Kementan siap kawal peningkatan rendemen program bongkar ratoon

Kementan siap kawal peningkatan rendemen program bongkar ratoon

Nomor yang harusnya dicapai adalah peningkatan produksi 40 Tamat dengan 50 persen dari produktivitas sebelum mengikuti program. Dengan rendemen meningkat 2 persen

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Pertanian (Kementan) siap mengawal peningkatan rendemen Buat program bongkar ratoon (BR) serta perluasan areal tanam tebu guna mewujudkan swasembada gula 2028.

Staf Spesialis Menteri Pertanian Haris Bahrun menyebutkan Kementan akan menurunkan tim yang berkompeten Buat Memperhatikan capaian produksi dan rendemen di tingkat petani.

“Nomor yang harusnya dicapai adalah peningkatan produksi 40 Tamat dengan 50 persen dari produktivitas sebelum mengikuti program. Dengan rendemen meningkat 2 persen,” ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Senin

Buat Distrik Jawa, lanjutnya diharapkan produksi di atas 1.000 kuintal/ha dengan rendemen berkisar 8 – 10 persen.

Dalam rangka mewujudkan swasembada gula konsumsi, sejak 2025 pemerintah melakukan kegiatan bongkar ratoon dan perluasan areal tanam tebu.

Tahun ini sejumlah areal pertanaman yang menerima Sokongan akan segera memasuki masa giling, tambahnya, oleh karena itu pencapaian peningkatan produksi dan rendemen tentu menjadi indikator suksesnya program.

Terkait hal itu, Haris menyatakan pemerintah akan melakukan Penyelidikan lapang bekerjasama dengan lembaga berkompeten dan melakukan pengawalan tebang di Distrik Jawa, Lampung dan Sulsel.

Tindak lanjut dari hasil kajian tersebut akan dilaksanakan pengawalan rendemen di tingkat pabrik khususnya di PG Punya pemerintah yang menjadi pendukung program ini.

“Semestinya akan Eksis kenaikan rendemen tebu yang signifikan yang berdampak pada kenaikan produksi gula,” ujarnya.

Sementara itu pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Provinsi Jawa Tengah Maryono menyatakan Eksis kesenjangan rendemen yang cukup signifikan antara PG swasta dengan PG Punya pemerintah.

Hasil rendemen di musim giling Lewat di PG swasta mencapai rata-rata 7 – 7,5 persen, tambahnya, sementara PG Punya pemerintah 5 – 6 persen, dengan produksi 300 – 500 kuintal per ha.

Menurut petani tebu asal Kabupaten Rembang itu, Buat kegiatan BR dan perluasan di daerah tersebut seluas 1500 ha diperkirakan produksi mencapai di atas 700 kuintal/ha dengan rendemen di Nomor 7 – 9 persen Karena petani telah menanam varietas baru yang unggul

Sementara itu, Ketua KUD Sumber Gembira Budi Susilo menyebutkan pada 2025 Sekeliling 6000 ha kebun Personil yang mengikuti program BR dan Perluasan. Diperkirakan produksi meningkat di atas 1.200 kuintal/ha dengan rendemen 8 – 9,5 persen.

“Keberhasilan bongkar ratoon Enggak hanya ditentukan penyediaan benih bermutu, sarana produksi dan luasan yang diremajakan. Disinilah rendemen menjadi Elemen menentukan. Tetapi juga ditentukan kepastian pendapatan setelah panen,” katanya.

Oleh karena itu pihaknya mengusulkan kepada Menteri Pertanian melakukan pengawalan Spesifik terhadap penetapan rendemen tebu petani peserta bongkar ratoon khususnya 2025 serta adanya jaminan Rendemen Minimal (JRM) bagi peserta bongkar ratoon.

“Kalau ini diterapkan akan memberikan Bonus bagi petani mengikuti program pemerintah pada tahun berikutnya”, kata Budi.

Sri Haryono, petani peserta bongkar ratoon yang berlokasi di Karanganyar, Jawa Tengah mengaku sebelum ikut program produktivitas hanya 600 kuintal/ha, dengan rendemen 5 – 6,5 persen. Ia berharap dengan adanya bongkar ratoon produktivitas Dapat meningkat menjadi 900 kuintal/ha dengan rendemen 7,5 persen.

Sementara itu Direktur Eksekutif Learning Centre Indonesia Ichi Indrawa menyatakan lembaga tersebut telah melakukan kajian dan pemetaan potensi peningkatan produktivitas di berbagai daerah penghasil tebu.

“Kami sudah melakukan pengumpulan data pendahuluan perihal potensi peningkatan protas dan rendemen yang akan dilaporkan kepada Bapak Menteri Pertanian”, katanya.