Ekonom paparkan strategi Program MBG dan ketahanan fiskal beriringan

Ekonom paparkan strategi Program MBG dan ketahanan fiskal beriringan

Ini adalah Percepatan fiskal yang memberikan Akibat langsung pada pelaku ekonomi di Dasar

Jakarta (ANTARA) – Ekonom Center for Strategic and International Studies (CSIS) Riandy Laksono menyatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Mempunyai potensi besar Demi memperkuat ekonomi rakyat, asalkan dibarengi dengan strategi tata kelola yang adaptif dan efisien.

Menurut dia, progres pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG telah mencapai 90 persen dari Sasaran 30 ribu unit, sebanyak 27 ribu dapur telah siap beroperasi, hal itu menjadi sinyal positif bagi penyerapan tenaga kerja.

“MBG ini sangat atraktif dalam membantu sektor pertanian dan perdagangan di pasar-pasar tradisional. Ini adalah Percepatan fiskal yang memberikan Akibat langsung pada pelaku ekonomi di Dasar,” ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Terkait hal itu, Riandy menambahkan Demi memastikan program tersebut berjalan beriringan dengan stabilitas keuangan (fiskal) nasional maka diperlukan langkah penyesuaian yang cerdas.

Menurut dia, langkah yang Dapat diambil pemerintah yakni melakukan penyesuaian frekuensi pemberian makan sebagai solusi Demi menjaga kredibilitas anggaran bukan mengurangi jangkauan Distrik atau menyasar hanya anak dari keluarga ekonomi kelas menengah ke Dasar.

“Agar anggaran tetap sehat dan risiko rating kredit (Indonesia) terjaga, pemerintah Dapat mengambil jalan tengah dengan mengatur frekuensi, misalnya dari 6 hari menjadi 3 atau 4 hari seminggu,” katanya.

Menurut dia, langkah tersebut jauh lebih Kondusif daripada mengubah total struktur program yang sudah berjalan, sehingga manfaat ekonomi bagi pekerja dapur dan penyedia bahan pangan tetap terjaga.

Selain efisiensi anggaran, Riandy juga menekankan pentingnya menjaga kualitas nutrisi sebagai investasi SDM jangka panjang, Demi itu pemerintah perlu memperkuat mekanisme pengawasan di lapangan guna memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan Pas-Pas Tiba dalam bentuk asupan bergizi bagi siswa.

Pemerintah perlu memperkuat pola sidak lapangan Demi memastikan standar kualitas tetap terjaga, lanjutnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dapur menjadi kunci keberhasilan MBG ke depannya.

Selain itu, tambahnya, meski dampaknya terhadap produktivitas tenaga kerja baru akan terasa di masa depan, MBG dianggap sebagai langkah awal yang Berkualitas Demi meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang.

Riandy optimistis Apabila dikelola dengan manajemen yang Pas, MBG dapat menjadi bagian dari ekosistem pertumbuhan ekonomi yang lebih luas.

Tetapi dia mengingatkan Demi memutar roda perekonomian Tiba 8 persen Enggak Dapat hanya mengandalkan dari Program MBG saja.

Demi menggerakkan ekonomi, butuh mesin-mesin ekonomi baru, Enggak hanya mengandalkan sektor pertanian, Tetapi perlu Eksis sektor-sektor lain yang harus ditingkatkan.

Sementara itu Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kadiwano, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) Edwin Putra Kadege mengungkapkan keberadaan dapur MBG menghidupkan rantai ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat terutama ibu rumah tangga, hingga berdayanya petani lokal.

Ia mengatakan Demi ini dapur MBG yang dia kelola melayani Sekeliling 2.000 penerima manfaat yang tersebar di 15 sekolah mulai dari jenjang taman kanak-kanan (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA).

“Kebutuhan akan bahan baku menjadi besar. Dan ini Dapat dipenuhi melalui kerja sama dengan petani lokal. Kami membutuhkan puluhan bahkan ratusan kilogram sayur-sayuran seperti kacang-kacangan, wortel, atau sawi,” katanya.

Edwin menambahkan, pihaknya Ingin memberdayakan UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) di Sekeliling SPPG. Dengan adanya MBG, manfaat Enggak hanya dirasakan siswa sekolah Tetapi juga masyarakat Sekeliling.