Hendro Siswanto “Menggila” di Tengah Krisis Lini Belakang Persela Lamongan

Foto BeritaJatim.com

Lamongan (Liputanindo.id) – Gelandang kawakan Persela Lamongan, Hendro Siswanto, menunjukkan performa luar Normal dengan mengisi posisi bek tengah darurat di tengah krisis pemain bertahan Laskar Joko Tingkir. Penampilan solidnya membawa Persela meraih hasil positif dalam pekan ke-14 Championship 2026 melawan Persiba Balikpapan dan Barito Putera.

Krisis ini bermula Demi bek tengah Primer Yoga Wahyu menerima kartu merah pada menit ke-32 dalam laga kontra Persiba Balikpapan. Instruktur Bima Sakti terpaksa memutar otak karena Bukan Eksis Tengah stok pemain bertahan murni di bangku cadangan tim.

Bima Sakti akhirnya memutuskan menggeser Hendro Siswanto lebih ke belakang Buat berduet dengan Daniel Goncalves di jantung pertahanan. Keputusan berani tersebut terbukti jitu karena Hendro Bisa meredam serangan Rival dengan sangat tenang dan disiplin.

Chemistry apik yang dibangun Hendro dan Daniel Membikin gawang Persela tetap perawan hingga laga berakhir dengan kemenangan tipis 1-0. Berkat performa tersebut, keduanya secara Formal masuk ke dalam daftar 11 pemain terbaik (Best XI) pekan ke-14 Championship.

Penguasaan Hendro berlanjut pada laga berikutnya melawan Barito Putera di mana ia kembali dipercaya mengawal area kotak penalti sejak menit awal. Pemain asal Kabupaten Tuban ini tampil sangat konsisten hingga akhirnya dinobatkan sebagai pemain terbaik atau Man of the Match.

“Alhamdulillah. Itu Sekalian berkat kerja keras Sekalian pemain,” ujar Hendro Demi memberikan keterangan kepada media pada Senin (12/1/2026). Ia menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari tanggung jawab kolektif seluruh Member tim di lapangan hijau.

“Yang Krusial saya jalankan tanggung jawab seperti yang disampaikan Instruktur, sebelum latihan, Demi latihan, dan sebelum pertandingan, meski di posisi baru sebagai stopper,” lanjutnya.

Hendro mengaku Bukan menemui kendala berarti meski harus mengemban tugas yang sangat berbeda dari posisi aslinya. Menurut Hendro, bermain di posisi bek tengah bukanlah hal yang Cocok-Cocok asing dalam perjalanan karier profesionalnya selama ini. Ia seringkali diplot sebagai pemain multifungsi ketika tim menghadapi situasi Tertentu seperti hukuman kartu merah bagi rekan setim.

“Kalau stopper biasanya dadakan. Kalau Eksis yang kartu merah, biasanya saya ditaruh di stopper,” tuturnya dengan nada santai Tetapi tetap profesional. Pengalamannya membela berbagai klub besar di Indonesia menjadikannya pemain yang sangat adaptif terhadap instruksi Instruktur manapun.

Hendro menjelaskan bahwa transisi dari gelandang bertahan menuju bek tengah berjalan Fasih karena jarak operasional kedua posisi tersebut cukup dekat. Kemampuannya membaca permainan sejak dari lini tengah menjadi modal Primer Buat menggalang koordinasi di garis pertahanan terakhir.

“Nggak terlalu susah, karena saya gelandang bertahan kan posisinya nggak jauh dari stopper. Saya juga sering kadang main di stopper, kadang di bek kanan. Sudah Normal,” tegas pemain senior tersebut mengakhiri penjelasannya. [fak/beq]