Ilustrasi, BBM Biosolar/Biodiesel. Foto: Pertamina.
Jakarta: Badan Pengelola Anggaran Perkebunan (BPDP) memastikan kesiapan anggaran Buat mendukung implementasi program biodiesel 50 persen (B50) sekaligus pembiayaan subsidi solar bagi nelayan.
Direktur Penyaluran Anggaran Sektor Hilir BPDP Muhammad Alfansyah mengatakan BPDP siap mendukung kebutuhan pendanaan program tersebut. “(Soal kesiapan anggaran) BPDP siap support saja,” kata Alfansyah di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 15 Juli 2026.
Alfansyah memperkirakan kebutuhan Anggaran implementasi program biodiesel B50 pada tahun ini mencapai Sekeliling Rp32,3 triliun. Meski demikian, ia memastikan berbagai program strategis di sektor perkebunan sawit tetap memperoleh alokasi pendanaan.
Program tersebut meliputi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyediaan sarana dan prasarana (sarpras), pengembangan sumber daya Sosok (SDM), serta riset.
“Sudah saya sampaikan tadi, PSR, sarpras, riset, SDM, Bukan boleh Bukan Eksis dananya, itu Niscaya harus Eksis,” tegas Alfansyah.
Selain mendukung implementasi B50, BPDP juga menyiapkan anggaran Buat pembiayaan subsidi 400 ribu kiloliter solar bagi nelayan.
Alfansyah menjelaskan kebutuhan anggaran yang disiapkan diperkirakan kurang dari Rp1,5 triliun. Perhitungan tersebut menggunakan Opini subsidi sebesar Rp3.600 per liter dengan alokasi solar sebanyak 400 ribu kiloliter.
Skema pendanaan itu ditujukan Buat mendukung kebijakan pemerintah dalam memberikan harga bahan bakar yang lebih terjangkau bagi pelaku usaha perikanan.

(Ilustrasi B50. Foto: Gapki.id)
Harga solar nelayan dipatok Rp15 ribu/liter
Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pemberian harga Tertentu bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp15 ribu per liter bagi pengusaha nelayan yang mengoperasikan kapal berukuran 30 hingga 200 gross ton (GT).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kebijakan tersebut merupakan hasil pembahasan pemerintah Buat memberikan dukungan kepada sektor perikanan.
“Karena pengusaha nelayan ini perlu diberikan harga kekhususan, tadi dibahas bahwa harga yang disepakati adalah di harga Rp15 ribu per liter,” kata Airlangga.
Airlangga menjelaskan harga BBM nonsubsidi sebelumnya mencapai Sekeliling Rp21.300 per liter. Sementara itu, nelayan yang mengoperasikan kapal di Dasar 30 GT telah memperoleh BBM bersubsidi dengan harga Rp6.800 per liter.
Menurut Airlangga, rata-rata biaya produksi solar dalam negeri berada di kisaran Rp18.600 per liter. Selisih Sekeliling Rp3.600 per liter akan dibiayai melalui Anggaran BPDP, bukan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
