Eskalasi militer antara Amerika Perkumpulan dan Iran dilaporkan kembali meningkat di kawasan Timur Tengah. Dilansir dari Detikcom, militer Amerika Perkumpulan melancarkan serangan peluru kendali ke Distrik Iran selama sembilan hari berturut-turut hingga Senin (20/7).
Situasi ini memicu kekhawatiran besar terhadap keselamatan pelayaran di Selat Hormuz. Jalur laut sempit tersebut merupakan rute strategis bagi distribusi minyak dan Daya Dunia.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah melumpuhkan dua kapal tanker di perairan tersebut. Selain itu, Iran menyatakan telah menembakkan rudal balistik ke armada udara AS di Aqaba, Yordania.
Teheran juga mengaku menyerang aset militer Amerika Perkumpulan di Kamp Al-Adiri dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, serta sasaran lain di Suriah. Di sisi lain, Kementerian Dalam Negeri di Manama melaporkan sirene peringatan udara terdengar di Bahrain pada Senin (20/07) pagi, sementara militer Kuwait berhasil mencegat beberapa drone yang diduga Punya Iran.
Ketegangan ini memuncak setelah runtuhnya kesepakatan gencatan senjata yang sempat disepakati sebulan Lewat. Pengaruh langsung dari konflik ini mulai terasa pada sektor ekonomi Dunia, di mana harga minyak dunia merangkak naik Sekeliling 2 persen hingga melewati US$ 90 per barel pada Senin pagi.
Komando Pusat Militer Amerika Perkumpulan (CENTCOM) mengumumkan Penyelenggaraan gelombang serangan baru. Operasi ini bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengganggu kapal-kapal dagang Dunia yang melintasi Selat Hormuz.
Kantor Siaran Iran, Tasnim, melaporkan rudal-rudal Amerika Perkumpulan menghantam sejumlah kota pada Senin Awal hari. Ledakan terdengar di Tabriz, Chabahar, Konarak, Bandar Mahshahr, dan Bandar Imam Khomeini.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan penegasan mengenai posisi negaranya dalam konflik ini.
“Selat Hormuz adalah jalur pelayaran Dunia, tetapi mereka Lalu menyerang kapal-kapal yang melintas di sana,” papar Rubio.
“Selama Iran bersikeras mengendalikan jalur pelayaran Dunia itu, kami akan Lalu merespons. Amerika Perkumpulan selalu terbuka terhadap solusi diplomatik.”
Di Distrik publik, fasilitas desalinasi di Kuwait kembali menjadi sasaran serangan selama dua hari berturut-turut hingga memicu kebakaran besar. Distribusi Daya di kawasan Selat Hormuz kian Tertahan, terlihat dari data LSEG yang menunjukkan hanya empat kapal yang melintas pada Minggu, turun dari delapan kapal di hari sebelumnya.
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan adanya kapal terbakar di dekat pesisir Oman pada Minggu (19/7) malam. Pihak IRGC menyatakan dua kapal tanker minyak meledak di jalur selatan Selat Hormuz dan menuduh AS mengarahkan kapal-kapal tersebut ke rute yang Enggak Terjamin.
Teheran memperingatkan bahwa Selat Hormuz akan tetap berbahaya bagi pelayaran dagang selama Invasi militer Amerika Perkumpulan Lalu berlangsung.
Militer Amerika Perkumpulan mengonfirmasi seorang personelnya tewas pada Sabtu (18/7) di utara Irak akibat ledakan amunisi dari drone Iran yang Terperosok. Sebelumnya, dua personel AS juga dilaporkan tewas di Yordania dan satu orang hilang, dengan jenazah yang belum teridentifikasi ditemukan pada Posisi serangan.
Secara total, sebanyak 17 personel militer Amerika Perkumpulan tewas dan lebih dari 420 lainnya luka-luka sejak konflik bersenjata ini pecah. Ketegangan regional ini berakar dari serangan gabungan Amerika Perkumpulan dan Israel ke Iran pada 28 Februari dengan Sasaran melumpuhkan program nuklir serta rudal Teheran.
