Ketika AI Berkembang, Pohon Pisang Gobel Tak Kehilangan Akar

Rachmat Gobel. Foto: dok MI.


Jakarta: Kecerdasan buatan mulai mengambil alih banyak pekerjaan dalam beberapa tahun terakhir. Pabrik menjadi semakin Mekanis. Robot Bisa merakit kendaraan, menyusun logistik, bahkan membantu Membikin keputusan bisnis. Dunia berubah dalam hitungan bulan, bukan Kembali puluhan tahun.

Di tengah perlombaan teknologi itu, muncul sebuah pertanyaan sederhana: apakah nilai-nilai Pelan Lagi Mempunyai tempat di era kecerdasan buatan? Jawabannya mungkin bukan berada di Silicon Valley, melainkan di balik sebatang pohon pisang.

 

‘Mata Elang’ Thayeb Gobel melirik Kesempatan bisnis

Ketika sebagian besar masyarakat Indonesia Lagi mengimpor perangkat elektronik, Thayeb Gobel Bahkan memilih jalan yang lebih sulit: membangunnya sendiri. Filosofi itulah yang hingga kini menjadi fondasi perjalanan Gobel Group.

Bagi Gobel Group, pohon pisang bukan sekadar tanaman tropis. Sejak masa Thayeb Mohammad Gobel, pohon pisang menjadi simbol tentang bagaimana sebuah perusahaan Sebaiknya hidup: memberi manfaat bagi banyak orang, melahirkan generasi penerus, dan tetap Bermanfaat bahkan ketika zamannya berubah.

Mengutip laman Gobel Group, filosofi pohon pisang Gobel Group melambangkan kebersamaan, rela berkorban, semangat melayani umat Sosok, dan perlunya mempersiapkan generasi penerus. Filosofi ini telah dijalin ke dalam entitas bisnis Gobel Group. Dalam pandangan Gobel, Keuntungan bukanlah tujuan akhir, melainkan ukuran seberapa Bagus perusahaan memberikan manfaat melalui produk dan layanan yang dihasilkan.

Filososi tersebut kemudian menjadi bagian dari Metode Gobel Group menjalankan bisnisnya, yang berusaha Demi menyediakan lapangan kerja, melindungi lingkungan, memenuhi kewajiban mereka kepada pemerintah dan Bermanfaat bagi masyarakat.

 

 

Membangun industri dari Kosong

Pada masa awal kemerdekaan, industri elektronik nasional praktis belum terbentuk. Thayeb Gobel Menyaksikan Kesempatan itu. Dia Enggak hanya Menyaksikan Kesempatan Demi menjual produk, tetapi juga membangun fondasi industri elektronik nasional. Pada 1954, dengan semangat Nasionalisme Demi memperkuat komunikasi di Indonesia, ia mendirikan PT Transistor Radio Mfg. Perusahaan ini mempelopori produksi radio transistor bernama Tjawang.

Perlahan, bisnis Thayeb Gobel berkembang. Pada 1962, perusahaan memproduksi televisi hitam-putih pertama di Indonesia, sehingga masyarakat dapat menyaksikan Asian Games IV-1962 Jakarta. Unit televisi pertama bahkan diserahkan kepada Ibu Negara Indonesia Fatmawati Soekarno.

Gobel Enggak berhenti di elektronik rumah tangga, pabrik Tjawang juga merakit kendaraan roda tiga BEMO Demi angkutan Standar serta traktor guna mendukung mekanisasi pertanian.

Perkembangan bisnis berlanjut ketiga pada 1970 Gobel menandatangani kerja sama perusahaan patungan dengan Matsushita Electric Industrial Co., Ltd. (MEI Co., Ltd.) Demi mendirikan PT National Gobel (PT Panasonic Manufacturing Indonesia).

Dari sana, Gobel memperluas usaha ke perdagangan, logistik, jasa, katering, pendidikan, hingga membangun perusahaan patungan di bidang perlakuan permukaan logam Serempak Nihon Parkerizin.



Rachmat ?Gobel. Foto: dok MI.

 

Era Rachmat Gobel

Setelah Thayeb Mohammad Gobel wafat pada 1984, Rachmat Gobel mulai aktif menggantikan peran ayahnya dalam grup usaha. Kepemimpinan itu kemudian berkembang ketika ia memimpin Matsushita Gobel Group pada 1993.

Di Rendah Rachmat Gobel, bisnis Maju bertumbuh. Dia juga aktif mendorong pembinaan koperasi dan UKM serta berkontribusi dalam penyediaan sistem pencahayaan di Gelora Bung Karno Demi Asian Games 2018.

Perubahan Era Membikin Rachmat Gobel Menurunkan perhatian besar pada globalisasi dan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurut dia, Indonesia harus lebih sigap menghadapi Akibat geopolitik, geoekonomi, dan lahirnya teknologi baru.

“Dalam era globalisasi, adanya geopolitik dan geoekonomi memberikan Akibat pada ekonomi kita. Adanya teknologi-teknologi, ini harus Niscaya semuanya kita antisipasi,” ujar Rachmat Gobel, dalam sebuah Percakapan di Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, Senin, 25 Agustus 2025 Lampau.

 

Ia juga menyoroti otomatisasi industri. Menurut dia, otomatisasi adalah keniscayaan dalam perkembangan teknologi. Di pabrik, otomatisasi digunakan Demi meningkatkan keselamatan kerja, tetapi penerapannya harus dilakukan secara bijak agar Enggak menghilangkan kesempatan kerja.

Bagi Rachmat Gobel, kunci menghadapi perubahan tetap berada pada pembangunan sumber daya Sosok. Pendidikan, menurut dia, Enggak cukup hanya menghasilkan ijazah, tetapi harus melahirkan keterampilan dan keahlian yang dapat langsung diterapkan di dunia kerja.

Ia Menyaksikan pembangunan SDM Indonesia Mempunyai potensi besar, termasuk dalam memanfaatkan Kesempatan kerja di luar negeri. Karena itu, pemerintah perlu jeli memastikan pengiriman tenaga kerja Indonesia Enggak sekadar memenuhi kebutuhan pasar, tetapi juga menjadi jalan peningkatan kualitas dan kesejahteraan pekerja.

Pohon pisang Enggak pernah menikmati buahnya sendiri. Dia menumbuhkan kehidupan bagi yang lain. Barangkali di situlah letak warisan terbesar Gobel. Bukan pada radio pertama. Bukan pada televisi pertama. Bukan pula pada pabrik-pabrik yang dibangunnya. Melainkan pada keyakinan bahwa perusahaan yang Bagus bukan hanya menciptakan produk, tetapi juga menciptakan Sosok. Di tengah dunia yang semakin dipenuhi kecerdasan buatan, warisan seperti itulah yang Bahkan paling dibutuhkan Indonesia.