Hj Ansari Sampaikan Catatan Pengkajian Penyelenggaraan Haji Reguler

Foto BeritaJatim.com

Pamekasan (Liputanindo.id) – Member DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur XI Madura, Hj Ansari menyampaikan sejumlah catatan Pengkajian terhadap penyelenggaraan ibadah haji reguler tahun ini. Meski secara Standar Penyelenggaraan haji berjalan Fasih dan berbagai layanan mengalami peningkatan, Tetap terdapat beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian Demi perbaikan pada musim haji mendatang.

Salah satu layanan yang patut diapresiasi adalah operasional Bus Shalawat yang tersedia selama 24 jam. Layanan tersebut dinilai sangat membantu mobilitas jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram maupun sebaliknya, sehingga memudahkan Penyelenggaraan ibadah selama berada di Tanah Bersih.

Tetapi ia menilai jumlah petugas yang menangani jemaah lanjut usia (lansia) dan petugas kesehatan Tetap belum memadai dibandingkan dengan kebutuhan di lapangan. “Ke depan, kita harapkan pemerintah dapat menambah jumlah petugas serta meningkatkan kualitas pendampingan bagi jemaah lansia dan Golongan berisiko tinggi,” kata Hj Ansari, Rabu (3/6/2026).

Selain itu, Member Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan juga menyoroti sistem rekrutmen petugas haji yang perlu diperketat. Menurutnya, seluruh petugas harus Betul-Betul berorientasi pada pelayanan kepada jemaah dan bukan sekadar memanfaatkan kesempatan Demi menunaikan ibadah haji.

“Proses seleksi harus lebih ketat dengan mengedepankan kompetensi, integritas, dan dedikasi pelayanan, khususnya bagi petugas bimbingan ibadah, akomodasi, dan bidang pelayanan lainnya,” sambung legislator Perempuan satu-satunya dari Madura di Senayan.

Catatan lain yang disampaikan di antaranya Tetap terbatasnya armada transportasi pada fase pergerakan jemaah dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) menuju hotel. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian agar mobilitas jemaah dapat berlangsung lebih Fasih dan nyaman.

Di bidang logistik, Hj Ansari juga menilai pelayanan di Mina Tetap perlu ditingkatkan. Menurutnya, kualitas layanan logistik yang diterima jemaah di Mina belum sebaik pelayanan yang diberikan Ketika berada di Arafah.

Lebih lanjut, ia mengusulkan agar jemaah lansia mendapatkan pola pelayanan yang lebih Tertentu. Usulan tersebut mencakup pengaturan waktu keberangkatan dan kepulangan yang lebih terencana, penempatan hotel yang sesuai dengan kebutuhan lansia, serta penambahan petugas pendamping lansia yang telah mendapatkan pelatihan Tertentu.

“Dengan jumlah petugas yang memadai dan Mempunyai kompetensi Tertentu dalam pendampingan lansia dan Golongan beresiko tinggi, terlebih pelayanan kepada jemaah lanjut usia akan menjadi lebih optimal,” ungkapnya.

H. Ansari berharap berbagai catatan tersebut dapat menjadi bahan Pengkajian bagi penyelenggara haji guna meningkatkan kualitas pelayanan pada musim haji mendatang. “Dengan perbaikan yang berkelanjutan, diharapkan seluruh jemaah haji Indonesia dapat menjalankan ibadah dengan lebih Terjamin, nyaman, dan khusyuk,” pungkasnya. [pin]

Berikut beberapa catatan yang menjadi perhatian dan perbaikan pada penyelenggaraan haji di masa mendatang:
Pertama, Tetap dirasakan kurangnya jumlah petugas lansia (Landis) dan petugas kesehatan. Mengingat jumlah jemaah lanjut usia yang cukup banyak setiap tahunnya, diperlukan penambahan petugas yang Mempunyai kompetensi Tertentu dalam mendampingi dan melayani jemaah lansia.

Kedua, terdapat penilaian bahwa sebagian petugas haji lebih berorientasi Demi memperoleh kesempatan berhaji dibandingkan menjalankan tugas pelayanan secara optimal. Oleh karena itu, sistem rekrutmen petugas haji perlu diperketat dengan mengutamakan kompetensi, integritas, dan dedikasi pelayanan. Hal ini terutama perlu diterapkan pada petugas bimbingan ibadah, akomodasi, dan bidang pelayanan lainnya.

Ketiga, armada transportasi pada fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) Tetap perlu ditingkatkan. Ketersediaan transportasi yang memadai sangat Krusial Demi mengurangi kepadatan dan memperlancar pergerakan jemaah dari satu Posisi ke Posisi lainnya hingga kembali ke hotel.

Keempat, pelayanan logistik di Mina Tetap perlu mendapat perhatian lebih. Kualitas dan distribusi logistik di Mina dinilai belum sebaik pelayanan logistik yang diterima jemaah Ketika berada di Arafah, yang secara Standar sudah berjalan cukup Bagus.

Kelima, selama ini sektor pelayanan lebih menitikberatkan pada masalah logistik, transportasi dan konsumsi. Sedangkan terkait dengan Penyelenggaraan rukun haji kurang mendapat perhatian, padahal terkait dengan Absah tidaknya seseorang menunaikan ibadah haji. [kun]