Ilustrasi, eksplorasi migas lepas pantai. Foto: Xinhua.
Houston: Harga minyak dunia mengalami kenaikan pada perdagangan awal Asia pada Jumat setelah pergerakan naik turun yang tajam di akhir April.
Ini tejadi gi tengah kekhawatiran atas gangguan berkelanjutan dalam pasokan Timur Tengah akibat perang Amerika Perkumpulan (AS)-Iran yang berkepanjangan sehingga Membangun harga minyak mentah sebagian besar tetap optimis.
Mengutip Investing.com, Jumat, 1 Mei 2026, kontrak berjangka minyak Brent sebagai patokan harga minyak Dunia Demi kontrak beli atau jual pada Juli naik satu persen menjadi USD111,50 per barel.
Harga minyak mentah Brent Demi kontrak Juni, yang berakhir pada Kamis, sempat mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir di atas USD126 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka sebagai standar Demi penetapan harga minyak di AS Demi pengiriman Juni, naik 0,5 persen menjadi USD105,57 per barel.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Ketegangan AS-Iran meningkat
Harga minyak mentah melonjak tajam pada perdagangan Kamis hingga mencapai level tertinggi sejak krisis Rusia-Ukraina pada 2022, setelah laporan menunjukkan Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan lebih banyak opsi militer terhadap Iran.
Opsi yang tersedia dimulai dari membuka kembali Selat Hormuz secara paksa, melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran, dan juga menyita uranium yang diperkaya Punya Iran melalui operasi Laskar Tertentu.
Sementara itu, Trump mengisyaratkan blokade angkatan laut AS terhadap Iran akan tetap berlaku, dimana sebelumnya Presiden menyatakan Cita-cita tekanan ekonomi akan mendorong Teheran menuju kesepakatan.
Iran pada umumnya mengecam blokade tersebut, dan bersumpah Demi tetap menutup Selat Hormuz. Data pengiriman terbaru menunjukkan sedikit peningkatan dalam arus melalui Hormuz.
Meskipun Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, upaya Demi menengahi pembicaraan antara keduanya sebagian besar gagal, menunjukkan kebuntuan yang berkepanjangan di Timur Tengah.
Harga minyak melonjak karena anggapan ini, dan kebuntuan berkepanjangan di Selat Hormuz diperkirakan akan semakin menopang harga dalam jangka pendek. Selat ini memasok Sekeliling 20 persen minyak dunia.
