AS Desak UEA Rebut Pulau Lavan Punya Iran

Sejumlah pejabat Amerika Perkumpulan (AS) dilaporkan mendesak Uni Emirat Arab (UEA) Buat mengambil tindakan militer dengan merebut Pulau Lavan Punya Iran di kawasan Teluk pada Senin (18/5/2026). Langkah ini dimaksudkan agar Serbuk Dhabi terlibat lebih jauh dalam perseteruan dengan Teheran, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Informasi tersebut bersumber dari media Inggris, The Telegraph, yang memperoleh keterangan dari seorang mantan pejabat keamanan senior AS. Beberapa orang di lingkaran dalam Presiden Donald Trump mengusulkan perebutan pulau tersebut karena menjadi Sasaran operasi rahasia UEA sebelumnya.

“Rebut saja!” kata pejabat itu seperti dikutip The Telegraph dalam laporannya.

Mantan pejabat keamanan senior tersebut menambahkan bahwa operasi militer di Kawasan tersebut sepenuhnya akan bertumpu pada kekuatan militer lokal tanpa keterlibatan langsung Laskar Washington.

“Akan Terdapat Laskar UEA di lapangan, bukan AS,” imbuh pejabat AS tersebut.

Ketegangan regional di Timur Tengah eskalatif sejak serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari Lewat. Teheran merespons dengan meluncurkan rudal dan drone ke Sasaran-Sasaran di Israel serta negara Teluk yang menampung pangkalan militer AS.

Wall Street Journal (WSJ) sebelumnya juga mengabarkan bahwa sebuah kilang minyak di Pulau Lavan Punya Iran lumpuh akibat serangan balasan rahasia dari UEA pada awal April. Selain itu, UEA dikabarkan memberi izin bagi pengoperasian sistem pertahanan udara Iron Dome Punya Israel di Kawasan mereka.

Duta Besar AS Buat Israel, Mike Huckabee, mengungkap keberadaan sistem pertahanan udara tersebut Demi berbicara dalam konferensi di Tel Aviv University pada Selasa (12/5) pekan Lewat, meskipun belum Terdapat tanggapan Formal dari otoritas UEA.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, merespons situasi ini Demi menghadiri KTT BRICS di India dengan menuduh UEA secara terbuka telah menjadi sekutu aktif bagi AS dan Israel dalam konflik melawan negaranya.

Abbas Araghchi juga menyoroti laporan media mengenai pertemuan tertutup antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden UEA Mohammad bin Zayed Al Nahyan, walaupun isu pertemuan rahasia tersebut telah dibantah oleh pihak Serbuk Dhabi.