Fesyen: Perempuan muda di China beralih membeli Pakaian pria

Dua perempuan di sebuah toko di China, dengan latar belakang merah Shanghai. Perempuan di bagian depan memegang sebuah atasan putih dan hijau di gantungan untuk perempuan lain yang melihat dari belakang.

Telah diterbitkan

Waktu membaca: 7 menit

Menjelang musim panas, Kexin, seorang Perempuan muda di China, menyadari Eksis yang berbeda di lemari pakaiannya. Rupanya, koleksi baju pria miliknya kini jauh lebih banyak daripada baju Demi Perempuan.

Kemeja, kaus, dan celana pendek itu bukan dibeli Demi pacar atau ayahnya, melainkan Demi dirinya sendiri.

Kexin, yang enggan menyebutkan nama belakangnya, Kagak sendirian. Fenomena ini tengah menjamur di kalangan Perempuan muda di China.

Bagus di lingkungan pertemanan Kexin maupun di jagat maya, semakin banyak Perempuan yang mengaku mulai beralih ke Pakaian pria.

Beberapa Dalih yang disebut adalah kualitas bahan yang lebih bagus, harga yang lebih murah, kenyamanan yang ekstra, dan bebas dari bayang-bayang body-shaming.

Tetapi, apa sebenarnya yang memicu tren ini?

Seorang perempuan menjahit sepotong kain di antara banyak pakaian dalam apa yang tampak seperti sebuah pabrik. Ia mengenakan seragam dan celemek bermotif.

Di Xiaohongshu—aplikasi media sosial Terkenal di China yang juga dikenal sebagai RedNote—tagar “Perempuan memakai Pakaian pria” telah menembus lebih dari 82 juta tayangan, sementara topik “gaya berpakaian Independen gender” telah melampaui 90 juta tayangan.

Unggahan mengenai topik ini Maju berlipat ganda. Isinya kerap mengulas berbagai Keistimewaan Pakaian pria, mulai dari kandungan bahan katun dan linen yang lebih tinggi, potongan yang lebih rapi, kantong yang lebih besar, jahitan yang lebih halus, pengerjaan yang lebih rapi, hingga harga yang jauh lebih miring.

Kexin mengenang bahwa perubahan pada isi lemarinya bermula pada tahun 2023. Begitu itu, beranda Douyin miliknya mulai sering menampilkan siaran langsung yang menjual kaus pria. Douyin sendiri adalah semacam aplikasi TikTok versi China.

Awalnya ia merasa heran. Kexin Kagak pernah berbelanja Demi Bapak maupun pacarnya, jadi mengapa algoritma media sosial Bahkan merekomendasikan konten tersebut?

Ia sempat mengira itu hanya kesalahan sistem, Tamat suatu hari, ia Kagak sengaja membiarkan ponselnya tetap menyala dan menampilkan siaran langsung penjualan baju Begitu ia sedang berada di Bilik mandi.

“Para gadis Dapat membeli ukuran yang lebih kecil dan memakainya sendiri,” katanya.

“Ini model unisex—Perempuan juga Dapat Mengenakan.”

Kalimat-kalimat itu Maju diulang berkali-kali dalam hitungan menit.

Berbeda dengan siaran langsung yang menyasar konsumen Perempuan, yang biasanya gencar mempromosikan Pengaruh melangsingkan tubuh, menyamarkan “kekurangan” fisik, atau menampilkan Gambaran feminin yang anggun, siaran langsung ini Bahkan berfokus pada kualitas kain dan bahan material.

“Hal itu Betul-Betul menarik bagi saya,” ujarnya. “Saya Kagak pernah habis pikir mengapa Pakaian Perempuan selalu memaksakan standar kecantikan arus Penting, padahal desainnya sering kali Kagak nyaman Begitu dipakai.”

Elemen harga juga menjadi daya tarik tersendiri. Sebagian besar kemeja pria tersebut dijual dengan harga di Dasar 100 yuan (Sekeliling Rp220.000). Dengan harga semurah itu, risiko finansialnya terasa kecil bahkan Apabila ia harus mengembalikan barang tersebut.

Kexin akhirnya membeli kaus “Pakaian pria” pertamanya—dan ia langsung Kagum. Kaus tersebut terasa jauh lebih nyaman, lebih tebal, dan lebih adem dibandingkan Pakaian Perempuan yang pernah ia beli sebelumnya dengan harga tiga kali lipat lebih mahal.

Tak butuh waktu Lamban bagi Kexin Demi mulai memborong lebih banyak Pakaian pria. Rasa canggung yang sempat ia khawatirkan sebelum memakainya pun Kagak pernah terbukti.

Seiring berjalannya waktu, Pakaian-Pakaian pria ini secara bertahap menguasai isi lemarinya.

“Sama seperti spesies invasif yang menggeser habitat aslinya,” selorohnya.

Mengurangi pengeluaran

Seorang perempuan berdiri mengambil swafoto di depan cermin dengan latar belakang dinding bata merah, mengenakan celana hitam dan kemeja putih dengan rumbai panjang.

Tren ini juga bergulir di tengah lesunya perekonomian dan daya beli masyarakat di China sejak Restriksi Covid-19 dicabut pada akhir 2022.

Bagi pekerja seperti Kexin, yang harus menjalani jadwal kerja “996” yang sangat melelahkan, di Shanghai, sikap cermat dalam mengatur keuangan kini sudah jadi keharusan.

Jadwal kerja “996” adalah waktu bekerja yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 21.00, enam hari seminggu.

Ia menjadi lebih berhati-hati Demi pindah pekerjaan dan semakin enggan merogoh kocek terlalu dalam Demi kebutuhan pokok seperti Pakaian.

