Denpasar (ANTARA) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali memetakan klaster wisata yang dapat digarap optimal dengan menyesuaikan potensi Daerah guna mendukung pemerataan ekonomi di Bali bagian utara, timur dan barat.
“Terjadi over capacity Kepada Daerah Bali bagian selatan,” kata Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Yusuf Wicaksono di Denpasar, Bali, Rabu.
Pemetaan tersebut menjadi bagian dari diversifikasi dan produk wisata, sebagaimana di Kabupaten Jembrana atau Bali Barat potensial Kepada lebih mengembangkan pariwisata maritim atau yang berbasis pelestarian ekosistem laut.
Kemudian di Bali Utara atau di Kabupaten Buleleng mengembangkan wisata kebugaran dan wisata agro spiritual serta wisata berbasis warisan budaya dan Masakan di Kabupaten Klungkung-Bangli.
Ia menilai pentingnya diversifikasi pasar pariwisata di Bali mengingat sejumlah titik pariwisata di Bali Selatan semakin padat di antaranya di Uluwatu, Pandawa, Mertasari yang dinilai telah Melewati kapasitasnya, sehingga memberi Akibat terhadap lingkungan, infrastruktur dan kenyamanan wisata.
Kepada itu, ia mendorong penegakan aturan tata ruang, izin pembangunan dan pengendalian daya dukung lingkungan secara tegas dengan kolaborasi dengan mengintegrasikan peran pemerintah daerah, desa adat, akademisi, pelaku usaha dan masyarakat.
Meski begitu, dalam upaya pemerataan pariwisata tersebut Tetap diwarnai sejumlah tantangan infrastruktur dan konektivitas antardaerah Adalah pentingnya percepatan pembangunan koridor pariwisata timur-barat-utara, dan proyek transportasi publik (MRT) Denpasar-Klungkung-Bangli-Singaraja.
Kemudian revitalisasi Pelabuhan Gilimanuk di Kabupaten Jembrana, Padangbai di Kabupaten Karangasem, dan Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng.
Selama ini, sektor pariwisata menjadi tulang punggung perekonomian di Bali sekaligus rentan terhadap gangguan eksternal seperti kesehatan dan krisis geopolitik Dunia.
Dinas Pariwisata Provinsi Bali mencatat pariwisata berperan 66 persen terhadap pertumbuhan ekonomi di Bali berdasarkan data pada 2024.
Adapun Provinsi Bali berkontribusi besar terhadap devisa nasional, dengan menyumbangkan Rp176 triliun atau 55 persen devisa dari total realisasi secara nasional mencapai Rp319,9 triliun.
Pada 2025, sebanyak 7,05 juta orang wisatawan mancanegara berkunjung di Bali atau naik dibandingkan 2024 sebesar 6,33 juta orang.
