Tuai Protes Keras, Pemerintah India Wajibkan Pelajar Ikut Sesi Zumba di Sekolah

Liputanindo.id – Pemerintah negara bagian Karela di India Selatan menolak Embargo zumba bagi anak-anak di sekolah. Pemerintah Karela menekankan unsur agamai Tak boleh dikaitkan dengan pendidikan.

Menteri Pendidikan negara bagian tersebur, V Sivankutty, mengatakan gelombang protes soal zumba di sekolah lebih berbahaya dari ‘asalah narkoba. Ia menekankan Tak akan membatalkan program tersebut, dengan menambahkan bahwa Keyakinan Tak boleh dicampur dengan pendidikan.

“Mereka yang memprotes membuktikan diri mereka lebih berbahaya daripada masalah narkoba apa pun,” kata V Sivankutty, dikutip BBC, Kamis (3/7/2025).

Sivankutty menambahkan bahwa meskipun sekolah telah diminta Demi memasukkan zumba ke dalam kurikulum, kelas-kelas tersebut tetap menjadi pilihan bagi para siswa.

“Kami Tak memaksa siapa pun – Anda selalu dapat memilih Demi Tak ikut Apabila Anda mau,” tegasnya.

Diketahui Sekeliling 14.000 sekolah negeri di Karela diminta Demi menyelenggarakan sesi zumba harian sebagai bagian dari kampanye antinarkoba yang diluncurkan pemerintah bulan Lampau.

Keputusan tersebut ditentang keras oleh beberapa organisasi Hindu dan Muslim di negara bagian tersebut, yang mengatakan bahwa tarian tersebut merupakan bentuk invasi budaya.

Grup tersebut mendesak orang Sepuh dan guru Demi memboikot program tersebut, dengan mengatakan bahwa hal itu bertentangan dengan keyakinan Keyakinan dan nilai-nilai moral mereka. 

Samstha Kerala Jamiyyathul Ulema, sebuah organisasi ulama Muslim yang berpengaruh di negara bagian tersebut, yang mengelola ratusan sekolah Keyakinan menentang keras kelas zumba tersebut. Pihaknya mengatakan bahwa anak Pria dan Perempuan yang menari Serempak Tak Dapat diterima.

“Zumba bertentangan dengan nilai-nilai moral India karena mengharuskan siswa mengenakan Pakaian ketat dan menari berdekatan. Ini Tak boleh diterima,” kata juru bicara Grup tersebut, Nasar Faizy Koodathai.

Bahkan dalam sebuah pernyataan awal minggu ini, Direktur organisasi tersebut, R Sanjayan, menyebut zumba sebagai impor “asing” dan mengatakan bahwa memaksakannya kepada siswa atas nama memerangi penggunaan narkoba adalah “jahat”.

“Eksis motif tersembunyi di balik promosi ekspor budaya asing seperti zumba oleh pemerintah, yang Tak berupaya memperkaya atau melindungi tradisi kita,” katanya.

Langkah mengenalkan zumba pada sesi pendidikan ini dilakukan sebagai kampanye memerangi narkoba di kalangan pelajar. Berdasarkan Panduan tersebut, Segala sekolah negeri telah diminta Demi mempekerjakan instruktur zumba terlatih Demi mengadakan sesi harian bagi para siswa.

Kurikulum dan jadwalnya harus dirancang dengan mempertimbangkan kenyamanan siswa dan guru. Para pelajar juga mengenakan seragam sekolah selama sesi zumba sehingga Tak menimbulkan persepsi negatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *