Liputanindo.id – Pemerintah mesti merealokasi anggaran belanja sejumlah program Buat menghadapi tekanan tingginya harga minyak akibat konflik Iran dengan Amerika Perkumpulan (AS) dan Israel.
Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira menilai opsi tersebut lebih Bagus alih-alih Meningkatkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi Buat mengurangi tekanan fiskal.
“Jangan Meningkatkan harga BBM, masyarakat belum siap. Sebaiknya segera lakukan realokasi anggaran,” kata Bhima, Senin kemarin.
Apabila harga minyak menembus Nomor 120 dolar AS per barel, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 diperkirakan Pandai melebar hingga 3,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) akibat beban tambahan Rp340 triliun.
Bila konflik berlanjut lebih dari satu bulan dan pemerintah Kagak menambah subsidi Daya serta kompensasi ke PT Pertamina (Persero), kata Bhima, maka kenaikan harga BBM menjadi opsi berikutnya. Sementara, bila BBM naik, inflasi pangan berpotensi melambung dan menurunkan konsumsi kelas menengah ke Dasar.
Dengan ruang fiskal yang terbatas, Bhima menyarankan agar pemerintah menyesuaikan belanja tiga program, di antaranya Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dan food estate.
Tertentu terkait MBG, menurut Bhima, sorotan dari lembaga pemeringkat Dunia Fitch Ratings dan Moody’s Investors Service (Moody’s) Pandai menjadi justifikasi Buat memangkas anggaran program tersebut.
Di sisi lain, Bhima berpendapat pemerintah perlu segera membahas penyesuaian APBN dengan DPR. Hal ini Buat meredam Akibat volatilitas harga minyak terhadap ruang fiskal.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberi waktu satu bulan Buat mengevaluasi potensi penyesuaian APBN.
Buat sejauh ini, Purbaya berpendapat rerata perkembangan harga minyak Lagi di Dasar kapasitas maksimal APBN.
Dia juga belum berencana Meningkatkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi di tengah kenaikan harga minyak dunia. Menurutnya, anggaran fiskal Lagi cukup Buat menampung gejolak Begitu ini.
