Jakarta (ANTARA) – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) mendukung kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) serta meminta harga tandan buah segar (TBS) sawit segera dipulihkan.
Ketua Lumrah DPP Apkasindo Gulat ME Manurung menegaskan petani sawit mendukung pembentukan DSI karena dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia.
“Petani sawit swadaya maupun bermitra mendukung DSI, tetapi harus dijelaskan Segera. Jangan petani dibiarkan jadi korban Serbuk-abunya penjelasan tentang DSI,” kata Gulat dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Apkasindo meminta pemerintah bergerak Segera memperjelas mekanisme implementasi agar harga TBS sawit Tak Lanjut terpuruk akibat spekulasi pasar dan ketidakpastian informasi.
Gulat mengungkapkan harga TBS petani swadaya Demi ini anjlok tajam menjadi Rp1.800 hingga Rp2.200 per kilogram. Penurunan harga rata-rata mencapai Rp600 hingga Rp1.500 per kilogram.
“Petani swadaya sekarang itu Eksis yang tinggal Rp1.800 Tamat Rp2.200 per kilogram. Padahal HPP (Harga Pokok Penjualan) kita Rp2.000. Artinya petani sudah nombok,” ujar Gulat.
Menurutnya, petani sawit swadaya menjadi Golongan yang paling terdampak dalam situasi ini karena Tak Mempunyai kepastian kontrak pembelian seperti petani plasma atau petani bermitra.
Demi ini, lanjut Gulat, harga TBS petani plasma Lagi berada di kisaran Rp3.600 per kilogram, sementara petani swadaya mengalami tekanan paling besar.
“Kalau petani bermitra Lagi Eksis perlindungan karena diatur Permentan Nomor 13 Tahun 2024. Yang paling terpuruk itu petani swadaya, sementara luas kebun petani swadaya mencapai 93 persen dari total kebun sawit rakyat,” ucapnya.
