Flotilla: Kesaksian relawan Ketika ditahan Israel – ‘Diperkosa, ditembak’

Sejumlah relawan flotilla tiba di Roma, Italia, pada Kamis (21/05).

Para aktivis dan relawan pro-Palestina menyatakan telah mengalami perlakuan Enggak manusiawi selama ditahan militer Israel. Mereka dideportasi setelah flotilla yang mereka tumpangi menuju Gaza dicegat Laskar Israel di perairan Dunia.

Pemerintah Kanada mengatakan telah menerima informasi yang merinci “perlakuan mengerikan” terhadap warganya. Adapun pemerintah Jerman dan Spanyol mengonfirmasi bahwa sejumlah Penduduk mereka mengalami cedera.

Penyelenggara Dunia Sumud Flotilla 2.0 menyatakan “setidaknya Eksis 15 kasus kekerasan seksual” serta perlakuan keji lainnya.

BBC belum dapat memverifikasi secara independen tuduhan tersebut.

Otoritas penjara Israel menolak tuduhan tersebut Enggak Betul, seraya mengklaim Seluruh tahanan “ditahan sesuai hukum”.

Militer Israel juga telah dimintai komentar.

Peringatan: Artikel ini memuat deskripsi dugaan kekerasan yang mungkin Membikin sebagian pembaca merasa terganggu

‘Diperkosa, ditembak, dijambak’

Penyelenggara Dunia Sumud Flotilla 2.0 merilis pernyataan pada Jumat (22/05) mengenai perlakuan militer Israel terhadap para relawan.

“Setidaknya Eksis 15 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan. Eksis yang ditembak dengan peluru karet dari jarak dekat. Puluhan orang mengalami patah tulang.”

Sejumlah aktivis dan relawan juga mengungkapkan perlakuan tersebut Ketika berbicara kepada wartawan setelah dideportasi.

Ketika tiba di Paris pada Jumat (22/05), aktivis Prancis, Meriem Hadjal, mengatakan kepada wartawan bahwa ia “mengalami kekerasan seksual dan diraba”.

Dia menambahkan: “Saya dipukul, ditampar, disentuh, ditendang di tulang rusuk, rambut saya dijambak. Saya mengalami trauma selama berjam-jam.”

Dua Penduduk Italia yang dideportasi pada Kamis (21/05)—Alessandro Mantovani, jurnalis surat Berita Il Fatto Quotidiano, dan Dario Carotenuto, Member parlemen dari Gerakan Bintang Lima—menuturkan perlakuan yang mereka terima Ketika berada di Israel.

Mantovani mengatakan dirinya dipukuli oleh Laskar Israel setelah dibawa ke fasilitas penahanan yang terbuat dari kontainer. Dia menyebutnya “tempat teror”.

Di bandara Istanbul, aktivis UK, Richard Johan Anderson, mengatakan kepada wartawan: “Kami dipukuli, disiksa, secara sistematis diperlakukan Enggak manusiawi, dan… kami baru saja merasakan sedikit dari apa yang dialami rakyat Palestina setiap hari.”

Adalah, Grup hak asasi yang berbasis di Israel dan mewakili para tahanan, sebelumnya mengatakan terjadi “cedera parah yang meluas”. Setidaknya tiga orang dibawa ke rumah sakit Buat perawatan.

Grup tersebut mengatakan pengacaranya, yang berbicara dengan ratusan aktivis di Pelabuhan Ashdod, menerima “sejumlah besar keluhan mengenai kekerasan ekstrem” oleh otoritas Israel.

Kecaman dan kutukan terhadap Israel

Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, mengecam perlakuan Enggak manusiawi yang diterima para relawan selama masa penahanan.

“Tindakan yang merendahkan Harkat Penduduk sipil dalam sebuah misi kemanusiaan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter Dunia yang Enggak dapat ditoleransi,” kataya.

Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, mengatakan pada Jumat (22/05) bahwa telah “menerima informasi dari pejabat saya yang merinci perlakuan mengerikan terhadap Penduduk Kanada yang ditahan di Israel”. Anand Enggak memberikan rincian lebih lanjut mengenai perlakuan tersebut.

