Jakarta (ANTARA) – Ketua Standar Bilik Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menilai Indonesia berpeluang masuk dalam pembentukan rantai pasok baru Dunia di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi dunia.
Hal itu ia sampaikan usai menghadiri acara “Kadin Monthly Economic Diplomatic Breakfast” di Jakarta, Jumat.
“Perhimpunan ini adalah Perhimpunan komunikasi yang Bagus Buat Membangun rantai pasok yang baru, karena Indonesia dilihat cukup konsisten dan Kukuh,” kata Anindya.
Menurut dia, stabilitas Indonesia menjadi salah satu modal Krusial dalam menarik kerja sama perdagangan dan investasi dengan negara-negara Kawan.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026 patut diapresiasi karena menunjukkan daya tahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian Dunia.
“Pertumbuhan 5,61 persen itu adalah pertumbuhan yang patut diapresiasi,” ujar dia.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani sebelumnya menyampaikan investasi memberikan kontribusi Sekeliling 1,8 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional 5,61 persen pada kuartal I 2026, atau Sekeliling 31–32 persen dari total pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Anindya mengatakan pertumbuhan tersebut didorong konsumsi pemerintah yang kemudian berlanjut pada konsumsi domestik, serta kinerja investasi yang dinilai tetap sehat.
Ia menyebut realisasi investasi pada kuartal I 2026 mencapai Sekeliling Rp500 triliun dan Tak hanya berasal dari proyek besar, tetapi juga tersebar di berbagai daerah.
“Pertumbuhan investasi kita sangat sehat, Sekeliling Rp500 triliun di kuartal I. Tak semuanya harus investasi yang mega, tetapi banyak sekali investasi di daerah,” ucapnya.
Perhimpunan “Kadin Monthly Economic Diplomatic Breakfast” pada bulan Mei 2026 dihadiri puluhan duta besar, kepala perwakilan diplomatik, Bilik dagang asing, pimpinan Kadin daerah, serta pejabat pemerintah sebagai bagian dari upaya memperkuat diplomasi ekonomi dan kerja sama investasi Indonesia.
Sejumlah negara yang hadir antara lain Singapura, China, Jepang, Korea Selatan, Rusia, Uni Emirat Arab, Belanda, Thailand, Vietnam, hingga Uni Eropa.
Menurut Anindya, keterlibatan Kadin daerah dalam Perhimpunan diplomasi ekonomi Krusial Buat mempertemukan Kesempatan investasi daerah dengan Kawan luar negeri.

Ia mengatakan kerja sama dengan negara sahabat dapat mendorong perdagangan sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok Dunia.
Selain itu, Indonesia Mempunyai sejumlah komoditas strategis yang dapat ditingkatkan nilai tambahnya melalui hilirisasi.
Anindya menyebut komoditas seperti minyak sawit, batu bara, nikel, dan komoditas lain Tak hanya perlu diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga didorong masuk ke proses hilirisasi.
“Ini kesempatan Buat memikirkan bagaimana komoditas-komoditas kita dari palm oil (minyak sawit), batu bara, nikel Tiba yang lain itu bukan saja kita ekspor, tapi Dapat kita hilirisasi,” ujar dia.
Ia menambahkan dunia usaha memilih Buat tetap menyiapkan diri menghadapi pertumbuhan, bukan hanya berfokus pada efisiensi di tengah ketidakpastian.
Anindya menilai kerja sama pusat dan daerah serta penguatan perdagangan antara Indonesia dan Kawan luar negeri menjadi kunci Buat memanfaatkan Kesempatan di tengah perubahan ekonomi Dunia.
“Kadin memilih Buat Konsentrasi juga di pertumbuhan. Nah ini yang kita lihat sehingga kita Dapat menjaga lapangan kerja bahkan meningkatkan,” katanya.
