AS Akhiri Blokade Selat Hormuz Setelah Letih Kesepakatan Damai

Jalur pelayaran di Selat Hormuz mulai kembali beroperasi normal setelah Amerika Perkumpulan mengumumkan penghentian blokade militer seiring berlakunya kesepakatan perdamaian sementara dengan Iran pada Jumat, 19 Juni 2026. Langkah ini menandai dimulainya negosiasi intensif mengenai program nuklir Teheran selama 60 hari ke depan.

Pemulihan arus Lewat lintas maritim ini diperkirakan akan meredakan ketegangan pasokan Daya Mendunia, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa pasukannya Tak Tengah menghalangi kapal komersial yang menuju atau meninggalkan pelabuhan-pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.

Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan bahwa tenggat waktu Kepada merampungkan detail nota kesepahaman yang ditandatangani pada Rabu malam kini sudah mulai berjalan. Ia juga menepis kekhawatiran mengenai potensi penerapan bea masuk oleh Iran di jalur perairan Global tersebut.

“Pertama-tama, kami percaya bahwa jalur perairan Global harus bebas dari bea masuk,” kata Wakil Presiden AS JD Vance.

Pemerintah AS menekankan bahwa pembukaan selat ini bersifat mutlak bagi kelanjutan proses diplomasi kedua negara di masa depan.

“Apabila selat tersebut Tak dibuka, “Tak akan Eksis kesepakatan akhir.”” ujar Wakil Presiden AS JD Vance.

Di media sosial, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pasokan minyak kini telah kembali mengalir setelah penutupan selat oleh Iran sebelumnya sempat memicu lonjakan harga Daya Mendunia. Penutupan jalur laut tersebut sempat meningkatkan risiko krisis ekonomi di kawasan Timur Tengah sejak pecahnya konflik pada akhir Februari Lewat.

Pengaruh kesepakatan ini langsung terlihat pada aktivitas pasar, di mana harga minyak mentah Brent Kukuh di kisaran US$79 per barel, turun dari posisi puncaknya yang Dekat menyentuh US$95. Kapal-kapal tanker yang mengangkut Sekeliling 10 juta barel minyak dilaporkan mulai bergerak melewati selat, termasuk kapal Punya Arab Saudi.

Kendati demikian, kesepakatan ini memicu gelombang kritik dari Golongan konservatif di AS serta pemerintah Israel. Senator Mississippi Roger Wicker mengecam alokasi Anggaran rekonstruksi ekonomi Kepada Iran yang dinilai terlalu besar dibandingkan kesepakatan era pemerintahan Obama pada 2015.

“Secara Tertentu, Anggaran sebesar $300 billion Kepada rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran – meskipun Tak didanai oleh pembayar pajak AS – akan Membikin pembayaran kepada Iran berdasarkan kesepakatan Presiden Obama tahun 2015 terlihat seperti jumlah yang sangat kecil Apabila dibandingkan,” kata Senator Mississippi Roger Wicker, Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat.

Kritik serupa datang dari kabinet Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menganggap perjanjian ini memberikan terlalu banyak kelonggaran finansial tanpa menyentuh program rudal balistik Iran. Menanggapi ketegangan Interaksi diplomasi tersebut, Vance mengingatkan Israel Kepada tetap menjaga Interaksi dengan sekutu utamanya.

“Apabila saya berada di kabinet pemerintah Israel, saya mungkin Tak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang tersisa di seluruh dunia,” kata Wakil Presiden AS JD Vance.

Pihak Gedung Putih menilai bahwa posisi AS Begitu ini berada di atas angin karena Denda dan konflik telah melemahkan fondasi ekonomi serta program nuklir Teheran secara signifikan.

“Masalah bagi Israel bukanlah Donald J. Trump, dan siapa pun di Israel yang berpikir bahwa masalah terbesar mereka adalah Presiden Amerika Perkumpulan perlu bangun dan menyadari realita situasi yang dihadapi negara tersebut.” ujar Wakil Presiden AS JD Vance.

Di sisi lain, Trump sempat menyatakan kesiapan AS Kepada memberikan dukungan militer terbatas Apabila Israel memutuskan Kepada mengambil tindakan Berdikari terhadap Iran.

“Apabila itu bukan serangan yang signifikan — tentu saja.” kata Presiden AS Donald Trump Begitu menjawab pertanyaan media mengenai potensi serangan Berdikari Israel.

Berdasarkan salinan Berkas yang dirilis Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Teheran sepakat membebaskan biaya jalur kapal komersial selama 60 hari. Proses pemulihan Lewat lintas maritim ini ditargetkan rampung sepenuhnya dalam kurun waktu 30 hari melalui koordinasi Serempak Oman.

Gedung Putih menegaskan bahwa Sasaran Primer AS dalam konflik ini telah tercapai, dan keberhasilan negosiasi selanjutnya sepenuhnya bergantung pada perubahan sikap politik Iran.

“Iran telah melemah, program nuklirnya hancur, ekonominya dalam keadaan yang sangat sulit, dan Apabila mereka mengubah perilaku mereka, hal-hal besar akan terjadi bagi Iran dan bagi dunia,” kata Wakil Presiden AS JD Vance.

AS optimistis kesepakatan jangka pendek ini tetap menguntungkan posisi geopolitik mereka di Timur Tengah, terlepas dari hasil akhir pembahasan Restriksi pengayaan uranium nanti.

“Apabila Tak, Tak Eksis ruginya bagi kita — bagaimanapun juga, kita menang. Dan itulah Langkah presiden mengatur kesepakatan dan negosiasi ini.” ujar Wakil Presiden AS JD Vance.