Dia menambahkan: “Kanada dengan tegas mengutuk perlakuan Enggak baik terhadap Penduduk Kanada di Israel. Mereka yang bertanggung jawab atas penyalahgunaan berat ini harus dimintai pertanggungjawaban.”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman mengatakan pejabat konsuler mereka telah menemui aktivis Jerman Ketika tiba di Istanbul pada Kamis (21/05) dan melaporkan bahwa sejumlah orang mengalami cedera.

Perlakuan manusiawi terhadap Penduduk negara Jerman adalah “prioritas mutlak”, tambahnya.

“Kami tentu mengharapkan penjelasan lengkap, karena beberapa tuduhan yang diajukan bersifat serius.”

Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Albares, mengatakan kepada wartawan bahwa empat dari 44 aktivis Spanyol telah menerima perawatan medis akibat cedera yang mereka alami.

Pada Senin (18/05) pagi, pasukan bersenjata dari Angkatan Laut Israel mulai mencegat armada tersebut di perairan internasional sebelah barat Siprus, sekitar 250 mil laut dari pantai Gaza, yang diblokade Israel.

Dalam sebuah pernyataan, otoritas penjara Israel mengatakan berbagai tuduhan tersebut “Enggak Betul dan sepenuhnya Enggak Mempunyai dasar faktual”.

“Seluruh tahanan ditahan sesuai hukum, dengan penghormatan penuh terhadap hak-hak dasar mereka dan di Rendah pengawasan petugas penjara yang profesional dan terlatih,” katanya.

“Perawatan medis diberikan sesuai penilaian medis profesional dan sesuai dengan Panduan kementerian kesehatan.”

Pemerintah Israel menyebut aksi para relawan dan aktivis dalam Dunia Sumud Flotilla 2.0 sebagai “aksi publikasi semata” yang melayani Grup Hamas. Israel memerintahkan Laskar Angkatan Laut Buat menaiki iring-iringan kapal yang ditumpangi para relawan dan aktivis di perairan sebelah barat Siprus pada Senin (18/05) dan Selasa (19/05).

Aksi menteri Israel Ketika relawan ‘diborgol dan bersujud’

Awal pekan ini, Israel menghadapi kecaman lebih dari 20 negara terkait aksi Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben Gvir, yang membawahi lembaga pemasyarakatan dan kepolisian Israel.

Video tersebut menunjukkan dia mengejek puluhan aktivis ketika mereka dipaksa berlutut dengan tangan diborgol dan bersujud.

Para aktivis juga terlihat diperlakukan secara kasar oleh Laskar Israel.

Hal ini memicu kritik langka terhadap tindakan Ben Gvir dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang mengatakan tindakan tersebut “Enggak sesuai dengan nilai-nilai Israel”.

Menteri Keamanan Nasional Israel memberi isyarat di depan bendera Israel saat mengunjungi sebuah fasilitas di pelabuhan Ashdod, Israel, tempat para aktivis pro-Palestina dari flotila menuju Gaza ditahan (20 Mei 2026).

Lebih dari 50 kapal dalam Dunia Sumud Flotilla 2.0 berlayar dari Turki, pekan Lewat, dengan rencana menembus blokade maritim Israel terhadap Gaza dan mengirimkan makanan serta Sokongan medis.

Pada Senin (18/05) pagi, Laskar Angkatan Laut Israel mulai mencegat rombongan tersebut di perairan Dunia sebelah barat Siprus, Sekeliling 460 km dari pantai Gaza, yang berada di Rendah blokade maritim Israel.

Para relawan dan aktivis yang ditahan dipindahkan ke kapal Israel, dibawa ke Pelabuhan Ashdod, Lewat dipindahkan ke penjara Israel.

Pada Kamis (21/05), 422 orang dari 41 negara dideportasi oleh Israel, termasuk sembilan Penduduk Indonesia.

Banyak dari mereka sejak itu telah tiba kembali di negara asal masing-masing.