Dalam situasi seperti ini, sebagian konsumen mulai beralih ke tren konsumsi terbalik, sebuah prinsip belanja yang lebih memprioritaskan nilai guna dan daya tahan barang ketimbang mengikuti arus fesyen Segera, alias fast fashion.

“Kalau bajunya Kagak pas, mengembalikannya pun mudah,” ujar Kexin. “Saya merasa Kagak Eksis gunanya Kembali menghabiskan banyak Fulus Demi Pakaian. Kembali pula, saya jarang memakai baju yang sama selama lebih dari satu musim.”

Masalah ukuran

Seorang perempuan mengenakan pakaian pria berukuran besar. Ia memegang ponselnya di tangan kiri, mengambil gambar, dan memasukkan tablet ke dalam kantong dengan tangan yang sama. Atasannya berwarna-warni, dan ia mengenakan bawahan hitam.

Bagi sebagian besar Perempuan, peralihan ini sebenarnya bukan Demi menyuarakan pernyataan gender, melainkan murni karena Dalih kepraktisan. Standar ukuran Pakaian merupakan salah satu aspek yang paling sering dikritik dari industri busana Perempuan di China.

Di platform media sosial seperti Douyin dan Xiaohongshu, para pembuat konten alias influencer yang bertubuh langsing pun kerap menunjukkan bagaimana baju-baju yang diklaim berukuran besar Rupanya nyaris Kagak muat di tubuh mereka.

Eksis gaun berlabel XL alias Ekstra Besar, yang bahkan Kagak Dapat melewati paha mereka, atau sistem ukuran yang mengategorikan Perempuan yang relatif ramping ke dalam Golongan ukuran paling kecil. Sementara itu, Perempuan yang bertubuh lebih tinggi akan langsung tergeser ke pilihan ukuran yang paling besar.

Dalam sebuah video yang viral, seorang blogger bahkan memakaikan baju atasan Perempuan berukuran L kepada anjing pudelnya—dan baju itu pas melekat di tubuh si anjing.

Seorang pengacara yang berbasis di Shanghai, Li, yang hanya Ingin diidentifikasi dengan nama belakangnya, mengaku sudah sejak Lamban beralih ke Pakaian pria karena baju Perempuan jarang Eksis yang pas di tubuhnya.

Li Mempunyai tinggi badan 170 cm dengan bahu yang bidang. Baru ketika menempuh studi di Eropa, Li menyadari bahwa baju ukuran medium standar Rupanya Dapat pas dan nyaman ia kenakan.

“Rasanya seperti Pakaian Perempuan di sini memang Kagak dirancang Demi orang-orang dengan tipe tubuh seperti saya,” ujarnya.

Dia juga menyoroti sisi praktis dari Pakaian pria. Sepasang celana pria ukuran M Bisa menampung tablet berukuran 11 inci dan sebuah Naskah di dalam kantongnya tanpa merusak kenyamanan maupun bentuk celana Begitu dipakai.

“Pakaian Perempuan mana yang Dapat seperti itu? Membawa lipstik saja terkadang sudah Dapat Membangun kantong baju kita terlihat menggembung,” pungkasnya.

Tekanan industri

Seorang perempuan berambut sebahu mengenakan kemeja oversize warna putih gading, syal bermotif hitam dan krem di lehernya, dengan latar belakang tempat tidur.

Menurut Wang, seorang desainer di salah satu merek fesyen skala menengah, masalah ukuran dan merosotnya kualitas ini mencerminkan tekanan yang lebih luas yang tengah dihadapi oleh industri busana.

Sektor Pakaian di China menyusut signifikan sejak pandemi, yang ditandai dengan penurunan Nomor produksi dan ekspor. Pertumbuhan ritel juga melambat tajam; hanya tumbuh sebesar 0,1% pada tahun 2024, merosot jauh dibandingkan tahun 2023 yang sempat mencapai Sekeliling 15%.

Kondisi ini Membangun perusahaan-perusahaan kini mengurangi produksi desain baru. Di sisi lain, konsumen, yang merasa sudah Mempunyai cukup banyak Pakaian di lemari mereka, juga mulai memangkas pengeluaran.

Demi menekan biaya operasional, beberapa merek kini memilih Demi membeli pola Pakaian siap Mengenakan dari Asia Tenggara, ketimbang mengembangkan desain mereka sendiri.

Tetapi, pola-pola desain ini kerap kali Kagak sesuai dengan proporsi bentuk tubuh masyarakat China.

Alhasil, potongan baju menjadi Kagak pas Begitu dikenakan dan memicu maraknya fenomena Pakaian Perempuan yang dijuluki “seukuran baju anak-anak”.

Pilihan desain ini murni didorong oleh Elemen ekonomi. Pakaian yang dirancang Demi tipe tubuh yang lebih ramping jauh lebih murah dan lebih mudah diproduksi. Sebaliknya, Pakaian berukuran besar membutuhkan teknik penjahitan yang lebih rumit serta biaya produksi yang lebih tinggi.

“Apabila biaya Demi menjual 20 potong baju ukuran besar sama tingginya dengan memproduksi 200 potong ukuran sedang, perusahaan tentu akan memilih Demi menghapus ukuran besar dari lini produksi mereka,” ungkap Wang.

Dengan harga bahan baku kain yang kini melonjak tajam, pihak produsen menghadapi tekanan baru. Wang pun memperingatkan bahwa kondisi ini kemungkinan besar akan menghasilkan Pakaian dengan bahan yang jauh lebih tipis pada tahun-tahun mendatang.

Bagi pembeli seperti Kexin, tren Jelek tersebut tampaknya hanya akan mempercepat keputusannya Demi Maju merombak isi lemari pakaiannya.

Reportase tambahan oleh Luis Barrucho