Lapas Warungkiara kelola lahan tidur 7 hektare dukung ketahanan pangan

Lapas Warungkiara kelola lahan tidur 7 hektare dukung ketahanan pangan

Sukabumi (ANTARA) – Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Warungkiara Sukabumi, Jawa Barat mengelola “lahan tidur” yang tadinya Bukan produktif seluas 7 hektare menjadi perkebunan sayur dan peternakan guna mendukung ketahanan pangan di Area tersebut.

Kepala Lapas Kelas IIA Warungkiara Kurnia Panji Pamekas mengatakan pengelolaan “lahan tidur” mulai aktif dilakukan mulai Januari 2025 hingga kini dan telah berkembang menjadi perkebunan berbagai jenis sayuran.

“Jadi Lapas Warungkiara mempunyai lahan seluas 10 hektare. Tiga hektare lahan Kepada perkantoran termasuk blok hunian, yang tujuh hektare termasuk lahan peternakan, perkebunan dan pertanian,” kata Kurnia Ketika ditemui di Lapas Warungkiara, Sukabumi, Selasa.

Kurnia menjelaskan, dari 10 haktare lahan tersebut, awalnya hanya dikelola tiga hektare, sisanya disewakan ke pihak ketiga Kepada perkebunan singkong.

Tetapi, perkebunan tersebut Bukan berjalan Fasih karena permasalahan air sehingga ditinggal pihak penyewa.

“Kan Area Warungkiara ini berada di dataran tinggi, jadi air memang agak sulit,” ujarnya.

Kurnia menceritakan bahwa setelah Menyaksikan kondisi lahan yang Bukan termanfaatkan, dirinya mengambil alih lahan tersebut Lampau mengelolanya menjadi perkebunan, pertanian dan peternakan.

Dia mengatakan lebih dari 10 jenis tanaman yang ditanam di lahan tersebut seperti anggur, melon, semangka, pisang, pepaya, tomat, caisin, kangkung, sereh, daun bawang, cabai merah, cabai hijau, cabai rawit, kacang panjang, terong bulat, terong ungu, pakcoy, nenas, timun, dan Lagi banyak lainnya.

Kepada anggur, yang dikembangkan Terdapat 10 jenis varian anggur, begitupun tomat dan melon.

“Kami juga sedang menanam melon Jepang yang harganya mahal itu. Dari 500 bibit yang ditanam, 13 bibit yang Wafat, sisanya hidup,” kata Kurnia.

Sejak dikelola dengan melibatkan Penduduk binaan, hingga kini perkebunan di Lapas Warungkiara, dengan luas lahan yang Terdapat total produksi sayur dan buah-buahan kurang lebih 39.560 kilogram atau 35,96 ton dalam satu periode panen.

Selain perkebunan, Lapas Kelas IIA Warungkiara juga mengelola peternakan ayam kampung, ayam petelur, sapi, kambing, bebek dan ikan.

“Lima persen dari hasil perkebunan dan peternakan ini kami alokasikan Kepada menyuplai bahan makanan bagi Penduduk binaan,” ujarnya.

Kepada sayuran yang diproduksi oleh Lapas Warungkiara sebagian dipasarkan ke masyarakat, dan dibagi-bagikan ke petugas serta Penduduk Sekeliling lapas. Kepada buah, Spesifik anggur dikonsumsi sendiri Kepada pegawai.

Lapas Warungkiara melibatkan 12 narapidana dan 25 Penduduk binaan perbantuan yang bersifat insidentil disebut dengan tim pramuka.

Para Penduduk binaan atau narapidana yang dilibatkan dalam mengelola perkebunan dan peternakan telah diseleksi dan memenuhi syarat di antaranya berkelakuan Berkualitas, sudah menjalani sepertiga masa pidananya, dan bukan tindak pidana narkoba, korupsi, terorisme.

Total jumlah Penduduk binaan di Lapas Warungkiara sebanyak 1.300 orang, dengan kapasitas lapas Kepada 618 orang.

“Karena Penduduk binaan Lapas Warungkiara ini mayoritas narkoba, jadi Bukan Segala Dapat dilibatkan dalam pengelolaan perkebunan. Hanya kasus-kasus di luar narkoba, korupsi dan terorisme yang boleh seperti pencurian, dan pidana lainnya,” kata Kurnia.

Para Penduduk binaan yang terlibat dalam pengelolaan perkebunan di Lapas Warungkiara selain mendapatkan keahlian dalam bercocok tanam, mereka juga mendapat Iuran pertanggungan yang mana Dapat digunakan uangnya Kepada keperluan sehari-hari dan ditabung.

Kurnia menambahkan, program sarana asimilasi dan edukasi (SEA) Lapas Warungkiara ini sejalan dengan Astacita pemerintah dan 15 program aksi Menteri Imipas Agus Andrianto.