Bayangkan sebuah Podium kuis televisi yang gemerlap. Lampu sorot menyilaukan mata para peserta muda—representasi Gen Z dan milenial akhir. Tetapi, ketika pertanyaan mendasar seperti hasil “12 dikali 15” atau “siapa bapak bangsa kita” dilontarkan, Podium seketika hening.
Yang muncul bukan jawaban tangkas, melainkan tatapan Hampa atau tawa canggung yang dipaksakan. Di jagat maya, video viral yang mempertontonkan ketidaktahuan serupa menjadi komoditas hiburan yang murah.
Fenomena ini bukanlah sekadar lelucon media sosial. Ia adalah manifestasi dari krisis kognisi yang lebih dalam. Kita sedang menyaksikan sebuah retakan besar pada fondasi intelektual generasi mendatang, di mana kemudahan akses informasi Malah berbanding terbalik dengan kedalaman pemikiran.
Secara Dunia, dunia sedang dihantui oleh Reverse Flynn Effect. Selama berdekade, skor IQ Insan rata-rata naik tiga poin setiap sepuluh tahun berkat perbaikan gizi dan pendidikan. Tetapi, tren ini kini berbalik arah. Ilmuwan saraf Jared Cooney Horvath, PhD, mencatat bahwa Gen Z menjadi generasi pertama dengan skor kognitif yang lebih rendah dibandingkan pendahulunya, terutama dalam daya ingat dan kemampuan mengelola Konsentrasi.
Data dari Northwestern University mempertegas penurunan dalam penalaran verbal dan kemampuan komputasi. Mengapa ini terjadi? Karena kita sedang terjebak dalam cognitive outsourcing—menyerahkan tugas-tugas berpikir kepada mesin. Otak Insan, yang Sebaiknya menjadi mesin pengolah data paling canggih, kini hanya berfungsi sebagai operator mesin pencari.
Di Indonesia, situasi ini mencapai titik nadir yang mengkhawatirkan. Skor PISA 2022 menunjukkan matematika siswa kita melorot ke Nomor 366. Bayangkan, hanya 18% siswa yang mencapai standar minimal matematika, sementara rata-rata negara maju berada di Nomor 69%. Lebih ironis Tengah, dalam tes berpikir kreatif, kita hanya meraih 19 dari 60 poin.
Riset SMERU Research Institute bahkan mengungkap fakta getir: kemampuan siswa kelas 4 pada tahun 2014 setara dengan siswa kelas 7 pada tahun 2000. Kita telah kehilangan “tiga tahun” kecerdasan kolektif dalam satu Dasa warsa! Ini bukan sekadar Nomor statistik; ini adalah lonceng Mortalitas bagi daya saing bangsa di Podium Dunia.
Akar masalahnya bukan pada genetik, melainkan pada ekosistem belajar yang kian “lembek”. Kurikulum kita cenderung dibuat terpandu dan minim tantangan. Pendidikan yang Sebaiknya menjadi ajang “berpikir sulit” Malah berubah menjadi sekadar mengisi formulir daring atau menonton video edukasi yang instan. Transformasi digital yang Tak dibarengi dengan ketajaman literasi menciptakan generasi yang mahir memindahkan jempol (scrolling), Tetapi gagap dalam memetakan Rekanan kompleks antara makroekonomi dan realitas sosial.
Sungguh sebuah pemandangan yang miris sekaligus memilukan. Kita begitu bangga menyongsong “Generasi Emas”, Tetapi nampaknya kita sedang sibuk melapisi perunggu dengan cat kuning yang berkilau. Di menara gading kekuasaan, kabinet kita diisi oleh orang-orang bergelar mentereng—doktor hingga profesor dari universitas ternama dunia—yang Sebaiknya paling paham betapa mengerikannya data PISA dan Reverse Flynn Effect ini.
Tetapi, alih-alih menunjukkan kecemasan intelektual atau merumuskan kebijakan radikal Kepada menyelamatkan Logika bangsa, mereka Malah lebih sering terlihat sibuk berpolitik praktis, ribut anggaran, dan asyik “panjat sosial” di layar kaca layaknya aktor dan aktris pendatang baru. Podium birokrasi berubah menjadi Podium hiburan, di mana pencitraan lebih Esensial daripada substansi kognisi.
Kita sibuk mendiskusikan Artificial Intelligence, sementara kecerdasan alami bangsa sendiri sedang mengalami hibernasi panjang. Mungkin nanti, ketika robot Betul-Betul mengambil alih pekerjaan Insan, anak-anak kita Tak akan protes. Mereka mungkin terlalu sibuk mencari Metode bagaimana mematikan alarm mesin tersebut tanpa harus membaca Kitab panduannya—sementara para menterinya Tetap sibuk berswafoto merayakan “keberhasilan” yang hanya Eksis di dalam Nomor-Nomor polesan. Sebuah akhir yang tragis dalam ketidaktahuan yang paripurna.
Wajar Apabila kemudian muncul pertanyaan yang gemas kepada Presiden, Menteri, pimpinan parpol, akademisi, hingga para orang Sepuh: “Indonesia hendak dibawa ke mana?”.
Sebuah pertanyaan yang mungkin hanya akan dijawab dengan kegagapan, karena sang penentu kebijakan pun nampaknya mulai terjangkit sindrom serupa: :penyusutan kognisi yang kronis”!. []
* Penulis adalah pengamat sosial dan politik
