Kemhan Ungkap Dugaan Penyebab Lima Peserta SPPI Meninggal

Kementerian Pertahanan (Kemhan) memaparkan beberapa dugaan terkait meninggalnya lima orang Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Peristiwa ini terjadi di sela-sela Penyelenggaraan Latihan Dasar Militer (Latsarmil).

Dikutip dari Bloomberg Technoz, Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan menjelaskan bahwa kelelahan, perubahan pola hidup, serta Elemen cuaca menjadi dugaan awal. Menurutnya, para peserta mengalami perubahan drastis dari aktivitas kehidupan sipil Lazim menjadi kehidupan barak militer yang menuntut kedisiplinan tinggi.

“Perubahan pola hidup ya, yang tadinya mungkin kehidupan sipil, masuk kehidupan ya di barak dan sebagainya yang mana semuanya harus disiplin nah itu mungkin juga mengagetkan juga. Selain juga Elemen cuaca juga itu yang pertama,” ujar Donny kepada awak media, Rabu (01/07/2026).

Elemen kedua yang digarisbawahi adalah penyakit bawaan. Donny menyebutkan bahwa para peserta sebenarnya telah melewati tes kesehatan selama proses seleksi dan berada dalam batas Kondusif, Tetapi terdapat beberapa Elemen pemicu yang akhirnya berakibat fatal.

Dugaan ketiga berkaitan dengan kondisi jantung dan paru-paru. Gangguan fungsi paru-paru dilaporkan hanya terjadi pada peserta Latsarmil di Daerah DKI Jakarta. Sementara itu, masalah kondisi jantung dialami oleh peserta yang berada di Baturaja, Balikpapan, dan Singkawang.

Merespons insiden ini, Kementerian Pertahanan selaku bagian dari Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) SPPI mengambil langkah tegas dengan mengubah format latihan dasar tersebut.

Karo Infohan Setjen Kementerian Pertahanan Brigjen Rico Ricardo Sirait menyatakan bahwa sejak Sabtu (27/06/2026), kegiatan tersebut Bukan Kembali ditekankan sebagai Latsarmil. Konsep acara kini diubah menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial.

“Materi teknis dan taktis militer sudah dihilangkan, termasuk kegiatan menembak. Intensitas fisik juga dikurangi dan disesuaikan dengan latar belakang peserta sebagai Kaum sipil, dengan keselamatan peserta sebagai prioritas Primer,” ujar Rico Begitu dihubungi Bloomberg Technoz, Selasa (30/06/2026).

Rico juga menambahkan mengenai posisi Kemhan dalam keberlanjutan program pembekalan ini kedepannya.

“Kemhan Bukan dalam posisi menghentikan program secara sepihak, karena Kemhan merupakan bagian dari Panselnas SPPI KDKMP/KNMP. Terkait keberlanjutan maupun penyesuaian program, Kemhan mengikuti arahan dan keputusan Panselnas.”

Perubahan format latihan ini dipicu oleh gugurnya lima peserta. Korban paling baru adalah Nola Dya Sari yang tengah mengikuti latihan di Satuan Pendidikan Dudik Bela Negara Kalimantan.

Empat korban yang meninggal dunia sebelumnya adalah Yonanda Muhammad Taufiq pada 17 Juni 2026, disusul Anisa Muyassaroh pada 18 Juni 2026. Kemudian Novia Rahmadhani Sihotang pada 22 Juni 2026, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan pada 25 Juni 2026.