Lebanon dan Israel Sepakat Perpanjang Gencatan Senjata Selama Tiga Minggu

Presiden Amerika Perkumpulan Donald Trump di Ruang Oval Gedung Putih. The New York Times


Washington: Presiden Amerika Perkumpulan (AS) Donald Trump mengatakan Israel dan Lebanon telah sepakat Demi memperpanjang gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah selama tiga minggu setelah pembicaraan di Gedung Putih pada Kamis 23 April 2026 waktu setempat.

Trump mengatakan pertemuan antara duta besar Israel dan Lebanon Demi Amerika Perkumpulan berjalan “sangat Berkualitas”. Pertemuan itu adalah pembicaraan tingkat tinggi kedua antara kedua negara sejak pekan Lewat.

Gencatan senjata awal selama 10 hari, yang mulai berlaku Jumat Lewat, Semestinya berakhir pada hari Senin.

“Amerika Perkumpulan akan bekerja sama dengan Lebanon Demi membantunya melindungi diri dari Hizbullah,” kata Trump dalam sebuah unggahan di media sosial Truth Social, seperti dikutip dari Channel News Asia, Jumat 24 April 2026.

Ia menambahkan bahwa ia berharap dapat Berjumpa langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun “dalam waktu dekat”.

Trump menyambut Duta Besar Lebanon Demi AS Nada Hamadeh Moawad dan rekan sejawatnya dari Israel, Yechiel Leiter, Begitu kedatangan mereka.

Selain Trump, AS diwakili oleh Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Penasihat Departemen Luar Negeri Michael Needham, Duta Besar Demi Israel Mike Huckabee, dan Duta Besar Demi Lebanon Michel Issa.

“Kami berharap bahwa Serempak-sama, di Dasar kepemimpinan Anda, kita dapat meresmikan perdamaian antara Israel dan Lebanon dalam waktu dekat,” kata Leiter di Ruang Oval.

“Saya Mau mengucapkan terima kasih kepada Amerika Perkumpulan, di Dasar kepemimpinan Anda, atas Sekalian upaya Anda Demi membantu dan mendukung Lebanon,” kata Hamadeh kepada Trump.

“Dan saya pikir dengan Donasi Anda, dengan dukungan Anda, kita dapat menjadikan Lebanon hebat,” imbuh Hamadeh.

Aoun mengatakan pada hari Rabu bahwa Hamadeh akan mengajukan perpanjangan gencatan senjata 10 hari. Ia juga akan meminta penghentian penghancuran rumah-rumah Israel di desa-desa dan kota-kota yang diduduki Israel setelah perang terbaru pecah pada 2 Maret, kata Aoun dalam komentar yang dirilis oleh kantornya.

Persiapan sedang dilakukan Demi negosiasi yang lebih luas antara Lebanon dan Israel. Tujuan dari pembicaraan di masa mendatang adalah Demi menghentikan sepenuhnya serangan Israel, penarikan Laskar Israel dari Lebanon, pembebasan tahanan Lebanon yang ditahan di Israel, penempatan Laskar Lebanon di sepanjang perbatasan, dan dimulainya proses rekonstruksi, kata Aoun.

Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar telah menyerukan Lebanon Demi bekerja sama dengan Israel Demi melucuti senjata Grup Radikal yang didukung Iran, Hizbullah.

“Kami Bukan Mempunyai perselisihan serius dengan Lebanon. Terdapat beberapa sengketa perbatasan kecil yang dapat diselesaikan,” kata Saar dalam pidato Hari Kemerdekaan kepada para duta besar dan korps diplomatik Israel, di mana ia juga menggambarkan negara tetangga itu sebagai “negara gagal.”

“Hambatan bagi perdamaian dan normalisasi antara kedua negara adalah satu: Hizbullah,” kata Saar, menambahkan bahwa Lebanon dapat Mempunyai “masa depan kedaulatan, kemerdekaan, dan kebebasan dari pendudukan Iran”.

Perang terbaru dimulai ketika Hizbullah menembakkan roket ke Israel utara, dua hari setelah Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran. Israel merespons dengan pemboman besar-besaran terhadap Lebanon dan invasi darat di mana mereka merebut puluhan kota dan desa di sepanjang perbatasan.

Militer Israel Begitu ini menduduki Area penyangga yang membentang hingga 10 km ke Lebanon selatan. Israel mengatakan tujuannya adalah Demi menghilangkan ancaman roket jarak pendek dan rudal anti-tank yang ditembakkan ke arah Israel utara.

Hizbullah menolak

Hizbullah telah menolak pembicaraan tersebut. Wafiq Safa, Member berpangkat tinggi dari dewan politik Grup Radikal tersebut, mengatakan kepada Associated Press bahwa mereka Bukan akan mematuhi perjanjian apa pun yang dibuat selama pembicaraan langsung.

Meskipun demikian, pembicaraan tersebut merupakan langkah besar bagi dua negara tanpa Rekanan diplomatik yang secara Formal telah berperang sejak berdirinya Israel pada tahun 1948.

Pemerintah Lebanon berharap pembicaraan tersebut akan membuka jalan menuju pengakhiran perang secara permanen. Sementara Iran telah menetapkan pengakhiran perang di Lebanon dan kawasan sebagai syarat Demi pembicaraan dengan AS, Lebanon bersikeras Demi mewakili dirinya sendiri.

Perpanjangan gencatan senjata menandakan momentum yang hati-hati menuju “pemahaman yang lebih terarah melalui negosiasi”, kata Anas Iqtait, dosen senior di Pusat Studi Arab dan Islam Universitas Nasional Australia.

Tetapi, hasilnya bergantung pada sikap Hizbullah sebagai kekuatan politik dan keamanan yang menonjol di Lebanon dan postur militer Israel yang berkembang, khususnya di Lebanon selatan, katanya kepada Asia First CNA.

Hal-hal ini akan menentukan “apakah tiga minggu ke depan akan mengarah pada hasil negosiasi, atau hanya akan menjadi kelanjutan dari konflik intensitas rendah yang telah kita lihat selama beberapa hari terakhir,” tambahnya.

Prioritas Israel tampaknya berorientasi ke masa depan, berfokus pada persiapan Demi konfrontasi yang lebih luas. Iqtait menyarankan bahwa Kalau pembicaraan AS-Iran gagal dan kondisi di Lebanon tetap Bukan berubah, Israel dapat melanjutkan konflik tersebut. Sementara itu, kerapuhan internal Lebanon tetap menjadi isu Esensial dan intervensi eksternal berisiko memperburuk situasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *