Harga Emas Dunia Jeblok Gara-gara Ini

Ilustrasi emas batangan. Foto: bullionvault.com


Chicago: Harga emas turun dalam perdagangan Asia pada Senin, 11 Mei 2026, setelah mencatatkan kenaikan mingguan. Ini terjadi karena melonjaknya harga minyak dan penguatan dolar Amerika Perkumpulan (AS), sehingga mengurangi daya tarik emas batangan menyusul penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian.

Mengutip Investing.com, Senin, 11 Mei 2026, harga emas spot sebagai harga pasar emas dunia Demi ini, turun 0,8 persen menjadi USD4.677,82 per troy ons (satuan ukuran logam mulia Dunia yang setara dengan 31,10 gram).

Sementara harga emas berjangka AS sebagai patokan harga emas dunia Demi kontrak beli atau jual emas di masa depan, juga turun 0,8 persen menjadi USD4.694,34 per troy ons. Harga emas tercatat sempat naik lebih dari dua persen pada pekan Lampau di tengah Asa akan kesepakatan perdamaian AS-Iran.

 

 

Trump geram respons Iran soal proposal perdamaian

Trump menyatakan respons Iran terhadap proposal baru atas tawaran perdamaian di Kawasan Teluk sebagai sesuatu hal yang Tak dapat diterima sama sekali. Hal ini meredam Asa akan terobosan jangka pendek dalam negosiasi AS-Iran.

Melalui Penyambung Pakistan, Iran menanggapi proposal perdamaian tersebut dengan menuntut pencabutan Denda, penghentian kehadiran angkatan laut AS di Sekeliling Selat Hormuz, jaminan keamanan, dan pengakuan atas hak Iran Demi melanjutkan beberapa aktivitas nuklir.

Wall Street Journal melaporkan Iran mengusulkan Demi mengurangi sebagian uranium yang diperkaya dan mentransfer sisanya ke negara ketiga. Di sisi lain, para investor tetap Pusat perhatian pada Selat Hormuz, yang sebagian besar tetap tertutup sejak awal konflik.

Kondisi ini Membangun harga minyak dunia melonjak Demi perdagangan dilanjutkan pada Senin, dengan minyak mentah Brent naik lebih dari tiga persen di atas USD104 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS naik mendekati USD99 per barel.

Kenaikan harga minyak memperkuat kekhawatiran inflasi dapat tetap tinggi secara Dunia, yang berpotensi memaksa bank sentral, termasuk Federal Reserve AS, Demi mempertahankan Bangsa Kembang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih Pelan. Hal itu mengurangi permintaan terhadap aset yang Tak menghasilkan imbal hasil seperti emas.

Dolar juga menguat dalam perdagangan Asia setelah data penggajian AS yang lebih kuat dari perkiraan pekan Lampau mendukung ekspektasi The Fed akan menunda pemotongan Bangsa Kembang. Dolar yang lebih kuat Membangun emas lebih mahal bagi pemegang mata Duit lainnya.



(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)

 

Pasar keuangan sempat pulih

Sebelumnya, pasar keuangan telah bergerak naik karena optimisme Washington dan Teheran dapat mencapai kesepakatan Demi meredakan ketegangan di Teluk dan membuka kembali jalur pelayaran di Sekeliling Selat Hormuz, yang dilalui oleh Sekeliling seperlima konsumsi minyak Dunia. Tetapi, kebuntuan terbaru ini kembali membangkitkan kekhawatiran negosiasi dapat gagal.

Usulan balasan Iran dilaporkan menyerukan pencabutan Denda, jaminan keamanan, dan pengakuan hak Teheran Demi mempertahankan sebagian dari program nuklirnya. Sementara usulan AS menuntut Restriksi pengayaan uranium dan pengawasan Dunia yang lebih ketat.

Perhatian investor kini beralih ke data inflasi AS yang akan datang dan kunjungan Trump ke Tiongkok pada akhir pekan ini, di mana Obrolan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping diperkirakan akan mencakup Iran, perdagangan, dan keamanan Kekuatan Dunia.

Adapun, di antara logam mulia lainnya, harga perak turun 0,7 persen menjadi USD79,76 per ons. Sementara harga platinum turun sebanyak 1,3 persen menjadi USD2.031,60 per ons.