Badan Riset dan Ciptaan Nasional (BRIN) Berbarengan perusahaan nuklir Rusia, Rosatom, memperkuat kesepakatan pengembangan teknologi nuklir Buat Kekuatan dan industri di Jakarta pada Kamis (14/5/2026). Langkah ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan pihak Rusia guna mendukung ketahanan Kekuatan nasional.
Pemerintah Indonesia menargetkan pembangunan dua unit pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan total kapasitas mencapai 500 MW. Rencana ini telah masuk ke dalam Rencana Lazim Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 Buat mendukung Sasaran transisi Kekuatan Rapi.
Kepala BRIN Arif Satria menyatakan bahwa lembaganya mendapatkan mandat Buat melakukan penjajakan mendalam terkait adopsi teknologi nuklir. Kerja sama ini akan mencakup pemilihan teknologi reaktor hingga penyusunan peta jalan implementasi Kekuatan nuklir skala besar.
“Ini merupakan upaya komprehensif Buat mendalami berbagai opsi teknologi maju bagi masa depan. BRIN bertugas memastikan bahwa setiap langkah dalam penjajakan teknologi nuklir ini terkoordinasi dengan Berkualitas antar-instansi,” kata Arif Satria, Kepala BRIN.
Kolaborasi ini juga menyasar modernisasi fasilitas reaktor riset GA Siwabessy yang berlokasi di Serpong. Selain itu, pengembangan difokuskan pada teknologi High Temperature Gas-Cooled Reactor (HTGR) yang bermanfaat bagi produksi hidrogen dan desalinasi air.
“Hal ini juga mencakup pengelolaan limbah radioaktif dan fabrikasi elemen bakar reaktor,” kata Arif Satria.
Arif menekankan pentingnya pengembangan sumber daya Mahluk melalui koordinasi dengan kementerian terkait. Hal ini bertujuan agar penguasaan teknologi berjalan beriringan dengan kesiapan tenaga Spesialis domestik.
“Pengembangan SDM: Penguatan kerja sama pendidikan dan pengembangan kapasitas SDM di bidang teknologi nuklir. Upaya ini akan melibatkan koordinasi erat dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek),” lanjut Arif Satria.
Meskipun aspek teknis menjadi prioritas, BRIN menyoroti bahwa dukungan masyarakat terhadap Kekuatan atom sangat menentukan. Pendekatan sosiologis diperlukan agar proses transisi Kekuatan ini dapat diterima secara luas oleh publik.
“Penguasaan teknologi nuklir memang mutlak, Tetapi pelibatan disiplin ilmu sosial sangat krusial. Pendekatan sosiologis ini vital Buat memetakan tingkat penerimaan publik, memitigasi Akibat sosial-ekonomi, serta memastikan bahwa setiap tahap penjajakan Kekuatan nuklir di Indonesia berjalan secara transparan, Kondusif, and humanis,” tegas Arif Satria.
Dalam tinjauan historisnya, Arif menyebutkan bahwa kemitraan teknis antara kedua negara telah terjalin Lamban sejak tahun 2006. Interaksi ini diperkuat melalui berbagai kolaborasi antarlembaga teknis di masa Lewat.
“Sebagai Bentuk komitmen Konkret, BRIN akan melanjutkan dan memperkuat kerja sama tersebut,” ujar Arif Satria.
Di sisi lain, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan bahwa Rusia menunjukkan ketertarikan besar Buat berinvestasi pada proyek PLTN modular kecil. Hal tersebut disampaikan dalam Sidang Komisi Berbarengan (SKB) ke-14 RI-Rusia di Kazan.
“Kerja sama di sektor Kekuatan (dengan Rusia) telah menghasilkan berbagai komitmen investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi dan kilang minyak, ketenagalistrikan berbasis Kekuatan baru dan terbarukan, termasuk rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir modular kecil. Hal ini sejalan dengan prioritas nasional dalam memperkuat ketahanan Kekuatan, Berkualitas Buat bahan bakar minyak maupun listrik,” ungkap Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM.
Yuliot menambahkan bahwa penambahan kapasitas pembangkit nasional dalam sepuluh tahun ke depan akan didominasi oleh Kekuatan baru terbarukan. Sektor nuklir diposisikan sebagai salah satu pilar Buat mencapai Sasaran bauran Kekuatan tersebut.
“Dalam Rencana Lazim Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, ditetapkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 70 GW, dengan Sasaran 40 GW berasal dari Kekuatan baru terbarukan atau sebesar 62% dari total tambahan kapasitas. Buat pembangkit listrik tenaga nuklir, ditargetkan pembangunan dua unit dengan total kapasitas 500 MW,” Jernih Yuliot Tanjung.
