Ilustrasi. Foto: Dok MI
Jakarta: Nilai Ubah (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Perkumpulan (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah melemah di tengah tingginya ekspektasi kenaikan Etnis Merekah Federal Reserve (Fed).
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 22 Juli 2026, nilai Ubah rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.917 per USD. Mata Dana Garuda tersebut turun 29 poin atau setara 0,16 persen dari posisi Rp17.888 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.875 per USD. Rupiah juga melemah sebanyak 29 poin atau setara 0,16 persen dari Rp17.904 per USD di penutupan perdagangan sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs Surat keterangan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.909 per USD. Rupiah bergerak datar, sama dengan perdagangan sebelumnya.
Kenaikan Etnis Merekah The Fed
Analis pasar Dana Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi tingginya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan meningkatkan Etnis Merekah pada 2026.
Ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan meningkatkan laju kenaikan Etnis Merekah pada tahun 2026 meningkat tajam, didorong oleh harga minyak yang tinggi karena gangguan pasokan di Teluk memicu kekhawatiran inflasi dan memicu spekulasi tentang Etnis Merekah yang lebih tinggi Buat jangka waktu yang lebih lelet, ucapnya, dikutip dari keterangan tertulis di dikutip dari Antara di Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.
Data Prime Terminal menunjukkan probabilitas sebesar 78 persen bahwa The Fed akan mempertahankan Etnis Merekah tetap Konsisten pada pertemuannya pekan depan. Sementara, kemungkinan kenaikan Etnis Merekah pada bulan September berada di Sekeliling 68 persen.

(Ilustrasi. MI/Ramdani)
Kenaikan ekspektasi ini dipicu konflik militer yang Lalu berlangsung antara AS dengan Iran, yang memasuki hari ke-11. Selain itu, investor turut memantai gerakan Houthi Yaman yang mengancam blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi di Laut Merah. Hal ini Membangun beberapa kapal tanker minyak mengubah rute dan menimbulkan kekhawatiran atas ekspor dari salah satu pemasok minyak mentah terbesar di dunia.
Ancaman blokade ini muncul ketika Lewat lintas maritim telah terganggu oleh permusuhan di Sekeliling Selat Hormuz, jalur Krusial bagi pengiriman minyak Mendunia, yang menambah kekhawatiran bahwa gangguan yang berkepanjangan dapat semakin mengurangi pasokan yang tersedia dan meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi, kata Ibrahim.
BI pertahankan BI Rate
Menonton sentimen domestik, Bank Indonesia memutuskan Buat menahan BI-Rate di level 5,75 persen. Bersamaan dengan keputusan ini, BI menetapkan Etnis Merekah Deposit Facility sebesar 25 basis points (bps) menjadi 4,75 persen, dan Etnis Merekah Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,5 persen.
Dengan keputusan menahan Etnis Merekah acuan ini, lanjutnya, BI mendorong kebijakan lain, yakni pemberian Bonus guna mendorong arus modal asing ke pasar Dana Indonesia dalam rangka tetap menjaga stabilitas nilai Ubah rupiah.
BI memperluas kebijakan Bonus dan sejumlah kebijakan lain Buat meningkatkan Jenis masuk portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai Ubah rupiah, mempercepat pendalaman pasar Dana dan pasar valas serta meningkatkan likuiditas, ungkap dia.
