elektronik kepada BBC, pada Selasa (07/04).
Terdapat pula insiden 3 April yang mencederai tiga prajurit TNI. Tetapi, belum diketahui penyebab insiden ketiga itu.
Rangkaian peristiwa ini terjadi tak Lamban setelah militer Israel mengumumkan akan meningkatkan serangan darat dan udara terhadap Grup bersenjata Lebanon, Hizbullah.
Menteri Sekretariat Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, mewakili Presiden Prabowo Subianto, “menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya”.
“Dan melalui Menteri Luar Negeri juga kemarin pemerintah telah menyampaikan sikap, termasuk menyayangkan kejadian ini sekaligus meminta kepada otoritas-otoritas terkait Demi melakukan Penyelidikan,” katanya.
Kepala Operasi Perdamaian PBB, Jean‑Pierre Lacroix, menyatakan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada pemerintah Indonesia dan keluarga penjaga perdamaian UNIFIL yang meninggal dunia.
PBB menyatakan sangat mengutuk serangan mematikan terhadap Laskar penjaga perdamaian yang bertugas di UNIFIL.
“Para penjaga perdamaian Tak boleh menjadi Sasaran,” kata Lacroix kepada para jurnalis dalam jumpa pers di Markas Besar PBB di New York.
Lacroix mengatakan, UNIFIL sedang melakukan Penyelidikan atas dua serangan mematikan tersebut.
Dia menegaskan, serangan terhadap penjaga perdamaian PBB Tak dapat diterima dan dapat merupakan kejahatan perang.
Lebih dari 8.000 penjaga perdamaian dari Dekat 50 negara bertugas di UNIFIL.
Misi ini dibentuk pada 1978 oleh Dewan Keamanan PBB Demi memastikan penarikan Laskar Israel dari Lebanon selatan, memulihkan perdamaian dan keamanan Global.
Kehadiran mereka juga Demi membantu Lebanon dalam mengefektifkan kembali jalannya pemerintahan di Area tersebut.
Pemerintah Indonesia mengutuk keras
Pemerintah Indonesia mengutuk keras insiden serangan di Lebanon yang menewaskan seorang prajurit TNI yang menjadi Personil Laskar Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL).
Pemerintah Indonesia juga mendesak dilakukannya Penyelidikan menyeluruh atas insiden serangan tersebut, melalui jalur perundingan diplomasi Demi menurunkan intensitas ketegangan dan konflik guna mencegah kekerasan kembali terjadi.
“Meminta Penyelidikan penuh dari UNIFIL Demi Pandai menemukan sumber dari insiden ini dan sekali Kembali meminta kepada Seluruh pihak Demi melakukan deeskalasi,” kata Menteri Luar Negeri, Sugiono, di sela-sela mendampingi kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto di Tokyo, Jepang, Senin (30/3).
Secara terpisah, politikus Partai Golkar yang juga Personil DPR Dave Laksono, meminta pemerintah Indonesia Demi mempertimbangkan kembali keberadaan prajurit TNI di Lebanon.
Bila perlu, lanjutnya, segera dilakukan penarikan Laskar TNI dari negara itu.
“Terdapat baiknya pemerintah melakukan, apa namanya, penarikan ataupun juga Pengkajian terhadap keberadaan prajurit kita di Lebanon,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Senin (30/03).
Sebelumnya, Sekjen PBB António Guterres melalui akun X-nya, Senin (30/03), menyebut satu Personil TNI meninggal dan seorang lainnya mengalami luka serius.
“Saya mengutuk keras insiden hari Minggu yang menewaskan seorang penjaga perdamaian Indonesia dari @UNIFIL_ di tengah permusuhan antara Israel & Hizbullah,” tulisnya.
Dia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga, Sahabat, dan kolega penjaga perdamaian yang meninggal, serta kepada Indonesia.
Guterres menyerukan kepada Seluruh pihak Demi menjunjung tinggi kewajiban mereka berdasarkan hukum Global dan Demi memastikan keselamatan dan keamanan personel dan properti PBB.
Indonesia, melalui Kemlu, juga menyerukan kepada Seluruh pihak Demi menghormati kedaulatan dan integritas Area Lebanon.
Serta, “menghentikan serangan terhadap penduduk sipil dan infrastruktur, serta kembali ke dialog dan diplomasi Demi mencegah eskalasi lebih lanjut dan memajukan perdamaian,” tegas Kemlu.
Siaran ini akan diperbarui secara berkala.
