Inisiasi ”Sekolah Sampah”, DPRD Surabaya Dorong Perubahan Perilaku Kelola Sampah dari Rumah

Foto BeritaJatim.com

 

Surabaya (Liputanindo.id) – Pengelolaan sampah Lagi menjadi tantangan berat bagi kota-kota di Indonesia, termasuk Surabaya. Di Kota Pahlawan, setiap hari Eksis Sekeliling 1.800 ton timbulan sampah, di mana Nyaris 60% di antaranya adalah sampah organik termasuk limbah dapur dan sisa makanan yang berpotensi menghasilkan gas metana yang memperparah krisis iklim bila tak diolah secara optimal di TPA.

Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Eri Irawan, menegaskan, tanpa Konsentrasi menggalang gerakan pemilahan dan pengolahan sampah berbasis sumber, permasalahan sampah Bukan akan tuntas Tamat Bilaman pun. Orientasi pengelolaan yang selama ini cenderung condong ke hilir berbasis TPA, harus ditransformasikan ke sektor hulu alias sumber sampahnya, seperti rumah tangga, komunitas RT/RW, sekolah, dan sebagainya.

”Persoalan sampah Bukan Pandai hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat. Kebiasaan memilah sampah rumah tangga menjadi langkah awal yang sangat Krusial Kepada mengurangi beban TPA, menyelamatkan Bumi kita, sekaligus meningkatkan nilai guna sampah,” ujar Eri Irawan, Selasa (12/5/2026).

Karena itu, Eri Irawan menginisiasi program edukatif bertajuk “Sekolah Sampah”. Program ini dihadirkan sebagai upaya membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan dimulai dari sumbernya. Edisi perdana ”Sekolah Sampah” akan digelar pada 23 Mei 2026, dan akan Lalu dilanjutkan ke edisi-edisi berikutnya setiap bulan.

Eri Irawan memaparkan, dalam kegiatan tersebut, peserta akan mendapatkan materi mengenai edukasi perubahan perilaku dalam mengelola sampah, termasuk pentingnya memilah sampah sejak dari rumah. Langkah sederhana tersebut dinilai menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang lebih Rapi, sehat, dan berkelanjutan bagi masa depan Bumi. Setiap peserta juga akan mendapatkan gratis komposter/biopori Kepada digunakan mengolah sampah organik di rumah/lingkungannya masing-masing.

“Sekolah Sampah” Bukan hanya menghadirkan materi teoritis, tetapi juga pembelajaran teknis yang mudah diterapkan masyarakat. Peserta akan dikenalkan pada metode pengolahan sampah organik secara sederhana dan murah menggunakan komposter, biopori, serta maggot skala rumah tangga. Metode ini diharapkan dapat membantu rumah tangga mengurangi volume sampah organik sekaligus menghasilkan manfaat bagi lingkungan.

Eri Irawan memaparkan, panitia membuka pendaftaran peserta secara online melalui tautan yang telah disebarluaskan melalui media sosial. Meski terbuka Kepada Biasa, program ini memprioritaskan calon peserta yang aktif dalam kegiatan kemasyarakatan di tingkat RT/RW, seperti kader PKK, pengurus RT/RW, majelis taklim, karang taruna, Kader Surabaya Hebat, dan berbagai elemen masyarakat lainnya yang aktif di lingkungan masing-masing.

”Prioritas tersebut diberikan karena peserta diharapkan dapat menjadi change driver atau penggerak perubahan dalam pengelolaan sampah di wilayahnya setelah mengikuti ’Sekolah Sampah’. Dengan demikian, edukasi dan praktik pengelolaan sampah yang diperoleh selama pelatihan dapat diteruskan kepada masyarakat secara lebih luas,” Jernih Eri yang merupakan politisi PDI Perjuangan.

Eri menambahkan, program ”Sekolah Sampah” juga merupakan bagian dari dukungan ke kebijakan Pemkot Surabaya yang Lalu bergerak memperkuat pemilahan sampah berbasis sumber. Salah satunya lewat program ”Kampung Pancasila”, skema pembangunan partisipatif berbasis RW. Di dalamnya Eksis Satgas Lingkungan, yang bertugas, antara lain, mempercepat pengurangan sampah melalui pemilahan sampah Sendiri.

”Pemkot Surabaya juga sedang menyiapkan pembagian fasilitas komposter hingga biopori ke RT-RT dan RW-RW di Kota Pahlawan. Ini momentum yang Berkualitas Kepada transformasi pengelolaan sampah di Surabaya,” pungkas alumnus Universitas Airlangga tersebut.[asg/aje]