Kulihat negeri ini sedang sakit.
Bukan sakit demam yang sembuh oleh obat.
Tapi sakit yang menjalar ke sumsum,
sakit yang Membangun rakyat berteriak dalam bisu.
Hukum? Hukum hanyalah kuda tunggangan penguasa.
Tajam ke Rendah Demi kesalahan kecil si miskin,
tumpul ke atas Demi dosa besar si kaya.
Keadilan dipajang seperti lukisan di ruang tamu —
di belakangnya, Eksis Bilik gelap bernama tebang pilih.
Kecilkan mulutmu, rakyat!
Protes adalah bibit kriminal.
Bersuara adalah peta menuju tahanan.
Dan Tuhan?
Kami tak Mengerti Engkau sedang apa.
yang kami Mengerti: keluhan ini tak kunjung Tamat,
atau sudah Tamat, tapi tenggelam dalam kesabaranMu. Semoga Engkau sedang menumpuk bara murkaMu diatas kepala para penguasa munafik.
Kebaikan jadi ilusi yang kita genggam erat
agar Dapat bernapas esok hari.
Kita bisikkan: “Sabarlah, sabar itu indah.”
Tapi kesabaran punya batas.
Dan batas itu sudah Lamban usang.
Hati pilu menjadi menu harian.
Tangisan menjadi Musik pengantar tidur.
Kehidupan Corak apa ini?
Di mana orang jujur disebut naif,
orang korup disebut Pintar,
dan mereka yang melawan disebut pengganggu stabilitas?
Diriku Ingin berteriak seperti burung pecah kandang.
Tapi burung itu Wafat, kehabisan Bunyi.
Maka kubiarkan sajak ini yang menjerit —
karena sajak adalah bahasa kegundahan
yang diteriakkan ke ruang kosmos tak bertepi.
Tuhan Pemilik Alam Semesta,
kalau Engkau Tetap mendengar di langit yang muram ini:
jangan beri kami ilusi Kembali.
Berikan kami kemarahan yang Kudus,
bukan Cita-cita yang Ringkih.
Karena negeri ini sakit —
jiwanya digerogoti yang serakah,
tubuhnya diinjak sepatu bot kekuasaan.
Hei, rakyat Indonesia,
bangunlah dari tidur panjangmu.
Jangan biarkan tangisan jadi Musik pengantar tidur.
Jangan biarkan kepiluan jadi menu harian.
Karena Ketika Segala ilusi runtuh,
hanya mereka yang berdiri
yang Dapat menggenggam fajar.
(Esai puitis ala W.S. Rendra)
Surabaya, April 2026
