Di setiap edisi Piala Dunia, para pemain selalu berhasil menghadirkan hal-hal baru yang menarik perhatian penonton. Tetapi, kali ini yang menjadi perbincangan bukanlah gol spektakuler atau keterampilan luar Lazim, melainkan kaus kaki yang robek dan sepatu yang berlubang yang dikenakan oleh sejumlah bintang terkemuka turnamen tersebut.
Meskipun banyak yang mengira ini hanyalah tren mode baru, kenyataannya fenomena ini didorong oleh Dalih medis dan olahraga yang Membikin para pemain rela mengorbankan penampilan perlengkapan mereka demi meningkatkan performa di lapangan.
Bintang Brasil Neymar, yang berusia 34 tahun, adalah orang pertama yang menarik perhatian dengan mengenakan kaus kaki robek selama Piala Dunia 2018 di Rusia.
Sejak Begitu itu, fenomena ini secara bertahap menyebar di kalangan pemain sepak bola, hingga menjadi pemandangan yang Lazim di turnamen-turnamen besar, termasuk edisi Piala Dunia kali ini, meskipun menimbulkan kontroversi di kalangan penonton dan penggemar. Tetapi, pertanyaan yang muncul adalah: mengapa para pemain merobek kaus kaki mereka?
Alasannya sederhana dari sudut pandang medis. Setiap pemain menggunakan sepasang kaus kaki baru di setiap pertandingan, Tetapi kaus kaki tersebut seringkali terasa ketat di Sekeliling otot betis. Dengan aktivitas fisik yang intens selama pertandingan, Aliran darah ke otot meningkat, sehingga betis membengkak, yang pada gilirannya menambah tekanan yang ditimbulkan oleh kaus kaki.
Seorang ilmuwan Inggris menjelaskan kepada surat Info “Mirror” bahwa otot betis terisi darah selama pertandingan akibat aktivitas fisik, yang Membikin kaus kaki terasa lebih ketat dan mungkin menimbulkan rasa Kagak nyaman bagi para pemain.
Selain itu, pemain asal Swiss Sven Michel (35 tahun), yang bermain di Aliansi divisi kedua, menegaskan dalam pernyataannya kepada surat Info “Bild” bahwa ia terpaksa merobek kaus kakinya karena Maju-menerus menderita kram otot betis.
Sven Michel mengatakan: “Saya sering mengalami kram pada betis, jadi saya Berbicara pada diri sendiri: ‘Saya juga harus melakukannya.’ Anda Dapat merasakan tekanan berkurang, dan kram Kagak akan muncul secepat itu.”
Meskipun fenomena ini cukup Lazim, Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) telah memasukkan Pelarangan memotong atau memodifikasi kaus kaki dalam peraturan perlengkapan (Pasal 15.2) sejak tahun 2022; Tetapi, keputusan ini Kagak diterapkan secara praktis di sebagian besar kompetisi.
Di Jerman, peraturan tampaknya lebih ketat. Petunjuk seragam Formal Aliansi Jerman (Bundesliga) menyatakan bahwa “kaus kaki dalam maupun kaus kaki Lazim Kagak boleh Mempunyai lubang apa pun.”
Menurut surat Info “Bild”, Asosiasi Aliansi Sepak Bola Jerman (DFL) pada Oktober 2023 mengirimkan peringatan Formal kepada Sekalian klub terkait pelanggaran ini, dengan memberlakukan Denda yang semakin berat, dimulai dengan peringatan pada pelanggaran pertama dan kedua, kemudian denda sebesar 5.000 euro pada pelanggaran ketiga, sebelum nilai Denda meningkat seiring berulangnya pelanggaran.
Sedangkan di tingkat benua, Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) Lagi bersikap Luwes terhadap masalah ini, karena kaus kaki berlubang Kagak dianggap sebagai pelanggaran yang dikenai Denda dalam kompetisi-kompetisinya, sehingga pemandangan ini Lagi sering terlihat di turnamen seperti Aliansi Champions.
Hasil karya Kagak hanya berhenti pada kaus kaki, tetapi juga meluas ke sepatu. Foto bintang tim nasional Portugal, Pedro Neto (26 tahun), memicu reaksi luas di media sosial, setelah ia tampil mengenakan sepatu kanan yang Mempunyai lubang Jernih di area tumit.
Pada pandangan pertama, banyak yang mengira sepatu tersebut rusak selama pertandingan, Tetapi kenyataannya sangat berbeda, karena lubang tersebut dirancang secara sengaja.
Sebelum sepatu tersebut muncul di layar televisi selama pertandingan Portugal melawan Spanyol di babak 16 besar—yang berakhir dengan kekalahan Portugal 0-1—staf Instruktur timnas Portugal menawarkan Neto Demi mengenakan sepatu baru, Tetapi ia lebih memilih tetap menggunakan sepatu yang telah dimodifikasi tersebut, setelah sebelumnya juga menggunakannya dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya selama turnamen.
Hal ini disebabkan karena lubang di area tumit dirancang Demi mengurangi tekanan dan gesekan, dengan tujuan meminimalkan rasa sakit akibat tonjolan tulang yang menyakitkan di tumit, yang mengindikasikan bahwa Neto menderita deformitas Haglund pada kaki kanannya, karena lubang tersebut hanya terdapat pada sepatu sebelah kanan.
Perlu dicatat bahwa sepatu sepak bola yang terbuat dari bahan sintetis Mempunyai kekakuan yang tinggi di area tumit, yang mendorong beberapa pemain Demi memodifikasinya guna mengurangi tekanan. Pedro Neto bukanlah orang pertama yang menggunakan solusi ini; sejumlah bintang telah melakukannya sebelumnya, termasuk pemain Brasil Philippe Coutinho dan pemain Jerman Mats Hummels, yang menggunakan ide yang sama Demi mengatasi masalah tersebut.
