Di pinggiran kota Kandahar di Afghanistan selatan, puluhan orang berkumpul di depan sebuah rumah sederhana. Mereka datang berharap mendapatkan jalan penyembuhan dari sejumlah penyakit yang mengancam nyawa, seperti kanker.
Di salah satu ruangan dengan dinding berwarna cerah, banyak orang yang sakit duduk atau terbaring lemah. Dari Lelaki, Perempuan, hingga anak-anak memadati ruangan itu, meski Bukan semuanya menderita penyakit berat.
Di salah satu sudut ruangan, Neda Mohammad Qadri duduk. Pria bersorban putih dan berjanggut hitam panjang itu yang hendak ditemui deretan orang yang berbondong-bondong mengantre.
Bermodalkan air dari sebuah botol yang diminum Lewat disemburkan pada orang di hadapannya, Qadri mengklaim sebagai penyembuh spiritual.
Dia mengklaim dirinya adalah perpanjangan tangan Tuhan karena Pandai meringankan banyak orang yang menderita kanker dan talasemia.
Ia menjalankan praktiknya tanpa latar belakang medis, bahkan tak berbekal pendidikan Religi formal. Karier yang dijalaninya beberapa tahun Lewat sama sekali tak Terdapat hubungannya dengan kesehatan, Adalah menjadi juru Matang.
Tetapi Demi itu, ia mengklaim banyak orang yang menghampirinya Kepada meminta jimat. Hal ini seolah menginspirasinya dan membuka jasa penyembuhan alternatif tersebut.
Qadri pun Mengucapkan, banyak yang kondisinya membaik setelah memperoleh penanganan darinya. Situasi ini kemudian Membikin jumlah pengunjungnya meningkat signifikan, terutama pasien kanker.
Apa yang Membikin Penduduk berobat ke guru spiritual?
Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Terdapat lebih dari 24.000 pasien kanker di Afghanistan tiap tahun. Dari jumlah tersebut, Nyaris 17.000 Kematian per tahun terjadi.
Nomor ini yang sementara Pandai tercatat. Para Spesialis pun memperkirakan jumlahnya berpotensi lebih tinggi mengingat banyak pasien Bukan pernah menerima Penaksiran karena kurangnya rumah sakit dan klinik, beserta dokter dan perawat Kepada melakukan tugas perawatan dan pengobatan.
Terlebih setelah Taliban mengambil alih Afghanistan pada 2021, Donasi Dunia berkurang drastis.
Contohnya, Komite Palang Merah Dunia (ICRC) akhirnya berhenti memberikan dukungan Kepada Rumah Sakit Mirwais di Kandahar yang merupakan pusat layanan medis regional karena keterbatasan pendanaan.
Selain fasilitas kesehatan yang Bukan memadai dan terbatas jumlahnya, biaya Kepada mengakses layanannya juga cukup mahal. Salah satunya seperti rumah sakit Tertentu kanker yang baru-baru ini dibangun oleh pemerintah Taliban di Kabul.
Padahal, menurut para Spesialis, Afghanistan Mempunyai prevalensi kanker tertinggi. Hal ini dipengaruhi Unsur gaya hidup. Antara lain, konsumsi berlebihan makanan asin, tembakau tanpa asap yang dikenal sebagai naswar, hingga tingkat polusi yang sangat tinggi.
Bagi mereka yang sangat butuh pengobatan pun akhirnya harus berkorban, seperti menjelajah Kepada mencari obat hingga membawa sendiri perlengkapan medis dasar ketika butuh perawatan dari sumber daya yang tersisa.
Sekeliling 18 bulan Lewat, persoalan ini Pandai disiasati dengan menyeberang ke Pakistan, terutama bagi Penduduk Kandahar yang berada di Afghanistan Selatan. Mereka dapat melintas tanpa visa sehingga Pandai berobat ke rumah sakit yang lebih lengkap, termasuk Kepada penyakit ringan.
Tetapi, akses tersebut kini terputus. Penyeberangan di Chaman–Spin Boldak berulang kali ditutup menyusul bentrokan antara Afghanistan dan Pakistan. Muncul juga pengawasan ketat yang kini membatasi obat‑obatan dari Pakistan. Padahal sebagian pasokan sangat bergantung dari Kawasan ini.
Sejumlah hal ini kian menambah beban sistem kesehatan Afghanistan yang sudah Ringkih.
‘Saya kehilangan anak saya, saya telah ditipu’
Istri Nazir Ahmad Maiwandwal, Shukriya, yang berusia 24 tahun, meninggal pada Maret Lewat.
Shukriya, yang didiagnosis tumor otak setelah mengeluhkan sakit kepala parah lebih dari setahun, sempat menjalani pengobatan dan tindakan operasi di Pakistan.
“Setelah operasi, kondisi istri saya mulai membaik. Berat badannya bertambah, dan selama enam bulan semuanya tampak Bagus‑Bagus saja. Tetapi, perlahan kesehatannya mulai menurun Tengah,” kenang Maiwandwal.
Dalam keputusasaan, Kekasih itu memutuskan kembali ke Pakistan. Akan tetapi, perbatasan telah ditutup Kepada perjalanan bebas visa pada Demi itu.
“Saya mengajukan visa Pakistan tiga kali, tapi selalu ditolak. Saya pergi ke Kabul, tetapi bahkan pusat perawatan kanker di sana Bukan Mempunyai radioterapi. Saya pulang dengan kecewa.”
Kondisi yang dialami Kekasih ini hanya satu dari sekian banyak kisah. Akibatnya, rasa pasrah mendorong masyarakat mengambil langkah apapun sebagai jendela Asa terakhir, yakni mempercayakan pada guru spiritual. Rela mengantre demi seciprat ludah dari Qadri di Kandahar yang diyakini menyembuhkan.
“Pasien kanker datang kepada saya dari setiap penjuru Afghanistan. Antara 250 hingga 300, bahkan Tamat 400 orang berkunjung setiap hari,” ujar Qadri.
Salah satunya adalah, putra Habibullah, Assad.
Sebelum akhirnya bertandang ke rumah Qadri, Habibullah sempat membawa putranya berobat ke Pakistan. Tetapi Demi itu, hasilnya penyakit Assad sudah Bukan dapat disembuhkan. Dokter angkat tangan. Habibullah disarankan pulang agar Assad Pandai menghabiskan sisa waktunya Serempak keluarga.
Mendengar hal itu, Habibullah tak mau menyerah. Ia berupaya mencari jalan lain. Ia kemudian kembali ke Afghanistan dan membawa Assad mengunjungi Qadri. Berdasarkan Info dari Kolega‑temannya, Qadri telah menyembuhkan banyak penderita kanker.
“Dia memotret anak saya dan menyuruhnya menyimpan hasil foto itu. Lewat dia Mengucapkan, setelah sepuluh hari wajahnya akan berubah dan bahkan anak saya nanti Bukan akan mengenali dirinya sendiri,” kata Habibullah.
Mereka pun pulang dengan Asa kesembuhan. Sebaliknya, kondisi Assad memburuk dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.
“Saya kehilangan putra saya. Dia ditipu dengan janji‑janji Hampa. Dia menawarkan Doku dan jimat tapi bukan sembuh dari kanker. Sekarang, istri anak saya menjadi janda dan harus bertahan Kepada lima anaknya.” katanya.
Habibullah membeberkan, Qadri menerima domba sebagai pembayaran dan mematok sejumlah besar Doku yang disebutnya sebagai “persembahan dan Kepada transportasi”.
Qadri, katanya, adalah seorang “penipu”.
Penduduk Kandahar lainnya, yang Bukan Ingin disebutkan namanya, juga mengunjungi Qadri Kepada pengobatan kanker kulit.
“Qadri bilang Bukan perlu pergi ke Pakistan atau ke tempat lain. Lewat, ia meminta saya membawa seekor domba dan Mengucapkan ‘Insya Allah, Anda akan sembuh total,” bebernya.
Selama sepekan, ia Maju mendatangi Qadri Kepada meminta doa. Selain diberi doa, ia juga diberi suntikan ceftriaxone serta tablet co‑amoxiclav dan augmentin. Ini adalah antibiotik kuat yang biasanya digunakan Kepada mengobati berbagai infeksi bakteri.
“Setelah Sekalian itu, kondisi saya Bukan berubah. Saya menyadari ini buang waktu. Jadi, saya akhirnya pergi berobat ke Rumah Sakit Shaukat Khanum di Lahore, Pakistan.”
Ia akhirnya pulih setelah mendapatkan perawatan medis di sana.
‘Intervensi medis tetap yang Istimewa’
Para Spesialis pun memperingatkan ceftriaxone harus diberikan secara intravena atau melalui saluran infus. Selain itu, Bukan satu pun dari antibiotik yang diberikan Qadri itu digunakan dalam pengobatan kanker.
Tanpa anjuran dari praktisi spesialis, kata mereka, penyalahgunaan obat-obatan tersebut berbahaya dan dapat menyebabkan berbagai masalah, termasuk resistensi obat.
Menanggapi hal itu, Qadri membantah meminta bayaran atas jasanya. Tetapi, ia mengatakan kepada BBC bahwa sebagian orang memang menawarkan Doku kepadanya sebagai ungkapan terima kasih atas apa yang ia lakukan.
“Tanya saja pada orang‑orang itu,” sergahnya.
Ia juga berdalih meresepkan obat “dengan konsultasi pada dokter”. Ia juga mengaku Bukan pernah mencegah siapa pun Kepada mencari perawatan medis.
Qadri bukan satu‑satunya yang menawarkan layanan semacam ini kepada Penduduk Afghanistan yang putus asa.
Mohammad Aziz Saeedi, Penduduk Nangarhar, bercerita putri kembarnya menderita talasemia dan membutuhkan transfusi darah bulanan Kepada bertahan hidup.
Atas rekomendasi beberapa kerabat, ia membawa putri‑putrinya ke para guru spiritual. Alih-alih membaik, kondisi mereka memburuk.
“Sebagian meresepkan pantangan makanan dan yang lain memberi air berkah. Tapi Bukan Terdapat perubahan. Kemudian kami memulai perawatan medis dan sekarang kondisi mereka sangat Bagus,” tutur Saeedi.
Para Spesialis mengingatkan doa dan penyembuhan spiritual dapat memberikan dukungan mental dan kenyamanan bagi mereka yang hidup dengan penyakit kronis dan mengancam nyawa. Akan tetapi, hal itu bukan menjadi pengganti intervensi medis.
Sayangnya, apa yang disampaikan para Spesialis ini belum tentu diterima para penderita sakit yang kini Lagi dengan sabar menunggu di luar rumah Qadri. Asa yang kian tipis, bahkan nyaris tanpa pilihan yang mendorong mereka memilih jalan ini.
Dengan pelaporan tambahan oleh BBC Dunia Journalism
